Rabu, 25 November 2009

Yang Manakah Anda.... ?

Siapakah orang yang sibuk ?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil pusing akan waktu shalatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.

Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata, "Ya Rabbi Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan Tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada senantiasa menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan kemana mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah orang yg bijak?
Orang yg bijak ialah org yg tidak membiarkan atau membuang tulisan ini begitu saja, malah dia akan menyampaikan pula pada org lain untuk dimanfaatkan dan mengambil contoh sebagai sandaran dan pedoman kehidupan sehari-hari.

Senin, 16 November 2009

Mari Kita Renungkan....

1. Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia.... Allah tau betapa kau telah berjerih payah.

2. Jika kau telah menangis sekian lama dan hatimu terasa perih... Allah telah menghitung dentingan air matamu.

3. Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menanti sesuatu dan waktu serasa berlalu... Allah sedang menanti bersamamu.

4. Jika kau MERASA SENDIRIAN dan Saudara-Saudaramu SIBUK dengan banyak urusan... Allah senantiasa berada di dekatmu.

5. Ketika kau berpikir, kau sudah mencoba segalanya dan tak tau harus berbuat apa lagi... Alloh selalu punya jawabnya.

6. Ketika segala sesuatu tidak masuk akal dan kau merasa sangat tertekan... Alloh mampu menenangkanmu.

7. Jika kau merasa ada jejak-jejak harapan terbesit di hatimu... Allah sedang berbisik kepadamu.

8. Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kamu merasa ingin mengucap syukur... Allah telah memberkahimu.

9. Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mempunyai mimpi untuk digenapi... Allah telah membuka dan memanggilmu dengan namamu.

10. Ketika sesuatu yang indah terjadi dan engkau dipenuhi ketakjuban... Allah telah tersenyum padamu.

Ingatlah Saudaraku...
Dimanapun engkau, kemanapun engkau dan kapanpun engkau menghadap... Allah TAU !!!
Mari mendekat pada Allah lebih dekat. Agar tunduk kala yang lain angkuh. Agar teguh kala yang lain runtuh. Agar tegar kala yang lain terlempar.
Rapatkan Shaf!, Bangkitkan Ghiroh-mu (semangat) demi Dien (Agama) kita Islam yang mulia serta jangan futur dan terlena dalam dunia yang penuh badai fitnah dan syahwat serta Kemusyrikan dan Kemaksiatan juga penuh dengan Fatamorgana ini,
Marilah kita mendekatkan diri kepada Allah Rabb kita yang menciptakan kita dan mematikan kita.
ALLAHU’ AKBAR.
Mari kita bersama berlomba-lomba meraih Shirathul Mustaqiem (Jalan yang lurus) yang membawa kita kepada jalan Allah Ta’ala jangan melalui jalan yang tidak diridhai Allah Azza Wa Jalla karena akan mendapatkan adzab-Nya yang sangat pedih.

===========================================================================>>>>
Telah kutemukan jawabannya

Minggu, 08 November 2009

Berkaca Dalam Gelap

Pernahkah engkau berkaca dalam gelap?? Aku pernah
Tahukah engkau apa yang terlihat di sana? Tidak ada
Bukan..bukan seperti dalam film-film hantu itu, aku tidak punya bayangan
Karena untuk melihat dirimu dalam cermin kau memerlukan cahaya
Setitik saja cukup untuk menggambarkan dirimu

Kawan...tahukah engkau dirimu adalah setitik cahaya bagiku
Dengannya aku bercermin buruk diri untuk diperbaiki

Kawan...kini ku berkaca dalam gelap
Hingga ku tak tahu apa yang telah hilang

Kau pergi meninggalkanku sendiri di sini
Mungkinkah aku yang tak sanggup menyertaimu lagi?

Kawan...satu pintaku
Mohonkan kekuatan dan ketegaran untukku
Meski kini sendiri ku tetap dalam cahayaNya

Ilaa Ukhtina Habibah

Voa-Islam - Ingin kami ucapkan beberapa kalimat kepadamu ukhti. Lewat surat ini, dari kami yang berada di bawah desingan peluru musuh dan gelegar ledakan roket, juga dari kami yang kini terpaksa meringkuk di balik jeruji besi hanya karena kami menyatakan bahwa “Tuhan Kami Adalah Allah”, untukmu Ukhti Muslimah… karena kau adalah permata. Kau juga perhiasan mulia yang melengkapi keindahan ajaran Nabi Shalallahu "Alahi Wasallam. Beberapa kalimat yang kami tulus keluar dari lubuk hati kami sebagai saudara yang bersama melaju ke arah yang satu. Demi menyelamatkanmu dari cakaran manusia serigala berbulu domba.


Ukhti Muslimah….!!! Kami tidak akan membawa sesuatu yang baru, semoga kau tidak bosan mendengarnya…. walau rasanya sudah berkali-kali kami ingatkan bahwa tiada agama manapun yang lebih memuliakan wanita sebagaimana Islam. Jika kau masih tidak percaya, lihatlah pada sejarah .. apa yang dilakukan oleh penghuni zaman jahiliyah terhadap kaummu, bukankah mereka menguburmu hidup-hidup hanya karena takut jatuh miskin atau durhaka?

Entah apa yang mereka cari. Betapa jauh mereka menghinakanmu. Betapa buruknya gambaranmu di mata mereka. Bagi mereka, kau tidak lebih dari sekerat tebu segar, yang setelah manis sepah dibuang…. Kemudian belum puas dengan itu mereka masih melolong bahwa Islam menzalimi hak-hak wanita…sungguh sebuah penyesatan dan pendustaan yang nyata.

Bukankah engkau adalah yang paling banyak diperjual belikan bagai barang rongsokan, sebagai hamba sahaya di zaman kerajaan Romawi? Bahkan hingga kini….. di suatu zaman yang mereka juluki zaman kebebasan dan kemerdekaan, mereka teruskan tradisi itu. Hanya saja,… kini mereka bungkus dengan kata kontes ratu kecantikan, yang memperlombakan ukuran tubuh terbaik bagi para lelaki hidung belang.


Ukhti Muslimah….!!! Usaha perbaikan dirimu adalah sebuah cita-cita abadi dan tujuan yang mulia serta harapan seluruh Arsitek bagi proyek perbaikan umat. Karena mereka tahu, kunci perbaikan umat ini ada pada dirimu, jika dirimu baik…maka baiklah seluruh umat ini.

Demi Allah..!!! berpeganglah dengan tali ajaran agama ini. Laksanakan segala perintahnya. Jangan langgar larangannya, apalagi mempersempit hukum haramnya. Karena semua itu hanya akan lebih mengekang kehidupanmu sendiri. Karena tiada keadilan yang lebih luas dari keadilan Islam terhadapmu dan kaummu. Jika kau lari dari keadilan Islam, kau hanya akan menemui kedzaliman dunia terhadap hak-hak kehidupanmu. Berpeganglah sebagaimana Umahatul Mukminin mencontohkannya dalam kehidupan sehari hari mereka. Teladani isteri-isteri para sahabat dan kaum Muslimin yang telah membuktikan nilai keindahan permatamu.



Ukhti Muslimah…!!! Ketahuilah agama ini bukan hanya di mulut, tetapi ia menuntut adanya amal nyata. Laksanakan perintah-perintahnya dan jauhi larangan-larangannya, walaupun tanpa kalimat “jangan”.

Sesungguhnya kamu tidak perlu pengakuan timur dan barat karena kemuliaanmu dan harga dirimu telah ada sejak kau di lahirkan, dan bagi kami wahai Ukhti Muslimah,.. kau lebih mulia dari sekadar makhluk yang tergoda gemerlapnya dunia dan jeritan pekikan mungkar yang di sifatkan dengan “suara keledai” (Qs. Luqman 19) oleh Sang Maha pencipta.

Kami tak rela melihatmu tenggelam dalam tipuan mereka yang selalu ingin menghinakanmu dengan berpura-pura memujimu, tetapi melucuti pakaian dan menelanjangimu di depan mata jutaan bahkan milyaran manusia di dunia.

Mereka hanya menginginkan kehormatanmu sama seperti binatang yang memang tidak pernah berpakaian.

Mereka hanya menginginkanmu mencoreng-coreng mukamu dengan polesan-polesan yang merusak wajah aslimu yang indah hasil ciptaan yang Maha Indah.

Mereka hanya ingin menjadikanmu pemuas nafsu setan-setan jantan berhidung belang. Mereka hanya ingin menjadikanmu bagaikan tong sampah yang hanya diisi benih-benih buruk dan tercela.

Demi Allah kami tidak rela. Karena bagi kami kau sangat berharga, bagi kami kau adalah pelengkap kehidupan duniawi dan Ukhrawi, maka besar jualah harapan kami padamu…


Ukhti Muslimah….!!! Seorang Muslimah tidak pantas untuk menjadi keranjang sampah yang menampung berbagai budaya hidup dan akhlak yang buruk. Apalagi budaya barat dengan berbagai kebiasaannya yang terlihat kotor dan menjijikkan itu.

Seorang Muslimah harus mandiri dalam memilih cara hidupnya sendiri, tentu semuanya berangkat dari acuan “Firman Allah” dan “Sabda Nabi-Nya Shalallahu "Alahi Wasallam.”

Seorang Muslimah selalu ingat bahwa pada suatu hari dahulu Rasulullah Shalallahu "Alahi Wasallam. Pernah bersabda: “Barang siapa yang meniru (kebisaaan) suatu kaum, maka ia (termasuk) golongan mereka”. Maka ia sangat berhati hati dan kritis dalam menentukan tatacara hidup, berpakaian, dan bermu’amalah.

“Barang siapa yang meniru (kebisaaan) suatu kaum, maka ia (termasuk) golongan mereka”. al-hadits.


Ukhti Muslimah….!!! Engkau adalah puncak. Engkau juga kebanggaan dan lambang kesucian. Engkau menjadi puncak dengan Al-Qur’an. Dan menjadi kebanggan dengan Iman serta lambang kesucian dengan hijabmu dan berpegang pada ajaran agama ini. Lalu mengapa ada lambang kesucian yang malah meniru cara hidup yang najis.

Bagi umat ini, Ibu adalah Madrasah terbaik jika ia benar benar sudi mempersiapkan dan mengajari serta mendidik generasinya. Kiprah seorang Ibu dalam membentuk generasi Umat terbaik dan Mujahid penyelamat serta pengawal hukum hakam Allah adalah sangat penting.

Lihatlah para pahlawan kita, mereka yang telah membuktikan dengan nyataa keberanian dan keikhlasan mereka dalam memperjuangkan tegaknya Kalimatullah… mereka semua tidak lepas dari sentuhan lembut para ibu yang dengan sabar dan tanpa bosan terus mendidik mereka untuk menjadi mahkota bagi agama ini. Sadarilah!!!!

Kewajiban seorang ibu bukan hanya memilihkan pakaian yang sesuai bagi anaknya atau memberikan makanan yang terbaik baginya. Sungguh tanggung jawab ibu jauh lebih besar dari sekadar itu semua, karena itulah kami sangat memerlukan seorang Isteri dan ibu yang bisa mendidik anaknya dengan dien Allah dan Sunnah Nabi-Nya Shalallahu 'Alahi Wasallam.

Kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anak perempuannya untuk menutup auratnya dan berhijab dengan baik. Mendidiknya untuk mempunyai sikap malu dan berakhlak mulia. Kami tidak sedikitpun membutuhkan wanita yang hanya bisa mendidik anaknya untuk bertabarruj dan bernyanyi serta menghabiskan waktunya bersama televisi dan film-film yang berisi "Binatang-binatang" yang di puja.

Kami juga tidak membutuhkan wanita yang hanya bisa membiasakan anak perempuannya berpakaian mini sejak kecil. Di mata kami wanita seperti itu bukanlah seorang Ibu, tetapi ia lebih tepat untuk di sebut sebagai racun bagi kehidupan anaknya sendiri. Ibu yang seperti itu tidak bertanggung jawab dan pengkhianat umat dan agama ini, serta menzalimi anaknya sendiri.

Kami memerlukan wanita suci yang bisa mengajari anak-anaknya taat kepada Rabbnya, karena melihat ibunya selalu ruku’ dan sujud.

Kami memerlukan seorang ibu yang bisa memenuhi rumahnya dengan alunan suara Al Qur’an bukan alunan suara-suara setan atau namimah serta ghibah yang sangat dibenci oleh Allah dan RasulNya, supaya rumahnya menjadi rumah yang sejuk dan tenang serta bersih dari unsur unsur najis nyata atau maknawi.

Kami memerlukan wanita yang dapat mengajari anak-anaknya untuk selalu bertekad mencari Surga Allah bukan hanya mengejar kenikmatan harta dunia.

Kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anaknya untuk siap melaksanakan Jihad fi Sabilillah serta menyatakan permusuhannya kepada musuh-musuh Allah.

Kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anaknya untuk mendapatkan kehidupan abadi di sisi Rabbnya sebagai Syahid dalam perjuangan membela kalimatullah yang mulia.


Ukhti Muslimah….!!! Kami memerlukan wanita yang selalu mengharap pahala dalam melayani suaminya, hingga ia selalu taat dan menghiburnya serta tidak pernah sedikitpun ingin melihat wajah murung sedih sang suami.

Kami memerlukan wanita yang selalu menjaga dien anak-anaknya sebagaimana ia selalu menjaga kesehatan mereka. Salam hormat dari kami….

Salam hormat dari kami Kepada wanita yang sukses menjaga hubungannya dengan Rabbnya. Dapat beristiqomah pada Diennya. Dan dapat mempertahankan hijabnya di tengah badai cercaan lisan mereka yang jahil.



Salam hormat dari kami….. kepada wanita yang selalu tegas menjaga dirinya dari ber-Ikhtilat dengan lawan jenisnya yang bukan mahramnya, dan menjaga dirinya dari pandangan lelaki yang di hatinya masih ada penyakit dan lemah. Salam hormat kepada wanita yang selalu menjaga agar dirinya tidak menjadi pintu masuk bagi dosa dosa dari berbagai jenis perzinaan.

Salam hormat dari kami….. Kepada wanita yang selalu sigap menutupi keindahan tubuh dan wajahnya dengan hijab tetapi selalu memperindah diri di hadapan sang suami tercinta. Ia tahu bagaimana menjaga dirinya dengan tidak bepergian sendiri agar tetap terlihat mulia bahwa ia adalah wanita yang terjaga.



Demi Allah Ukhti …. Wanita-wanita yang seperti itulah kebanggan umat ini, mereka juga perhiasan masyarakat Islami, karena siapa lagi yang akan menjadi kebanggan itu kalau bukan mereka? Bukan wanita yang selalu mengumbar aurat lengkap dengan berbagai polesan Tabarruj dan potongan-potongan pakaian yang menjijikkan ditambah lagi cara berjalan yang meliuk-liuk bagaikan unta betina itu.

Bukan pula wanita yang waktunya habis di pasar-pasar malam dan Supermarket atau Mal? Kehidupannya hanya untuk melihat harga ini dan harga itu, toh semuanya juga tidak terbeli…. Bagi kami mereka adalah perusak kesucian Islam, mereka tidak pantas menyandang nama mulia sebagai “Muslimah” karena mereka justeru melakukan pembusukan dari dalam.



Ukhti Muslimah…!!! Ingatlah bahwa kehidupan dunia ini hanya sebuah persinggahan, bersiaplah untuk meneruskan perjalanan ke negeri abadi, jangan sampai engkau lena…

Persiapkanlah bekalmu dengan memperbanyak amal sholeh, sebagaimana kau persiapkan dirimu dengan baik jika kau akan berangkat menghadiri pesta penikahan atau bepergian ke tempat teman atau saudaramu.

kini kau pasti akan melakukan suatu perjalanan yang tidak dapat kau elakkan lagi, hari dan waktunya pasti datang…lalu apakah engkau telah siap..???? kau akan melakuakn suatu perjalanan yang membawamu hilang dari ingatan seluruh manusia, baik saudara atau sahabat, tetapi sebenarnya kau masih bisa mengabadikan namamu jika kau ingin melakukannya, tirulah apa yang di lakukan oleh Masyitah, atau Asiah (isteri Fir’aun), atau Mariam binti Imran Ibu Nabi Isa yang mulia, atau A’isyah binti Abu Bakar Radhiallahu 'Anha. Yang telah membuktikan kepada dunia akan harga diri seorang wanita serta kejeniusannya.

Lihatlah betapa nama mereka harum dan kekal, namanya pasti kan sampai ke telinga orang terakhir yang terlahir di bumi ini nanti. Sebagai bukti bahwa sang pemilik nama juga sedang hidup kekal bahagia di Jannah Rabbil Alamin.

Tetapi coba bandingkan dengan mereka yang tertipu dengan gemerlap dunia, apalagi ia menjadi terkenal hanya karena ia terlalu berani mengumbar auratnya, atau ia berani memasang tarif yang tinggi untuk harga dirinya, apakah semua itu memberinya manfaat setelah mulutnya dipenuhi dengan tanah di liang kubur?



Berhati hatilah..jangan sampai kau terjerumus pada jurang yang sama, hingga kau akan menyesal di hari yang sudah tiada berguna lagi arti sebuah penyesalan.

Ikhwanukunna Fillah, Mujahid Fi Sabilillah.



Oleh : Abu Ikrimah Al-Bassam

Senin, 14 September 2009

Indonesia itu hebat!

Tapi knapa bangsa ini tidak sadar ya?
Banyak prestasi spektakuler Indonesia yg diketahui luar, tapi bangsa sendiri? tidak peduli...

Juara hukum international, juara peneliti muda internasional, robot internasional, juara software international, yang saingannya negara maju termasuk USA.. kmaren baru raih emas olimpiade biologi, n ini lebih spektakuler. .. Indonesia buat roket sendiri!


Roket RX-420 & CN-235 Militer: Getarkan Australia, Singapura, Malaysia
Oleh Cardiyan HIS

Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang sebenarnya. Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.

Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.

Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.

Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member "Asian Satellite Club" bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.

Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.

CN 235 Versi Militer

Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah..

Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.

Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa: “Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu

berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.

tantodikdik.multiply.com

Rabu, 19 Agustus 2009

Anak Harus Paham, Ada Agama Selain Islam

Bismillahirrahamanirrahim

Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka akanmengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Ada seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasikan kepada murid dengan satu ungkapan: “hari libur nasional”. Apa pun liburnya! Sungguh, sebuah usaha yang serius!

Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non- Muslim. Begitu tahu anak itu bukan Muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.

Tetapi ini belum seberapa. Ada peristiwa lain yang lebih memilukan. Suatu hari salah seorang muridnya mengalami peristiwa “mencengangkan”. Ia berjumpa seorang non-Muslim, yang akhlaknya sangat baik. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga menimbulkan kesan mendalam bahwa ada agama selain Islam dan agama itu baik karena orangnya sangat baik.

Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Semangat saja tidak cukup. Mendidik tanpa semangat memang membuat ucapan-ucapan kita kering tanpa makna. Tetapi keinginan besar menjaga akidah anak tanpa memahami bagaimana seharusnya melakukan tarbiyah, justru bisa membahayakan. Alih-alih menumbuhkan kecintaan pada agama, justru membuat anak terperangah ketika mendapati pengalaman yang berbeda. Beruntung kalau anak mengkomunikasikan, kita bisa meluruskan segera. Kalau tidak? Kekeliruan berpikir itu bisa terbawa ke masa-masa berikutnya, hingga ia dewasa. Na’udzubillahi min dzaalik.

Hanya Islam yang Allah Ridhai

Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak bangga dengan agamanya, sehingga ia akan belajar meyakini dengan sungguh-sungguh? Tunjukkan kepadanya kesempurnaan agama ini. Yakinkan kepada mereka bahwa inilah agama yang paling benar melalui pembuktian yang cerdas. Sesudah melakukan pembuktian, kita ajarkan kepada mereka untuk percaya pada yang ghaib dan menggerakkan jiwa mereka untuk berbuat baik. Hanya dengan meyakini bahwa agamanya yang benar, mereka akan belajar bertoleransi secara tepat terhadap pemeluk agama lain. Tentang ini, silakan baca kembali kolom parenting bertajuk Ajarkan Jihad Sejak Dini di majalah Suara Hidayatullah kita ini.

Dalam urusan akidah, ajarkan dengan penuh percaya diri firman Allah Ta’ala: “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. ” (Al-Maa’idah [5]: 3).

Melalui penjelasan yang terang dan mantap, anak mengetahui bahwa agama di dunia ini banyak jumlahnya, tapi hanya satu yang Allah Ta’ala ridhai. Baik orangtua maupun guru perlu menunjukkan kepada anak sejarah agama-agama sehingga anak bisa memahami mengapa hanya Islam yang layak diyakini dan tidak ada keraguan di dalamnya. Jika anak tidak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka dapat mengalami kebingungan mengapa hanya Islam yang Allah ridhai.

Pada gilirannya, ini bisa menggiring anak-anak secara perlahan menganggap semua agama benar. Apalagi jika orangtua atau guru salah menerjemahkan. Beberapa kali saya mendengar penjelasan yang mengatakan Islam sebagai agama yang paling diridhai Allah. Maksudnya baik, ingin menunjukkan bahwa Islam yang paling sempurna, tetapi berbahaya bagi persepsi dan pemahaman anak. Jika Islam yang paling diridhai Allah, maka ada agama lain yang diridhai dengan tingkat keridhaan yang berbeda-beda. Ini efek yang bisa muncul pada persepsi anak.

Kita perlu memperlihatkan pluralitas pada anak bahwa memang banyak agama di dunia ini, sehingga kita bisa menunjukkan betapa sempurnanya Islam. Mereka menerima pluralitas (kemajemukan) agama dan bersikap secara tepat, sebagaimana tuntunan Rasulullah. Tetapi bukan pluralisme yang memandang semua agama sama.

Berislam dengan Bangga

Setelah anak meyakini bahwa Islam agama yang sempurna dan satu-satunya yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla, kita perlu menguatkan mereka dengan beberapa hal.

Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi Muslim di dada mereka. Sejak awal kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang Muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar terhadap agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim dengan penuh percaya diri, “Isyhadu bi anna muslimun.” Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim!

Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitasnya sebagai Muslim, baik yang bersifat fisik, mental dan cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam; bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, tetapi untuk menemukan apa yang sudah ada pada generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah Saw dan sekarang nyaris tak kita temukan pada sosok kaum Muslimin di zaman ini.

Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala’ wal bara’ sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi hanya karena berpapasan dengan orang-orang kafir yang sedang berjalan dari arah lain. Bukan berarti arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita, sehingga tidak menyingkir karena gemetar. Sikap ini sangat perlu kita tumbuhkan agar kelak mereka sanggup bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Ta’ala pada Surat Al-Maa’idah ayat 54. “… bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.”

Berislam dengan Ihsan

Jika percaya diri sudah tumbuh, kita ajarkan kepada mereka sikap ihsan. Kita tunjukkan kepada anak-anak itu bagaimana seorang Mukmin dapat dilihat dari kemuliaan akhlak dan lembutnya sikap. Ada saat untuk tegas, ada saat untuk menyejukkan. Bukan untuk menyenangkan hati orang-orang kafir karena hati yang lemah dan diri yang tak berdaya, tetapi karena memuliakan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Bukankah Rasulullah berdiri menghormat ketika jenazah orang kafir diantar ke tanah pekuburan? Bukankah Shalahuddin Al-Ayyubi, salah seorang panglima yang disegani dalam sejarah Islam, memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik dan penuh kasih sayang ketika musuh sudah tidak berdaya?

Dorongan untuk Berdakwah

Agar anak-anak itu memiliki percaya diri yang lebih kuat sebagai seorang Muslim, kita perlu tanamkan dorongan untuk menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebenaran. Ini sangat penting untuk menjaga anak dari kebingungan terhadap masalah keimanan dan syariat. Tidak jarang anak mempertanyakan, bahkan mengenai sesama Muslim yang tidak melaksanakan sebagai syariat Islam. Misalnya mengapa ada yang tidak pakai jilbab.

Melalui dorongan agar mereka menjadi penyampai kebenaran, insya Allah kebingungan itu hilang dan berubah menjadi kemantapan serta percaya diri yang tinggi. Pada diri mereka ada semacam perasaan bahwa ada tugas untuk mengingatkan dan menyelamatkan. Ini sangat berpengaruh terhadap citra dirinya kelak, dan pada gilirannya mempengaruhi konsep diri, penerimaan diri, percaya diri dan orientasi hidup. *Wallahu a’lam bish-shawab. [Sahid/www.hidayatullah.com]

Kiat-Kiat Bisinis Ala Afwan Riyadi

Bismillahirrahmanirrahim

Ada juga (sedikit) keuntungan mengikuti facebook, bisa mendapatkan ilmu yang mungkin belum diekspos di media atau blog lainnya. Kiat-kiat ini saya kumpulkan dari status-status yang beliau tulis di facebook. Menurut yang bersangkutan, masih ada kiat-kiat lainnya, tapi tunggu punya tunggu belum muncul juga, ya udah saya publishkan yang sudah ada saja, sebelum keburu lupa. Oya...saya copas sudah dengan izin beliau, silakan dibaca dan dicermati, siapa tau berhasil untuk anda, sebab kiat-kiat ini berdasarkan pengalaman pribadi beliau ^_^


Kiat Bisnis (1) :
Apakah modal bisnis yang paling berharga? --> Nama baik Anda.
Dengan kredibiltas Anda yang baik, maka tak sedikit orang berani berinvestasi dalam bisnis Anda; serta tak sedikit pula yang dengan senang hati menjadi pelanggan Anda.jadi, tidak ada namanya bisnis modal dengkul.. yang ada, bisnis modal nama. (coba Anda sodorkan dengkul anda ke orang-orang yang akan anda ajak berbisnis.... )

Nah, cukup dengan nama baik anda selama ini, bisnis anda bisa dimulai kapan saja tanpa uang anda keluar sepeser-pun.. dan dengan nama baik anda pula, biaya pemasaran akan jauh berkurang.

So, perbaiki nama baik anda. Sekarang juga!

Kiat Bisnis (2) :
Jika produk Anda murah; maka cari pembeli SEBANYAK mungkin.
Jika produk Anda mahal; maka cari pembeli SECEPAT mungkin.
ex : bisnis tabloid dengan 10.000 pelanggan amatlah minim. menjual 1 rumah selama 2 bulan belum laku juga, sangatlah membebani.

Maka dalam bisnis produk2 berharga murah (consumer goods misalnya), banyaknya pelanggan adalah kunci. karena semakin banyak pelanggan, maka semakin banyak produksi. semakin banyak produksi, maka ongkos produksi bisa dipangkas jauh.

Sedangkan dalam bisnis produk2 berharga mahal (property, mobil, dll) kecepatan menjual adalah hal utama; karena produk2 tersebut punya beban biaya rutin (perawatan, pajak dll) serta penurunan kualitas barang yang tinggi pula, berbanding lurus dengan lamanya dia "menginap" di gudang.

Kiat Bisnis (3) :
Jika sumber daya terbatas, lebih baik mancing di kolam kecil daripada di lautan luas.
Di lautan lepas, banyak sekali ikan. Dari yang kecil sampai yang besar, dan jumlahnya tak terkira. Memang saat kita memancing disana, ada kemungkinan untuk mendapat ikan yang banyak. Tapi siapkah kita dengan badai, gelombang besar, atau ikan besar yang sangat merepotkan saat "nyangkut" di kail kita?

Saat memulai bisnis, saat motto kita : yang penting laku; maka memancing di kolam kecil -- dimana kemungkinan mendapat ikan sangatlah besar -- jauh lebih safe & menguntungkan.

Kiat Bisnis (4) -- ini yang jarang dibahas nih -- :
Prive is Suicide!!!
Prive (arti bebasnya tuh mengambil laba sebelum waktunya); niatnya adalah mengambil laba yang (mungkin) ada di masa depan.

Padahal sesungguhnya, dana yang diambil adalah budget operasional, atau dana taktis yang wajib tersedia sewaktu-waktu. Saat dana tersebut diambil, bisa menyebabkan operasional akan macet (karena gak ada dananya); atau bleeding saat terjadi sesuatu diluar rencana. akhirnya perputaran bisnis akan sangat-sangat-sangat terganggu.

so, be patient, or you will die!!!

Kiat Bisnis (5) :
Cash is the King
Banyak perusahaan yang terlihat bagus dalam catatannya, namun amburadul cash flow-nya. Hal ini biasanya karena terlalu memanjakan konsumen dengan pembayaran via kredit. Akibatnya, seringkali saat kewajiban2 harus dibayarkan, dana belum terkumpul.

Untuk itu perlu dibuat berbagai fasilitas dimana konsumen akan sangat tergiur untuk membayar via cash.Di satu sisi, usahakan sedemikian mungkin, pembayaran2 dilakukan secara kredit atau bertahap; sehingga tidak mengganggu cash flow anda.

Kiat Bisnis (6) :
Jangan pilih2 cari teman.
Teman yang kaya bisa membuat hidup jadi mudah. Teman yang miskin bisa membuat hidup jadi berkah.Teman yang kaya raya; bisa diajak investasi, bisa dihutangi, kalau ada proyek bisa ngajak2 kita; minimal sekali-kali kita ditraktir makan.

Teman yang miskin; bisa jadi lahan sedekah, kadang2 kita dihutangi, bahkan kadang harus ikut menanggung beban keluarganya. Jika kita membantu kesulitan saudara kita, bukankah Allah nanti kelak akan membantu ... Baca Selengkapnyakesulitan hidup kita sendiri?

Minimal, berteman dengan si miskin akan membuat kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Rasa cukup inilah kunci untuk membuka pintu keberkahan.



* Afwan Riyadi, salah satu personel tim Nasyid Izzatul Islam (IZZIS)






Selasa, 04 Agustus 2009

Ibu Rumah Tangga = Ribet?????

Ibu Rumah Tangga, dulu ketika mendengar istilah ini yang terbayang adalah sekelompok ibu-ibu yang tak punya kerjaan, hobinya kumpul-kumpul dan menggosip. Pokoknya kerjaan yang nggak banget deh. Hehehe...sadis amat ya ^_^ pengaruh masa kecil yang lumayan jelek nih, punya tetangga yang hobi kumpul tiap sore, kalo anaknya berantem, emaknya juga ikutan ribut. Anaknya sudah tertawa bersama lagi, emaknya masih bawa parang (serius...ini beneran terjadi ).

Seiring berjalannya waktu, persepsi saya tentang ibu rumah tangga berubah. Melalui kajian-kajian dan seminar-seminar yang saya ikuti, saya memahami bahwa ibu rumah tangga adalah suatu pekerjaan yang teramat mulia. Sebab ibulah sekolah pertama sang anak untuk menjalani kehidupannya kelak. Dan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga perlu ilmu dan wawasan yang luas. Sama halnya seperti pekerjaan lain.

Namun kini menjadi sebuah dilema bagi saya. Benarkah menjadi seorang ibu rumah tangga berarti tidak bisa melakukan hal-hal lain karena sudah ribet dengan urusan suami dan anak? Apakah menjadi seorang ibu rumah tangga berarti sudah tidak dapat diganggu lagi untuk urusan dakwah ataupun sosial? Ibu rumah tangga, yang notabene seorang istri, tidak dapat pergi keluar rumah tanpa sang suami yang mengantar? Sudah tidak bisa lagi menjadi seorang pembicara karena tidak sempat lagi mempelajari materinya?

Sedih dan kesal, ketika mendengar seorang teman yang tidak bisa hadir dalam suatu agenda dakwah karena sang suami tidak bisa mengantarkan. Kecewa, saat sahabat lain menolak menjadi petugas bedah buku dengan alasan ribet mengurus anak. Sakit hati saat hampir semua teman seangkatan ’menghilang’ tatkala telah menikah.

Ukhuwah pun terasa sekedarnya saja. Saya akui, iman saya lah yang lemah. Sebagaimana tulisan Salim. A. Fillah, bukan ukhuwah yang hilang, tetapi iman lah yang sedang menurun. Tetapi, tidak boleh kah saya merasa merasa kesepian?

Betapa kagumnya saya pada seorang ibu (ummahat) berprofesi guru, yang tak hanya mengurus 8 orang anaknya tetapi juga mengasuh beberapa majelis ta’lim. Ummahat lain (sedang hamil anak ke-11) saat menemani suami reses, masih sempat mengkoordinir pengurus di suatu organisasi perempuan. Acungan jempol untuk seorang ummahat muda (dengan dua anak, yang masih menyusui) begitu gesit dan lincah menjadi panitia suatu acara, sementara ummahat muda lainnya hanya menjadi tamu. Juga kepada ummahat-ummahat lain, meskipun anaknya masih kecil-kecil, yang tidak menolak tugas-tugas yang dibebankan padanya.

Dalam pemahaman saya, beginilah sosok ibu rumah tangga seharusnya. Tidak hanya mengurus suami dan anak saja, tetapi juga amanah-amanah dakwah. Lantas mengapa para aktivis dakwah tersebut lebih banyak menghilang ketika telah menikah? Saya mendapatkan jawabannya dari seorang ummahat yang masih aktif dalam setiap agenda dakwah, walaupun beliau telah mempunyai dua orang anak dan terikat pada instansi pemerintah. BISA ATAU TIDAK BISA AKTIF ITU TERGANTUNG PADA HATI. Benar juga, saat ini tugas-tugas yang diberikan pada saya serasa beban, karena hati yang merasa berat dan level iman yang rendah. Saya berharap, ketika kelak telah menikah saya tak lantas menghilang. Dakwah akan tetap berlangsung ada ataupun tidak ada kita, namun sungguh rugi jika kita tidak terlibat di dalamnya.

teruntuk shabatku dan saudara seperjuanganku, barakallahu laka wa baraka'alaika wa jama'a bainakuma fii khoiir
semoga pernikahan kalian adalah 1+1 sama dengan 4 bukan 1+1 sama dengan 0

Ini Bukan Dakwah !!!

Ini bukan dakwah, jika apa yang kita sebut kerja dakwah membuat kita lupa tilawah satu juz per hari, beralasan terlalu letih dengan semua aktivitas. Sedang kau tahu kekuatanmu bergerak berasal dari tilawahmu.

Ini bukan dakwah, jika apa yang kita selalu teriakkan -dengan lantang itu- membuat kita selalu terburu-buru lakukan shalat rawatib, bahkan tidak mengerjakannya dengan alasan rawatib hanya sebuah amalan sunnah. Padahal shalat rawatib bisa menutupi banyak ketidakkhusyukan, “diskusi-diskusi” di kepalamu pada saat melakukan shalat-shalat fardlumu. Menyempurnakannya. Kau tahu tapi kau remehkannya.

Ini bukan dakwah, jika apa yang selalu kita serukan -bersama ikhwah- membuat kita selalu saja terlewat mengerjakan qiyamul lail, mencari alasan bahwa kita telah telalu lelah “melayani umat” di siang hari. Umar Bin Khattab mengucapkan, “Jika kuisi malamku dengan tidur sungguh aku telah menyia-nyiakan jiwaku, jika kuisi siangku dengan tidur, sungguh aku telah menyianyiakan rakyatku“. Qiyamul lail adalah kekuatan Shalahuddin Al Ayyubi untuk menaklukkan semua musuhnya. Qiyamul lail adalah kekuatanmu, wahai para pengemban dakwah.

Sungguh ini sama sekali bukan dakwah! Jika dakwah membuatmu berani menunda shalat fardlu tanpa alasan syar’i, tanpa alasan yang jelas. Mengatasnamakan amal, padahal kita tahu bahwa kita seharusnya mengamalkan dalil bukan mendalilkan amal.

Ah…

Sedang kita mengharapkan pertolongan Allah swt. hadir untuk memberi kemudahan kepada kita untuk menempuh perjalanan dakwah yang panjang ini. Sedang kita mengharapkan dukungan Allah swt. hadir untuk menguatkan kita untuk meneruskan tongkat estafet dakwah yang sudah diperjuangkan para pendahulu. Sedang kita mengharapkan pertolongan dari Allah swt. untuk mendorong kita untuk terus maju menegakkan kalimatullah di muka bumi.

Akankah kemudahan, dukungan dan pertolongan itu akan datang dengan kualitas kita yang makin lama makin merosot?

Namun kita lupa bahwa kerja-kerja kita tidak boleh membuat kita jauh dari Allah swt., bahkan seharusnya kita makin dekat kepadaNYA. Makin taat kepadaNYA, makin semangat melakukan ibadah. Bukan malah menurun, bukan malah mengurangi jatah ibadah bahkan sama sekali tidak melakukannya. Ibadah itu kekuatan kita. Dakwah ini tidak hanya perlukan gerak kita, tapi butuh ruh dalam setiap gerakan kita.

Abdullah Azzam mengatakan,

“Amal Islami bukanlah aktivitas yang cukup dikerjakan di saat anda memiliki waktu luang dan bisa Anda tinggalkan saat sibuk. Tidak! Amal Islami terlalu agung dan mulia jika mesti diperlakukan begitu.”

Wallahu a’lam bish shawab….


copas from :http://jsattaubah.multiply.com/

Jumat, 24 Juli 2009

Saudaraku, Tetaplah Bertahan Sebagai Kader Da'wah ISLAM

Bismillahirrohmanirrohiim.

Alhamdulillah, dapat taujih dari seorang kontak di MP. beliau dapat dari salah satu Ustadnya yang beliau ketikan. Taujihnya mengkokohkan.
Semoga kita istiqomah dalam da'wah ISLAM.
Oh iya, saya gubah seperlunya tanpa meninggalkan esensi pesannya.
Selamat membaca:
***
Saudaraku! Kalian adalah orang yang dipilih Allah untuk terus bersama dakwah ISLAM ini, dikala satu persatu aktivis ISLAM berguguran meninggalkan kalian dengan seabrek amanah, tapi kalian masih setia menapakkan kaki. Berjuang menepis segala rintangan, menghantam gelombang yang datang. Tegar dalam badai, kudapati pada kalian wahai aktivis kader ISLAM di PK Sejahtera.

Saudaraku! Kalian dipilih oleh Allah untuk terus berjuang lewat jalur siyasi dan bidang lainnya. Banyak suara sumbang yang merobek gendang telingamu, menghentak dan menghempaskan perasaanmu. Saya tahu banyak air mata aktivis ISLAm di PKS yang bercucuran karena hinaan dan celaan yang begitu menyakitkan. Bahkan celaan itu dari mereka yang mengerti agama.

Tapi sekali lagi kudapati dari kalian sebuah kesabaran yang begitu terang. Biarkan mereka mencela, biarkan mereka menghina, biarkan mereka mengejek, biarkan mereka menghantam dengan fitnah, biarkan mereka! Kalian tetap bekerja lillahi ta’ala! Kalian tetap bergerak bersama alunan dakwah ISLAM yang begitu indah walau kadang menghentak. Tetaplah menyemai cinta bersama dakwah ISLAM.

Aku tahu hati kalian meringis menahan rasa sakit yang begitu menyiksa. Air mata kalian pun tumpah. Siapa yang tidak sakit digelar dan difitnah sebagai ahli bid’ah. Bahkan dipertanyakan keyakinannya. Siapa yang tidak sakit ketika dihina saudara sendiri dan dipandang bahwa kita telah termakan dunia. Sabar saudaraku! Perjuangan memang butuh pengorbanan. Tentunya kalian pernah mendengar kisah Rasulullah di Thaif, saat dilempari batu oleh kaumnya. Rasulullah berdarah, namun beliau tetap sabar. Rasa kasih sayang beliau lebih besar daripada amarahnya. Subhanallah!

Apa yang kita rasakan saat ini tidaklah sebanding dengan apa yang dirasakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Bahkan mereka jauh melangit daripada kita. Mereka memang sudah pantas mereguk air telaga Al kautsar, sedang kita mencium wangi syurga saja belum pantas.

Mereka mencelamu dan mencari semua kesalahanmu sampai ke akar-akarnya, tanpa tahu kesalahan sendiri, tanpa memperbaiki diri sendiri. Kalian teruslah bergerak, Karena bergerak itu ibadah, karena bergerak itu berpahala, bergerak itu sehat, bergerak itu ada seninya, bergerak itu adalah kader ISLAM di PKS.

Mereka berteriak menghinamu seolah hanya diri merekalah yang benar. Mereka berteriak menyalahkanmu seolah kebenaran hanya miliknya. Mereka merobek gendang telingamu seolah syurga hanya miliknya.

Tetaplah bertahan sebagai kader dakwah ISLAM, wahai saudaraku...
Disinilah...di jalan inilah... insya Allah kita akan bertemu kafilah2 kader dakwah ISLAM yg telah mendapati janji-NYA dan tengah merasakan kenikmatan yg hakiki...

Taujih ustadz Fathur...menjelang maghrib
Sumber: http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/159/

Minggu, 14 Juni 2009

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro

RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. ***

Oleh Anis Matta*

Sabtu, 13 Juni 2009

Entahlah...................

Entah sejak kapan antiklimaks itu terjadi. Hanya tanya yang selalu hadir, mengapa terjadi ? Lalu, mengapa tak jua diobati?

Entahlah...
Benih yang ditanam tak tumbuh tunas
Sampai kapan ia bertahan, ataukah kering lantas mati

Entahlah....
Aku lelah,
Lelah bertanya mengapa diri tak jua kembali
Lelah hingga mati rasa jiwa ini

Aku kalah



Huff.....belum dimulai sudah menyerah. Sudah terlihat dengan jelas seperti apa diri ini. Terjawab sudah pertanyaan yang pernah memenuhi benak. Maka pantas saja hidup biasa-biasa saja, karena memang hanya begitulah beban yang sanggup diterima.
Bukankah Ia hanya membebani sebatas yang kuasa ditahan?

Rabu, 03 Juni 2009

Percaya Siapa?

Berita yang beredar :
Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Majalah Tempo, 7 Juni 2009 : “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik? Soal selembar kain saja kok dirisaukan?”
Astaghfirullah! Bagaimana jika pertanyaan itu dilanjutkan : “Apa kalau capresnya shalat, puasa, zakat, dan berhaji lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?” Sama dengan shalat, puasa, zakat dan berhaji, jilbab itu perintah Qur’an. Demi koalisi dengan SBY-Boediono, Tifatul tega mereduksi perintah Qur’an jadi “soal selembar kain”. Astaghfirullah!



Klarifikasi dari Ust Tifatul (via sms kepada seorang ustadz yang meminta klarifikasi):

Antum percaya Tempo atau ana? Antum baca deh artikel yang menyerang PKS di Tempo. Dia tanya, “Apakah PKS menekan SBY agar Bu Ani pakai jilbab?”, saya bilang “bukan!”. Dia tanya, “Apakah Bu Ani berjilbab lantaran alasan politik?”, saya jawab “Nggak tahu, tanya langsung ke orangnya!” “Anda ini rewel banget,” kata saya, “urusan selembar kain diatas kepala wanita, die gak pake kerudung ente ributin, dah pake kerudung diributin juga!”. Itu bahasa saya ke Tempo, yang saya tahu wataknya tidak Islami. Nah, percaya siapa?


Percaya pada siapa? Kalau saya tetap percaya qiyadah, terserah kalau mau dikatakan taqlid.

Penjelasan lengkapnya baca di sini

Senin, 25 Mei 2009

Need HELP !!!!!!!!

Please Save me.............

Selasa, 12 Mei 2009

Serikat Untuk KUASA KESHALIHAN

Ada satu kaidah yang senantiasa ditekankan ‘Umar ibn Al Khaththab bagi kemashlahatan sebuah ummat; kekuatan yang berpadu dengan keshalihan dan kelemahan yang menjadi ciri kebathilan. Begitulah seharusnya, karena syari’at ini tidak utopis untuk kemudian mencitakan ‘Negara Malaikat’. Sampai kapan juga, dalam tiap manusia dan masyarakat, potensi negatif akan tetap ada. Yang ditegaskan ‘Umar adalah konsep realistisnya; potensi keshalihan itu menjadi kinesi besar kemajuan dengan percepatan tertentu, sedangkan sang kebathilan dimasukkan ke zona lembam dalam diam.

Da’wah kini ditantang untuk membuktikan ideologi dan metodologinya dalam amal nyata pengelolaan hajat hidup masyarakat. Dulu, kita boleh mencukupkan diri dengan tertanamnya keyakinan Islam sebagai solusi dan tersebarnya fikrah keshalihan. Kini, masyarakat bertanya, “Di manakah bukti keunggulan sistem Islam dalam mengatur urusan kami?”

Lalu apakah kita bisa membuktikannya jika tak memasuki inner-circle pengelolaan publik itu? Oh, bahkan Yusuf pun takkan bisa membuktikan bahwa dia yang seorang muslim itu amanah dan kompeten jika tak memegang kuasa perbendaharaan negara. Dalam konteks wilayah pengelolaan publik seperti sebuah kota, maka sebuah jama’ah da’wah memerlukan diri untuk tak hanya memperjuangkan Furqan, tapi juga mengelola Sulthan. Itulah energi pembangkit untuk menjamakkan keshalihan dan membekuk kebathilan sebagaimana dimaksud ’Umar; kekuasaan. Maka benarlah ‘Utsman ibn ‘Affan sang penulis wahyu, “Dengan kekuasaan lah, Allah menegakkan apa-apa yang tak bisa ditegakkan hanya dengan Al Quran.”

Bagaimana keshalihan bisa menyatu dengan kekuasaan? Idealnya, tentu mutlak. Kekuasaan adalah milik dakwah, oleh dakwah, dan untuk dakwah. Tetapi Rasulullah mencontohkan pada kita bahwa berserikat adalah jalan yang setapak demi setapak kita upayakan, hingga dakwah itu men-shibghah perserikatan, dan perserikatan itu men-shibghah alam semesta dengan nilai keshalihan. Dari Sirah Nabawi, kita berkaca tentang prinsip-prinsipnya.

1.Dakwah Adalah Dakwah
Ada satu pesan yang menjadi manifesto paling sederhana da’wah kita, “Perbaiki dirimu, dan ajak yang selainmu!” Dalam terjemah yang lebih luas di ranah pengelolaan publik, kalimat “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka!” itu tentu bermakna melibatkan semua pihak yang peduli pada perbaikan kondisi. Pun ketika untuk menuju kekuasaan, sebuah da’wah harus bekerjasama dengan pihak lain, itupun dalam konteks dakwah. Minimal dalam dua sisi. Pertama, mendakwahi pihak yang diajak bekerjasama hingga mereka ter-shibghah dengan nilai-nilai Ilahiyah. Dan kedua, bersama dengan rekan seperjuangan yang terdakwahi itu memperbesar peluang menangnya keshalihan di panggung kuasa pengelolaan publik.

Terra Incognita. Ke sanalah dakwah menuju. Ke tempat di mana selama ini bicara keshalihan adalah tabu. Adalah Shafwan ibn ’Umayyah yang musyrik, mulanya meminjamkan ratusan baju besi kepada Nabi dengan sistem sewa. Pasca-perang, ketika dilihatnya akhlaq sang Nabi dalam memenuhi perjanjian, ia menyatakan keislamannya, tentu disertai ketulusan untuk menjihadkan semua hartanya dalam dakwah. Dan kini, tanpa sewa.

2.Mendahulukan Tercegahnya Kerusakan
Dar'ul mafasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih. Ini kaidah yang indah dalam menentukan suatu keputusan. ”Menolak kerusakan itu, didahulukan daripada terraihnya kebaikan-kebaikan.” Kaidah ini sesungguhnya tercermin dari keseluruhan teks piagam Madinah yang kita kutip sebagian kecilnya berikut ini:

”..Sesungguhnya orang Yahudi wajib mengeluarkan dana bersama kaum muslimin selama mereka diperangi oleh musuh. Orang Yahudi Bani Auf merupakan satu bangsa bersama kaum muslimin. Bagi Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Budak-budak dan jiwa mereka terlindungi, kecuali bagi orang yang berbuat dan melakukan tindak kejahatan..”

Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam memasuki Madinah sebagai seorang pendatang, tetapi telah memiliki pengikut yang banyak. Nilai tawar itulah yang kemudian beliau pakai untuk menyusun pakta kerjasama yang kuat antara beliau dengan semua kelompok berpengaruh di Madinah. Mereka terikat oleh kepentingan yang sama untuk menjadikan Madinah sebagai tempat tinggal bersama, yang tetap kondusif dan aman dari gangguan musuh. Substansi ini lebih bersifat mencegah kerusakan.

Sebenarnya, selain dalam ”What” dan ”How”, kaidah ini dipakai oleh jama’ah dakwah untuk merumuskan kerjasama mereka dengan siapapun. ”Who”-nya juga. Sesungguhnya dalam konteks Islam dan dakwah, mencegah kemunkaran dan kerusakan itu didahulukan daripada meraih kebaikan-kebaikan. Seperti apa pemimpin yang akan dipilih? Jika ada dua pilihan, di mana yang satu berkompeten dalam menebar kebaikan namun tak mampu bersikap terhadap kemunkaran, sementara satu pihak lagi adalah orang yang mampu mencegah kerusakan meski kemampuannya menebar kebaikan belum teruji, mana yang dipilih? Jawabannya sama, ”Dar'ul mafasid muqaddamun ’alaa jalbil mashaalih.”

Pilihlah pencegah kemunkaran! Karena sesungguhnya, kemashlahatan sejati di sisi Allah hanya dapat diraih dalam kondisi kemunkaran dan kerusakan minimal. Di situlah barakah Allah dikaruniakan, bukan pada orang yang menebar pembangunan dan kebaikan-kebaikan namun tak mempedulikan kemunkaran. Barakah Allah turun, pada ketaqwaan: takut yang sangat pada Allah untuk mendurhakaiNya.

”Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raaf 96)

3.Ikatan Kontrak yang Kuat
Sulitnya sebuah jama’ah dakwah bekerjasama dengan selain mereka, kadang berlatar asumsi bahwa tidak ada kata ’pengkhianatan’ dalam kamus pihak-pihak itu. Akan jadi lucu, jika kemudian pengkhianatan terjadi, hanya kita yang bisa berteriak, ”Kami dikhianati!” Lalu mereka bertanya, ”Apanya? Ini tidak diatur dalam butir-butir kontrak meski kemudian menguntungkan kami dan merugikan kalian?”

Nah, Rasulullah memberikan teladan bahwa sebuah kontrak tak boleh memberi celah bagi pihak yang diajak bekerjasama untuk menelikung. Tugas kita, menutup semua celah itu, bukan dengan sekedar percaya pada komitmen awal. Bahkan kalau perlu, siapkan kekuatan pemaksa agar mereka selalu mentaati kontraknya. Subhaanallaah, perhatikan bunyi surat teguran beliau ketika Yahudi Bani Nadhir diintimidasi Quraisy agar berkhianat pada Sang Nabi. Syaikh Munir Al Ghadban mengutipnya dalam Manhaj Al Haraki,

”Telah sampai kepadaku berita tentang ancaman Quraisy kepada kalian. Ternyata rencana jahat mereka terhadap kalian tidak lebih hebat daripada rencana jahat kalian terhadap diri kalian sendiri. Kalian bahkan ingin memerangi anak-anak dan saudara-saudara kalian sendiri, yakni penduduk Madinah!”

4.Ketegasan dalam Pengkhianatan
Lelaki tampan itu tampak pucat. Dari atas kudanya ia terus menggumamkan doa, “Ya Allah berikan kesempatan padaku untuk menyelesaikan urusan dengan Bani Quraizhah..!” Dan hari itu, lukanya yang terus mengalirkan darah dari nadi yang pecah dibebat kuat-kuat. Ia, Sa’d ibn Mu’adz Radhiyallaahu ‘Anhu, pemimpin Aus, datang sebagai hakim yang diridhai Yahudi Bani Quraizhah untuk menyelesaikan sengketa pengkhianatan mereka kepada Rasulullah dalam Perang Khandaq. Sebenarnya, Rasulullah sendiri berhak untuk memutuskan vonisnya. Hanya saja ada makna lebih dalam di sana: penghormatan, meredam gejolak, dan memuaskan semua pihak.

“Sambutlah Sayyid kalian..!”, begitu Rasulullah berujar ketika melihatnya datang tertatih. Bani Quraizhah menerima Sa’d menjadi hakim, karena suku Aus adalah sekutu mereka di masa Jahiliah. Para pemuka Aus pun berpesan pada Sa’d agar bertindak bijaksana, mengingat Rasulullah telah menyerahkan urusan ini kepadanya agar dia berbuat baik terhadap sekutu-sekutunya.

Tapi apa kata Sa’d sebagai vonis? “Telah tiba saatnya bagi Sa’d untuk tak lagi mempedulikan cercaan para pencela dalam memutuskan hukum karena Allah. Semua laki-laki yang di antara Bani Quraizhah harus dibunuh! Anak-anak dan wanita-wanita mereka dijadikan tawanan! Dan harta mereka disita!”
“Sungguh”, kata Rasulullah, “Engkau telah memberikan keputusan menurut hukum Allah..” Beberapa hari setelah itu, sang hakim terus terbaring sakit di tenda Rufaidah. Darah terus mengalir dari lukanya hingga seorang shahabiyah berkata, “Bagai sebuah selokan!” Akhirnya ruhnya pergi menemui Allah dalam keadaan ridha lagi diridhai. Kedahsyatan kematiannya pun, sampai-sampai membuat ’Arsy berguncang. ”’Arsy berguncang”, kata Sang Nabi, ”Ketika ruh Sa’d ibn Mu’adz diangkat ke langit!”

5.Mendesain Selalu Keteladanan Baru
Tantangan selalu muncul saat kita memasuki wilayah baru. Bahkan dalam hal yang sangat sederhana. Saat kita sedang membangun kebiasaan bangun malam untuk menghadap Allah dalam tahajjud, rasa-rasanya tantangan kita ada pada daya diri untuk bangun dan melangkah ke tempat wudhu. Tetapi begitu kebiasaan bangun itu tersistemkan dalam tubuh kita, tantangan baru muncul: mengapa shalat kita terasa kering? Dulu, ketika bangun terasa sulit, shalat kita rasa-rasanya lebih khusyu’ daripada kini.

Demikian pula di wilayah baru pengelolaan publik. Kita harus semakin cerdas mendesain
keteladanan baru. Dulu, demonstrasi memperjuangkan kepentingan masyarakat menjadi istimewa. Dulu, anggota dewan yang mengembalikan uang tidak jelas menjadi keteladanan yang sangat istimewa. Dulu anggota dewan yang menolak KunKer tanpa agenda nyata, itu istimewa. Dulu, partai yang memiliki layanan sosial adalah keteladanan istimewa. Dulu, partai yang menerjunkan satgasnya ke lokasi bencana adalah keteladanan istimewa. Kini? Nanti dulu. Masyarakat semakin menganggapnya sebagai hal yang biasa karena tak hanya partai dakwah yang bisa melakukannya. Tentu, kita syukuri hal itu sebagai suatu keberhasilan dakwah, bahwa kini –terlepas apapun motifnya- ada lebih banyak kepedulian.

Selanjutnya, sesudah bersyukur tentu prinsip ’Yakhtaliyatun wa lakin yatamayyazun’. Bagaimana agar identitas dakwah tidak kabur karena kurangnya keteladanan. Nah, seperti ’Umar mencegah para panglimanya memiliki tanah agar mereka tak kehilangan daya ekspansi, jama’ah dakwah perlu terus membangun sistem yang mendukung terciptanya keteladanan baru yang tak usang tak lekang dari para kader dakwah yang mengelola kepentingan publik, yang menggiatkan penguatan struktur, maupun yang bergerilya di ranah sya’biyah.

Selamat berserikat. Seperti kata Dr. Surahman Hidayat, “Tanggungjawab ini kita bagi bersama, tapi kita tetap sebagai pionernya!” Inilah serikat, untuk kuasa keshalihan.

Salim A. Fillah, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim, BAB VI

Minggu, 10 Mei 2009

Can You Keep a Secret??

Di suatu tempat, saat sedang jaga dagangan
Teman ( T ) : “ Kak, katanya kak A akan nikah bulan ini, bener ga sih? ”
Saya (S) : ” Masa ? Dengar dari siapa? ”
T : ” Ada deh..., katanya dengan ikhwan A ya?
S : ” Wallahu’alam, tanya aja sama orangnya. Mudah-mudahan memang benar ”

Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari kajian
T : ” Tau nggak ukh, ukhti B akan nikah dalam waktu dekat ini”
S : ” Oya? Baru dengar”
T : ” Iya, sebetulnya masih belum diumumkan karena tanggalnya belum pasti. Tapi anti jangan bilang siapa-siapa dulu ya, ini rahasia ! ”

Di rumah, saat dikunjungi seorang teman
T : ” Kasihan ya ukhti C, ga jadi nikah lagi ”
S : (mengerutkan kening, dengan wajah bingung)
T : ” Iya, ikhwannya yang membatalkan, padahal keluarga dah saling bertemu ”
S : ” Kok tau? ”
T : ” Ya tau lah, ada yang cerita ”
S : ” siapa?”
T : ” Ada deh....”


Di rumah seorang bunda
T : ” Memang dasar deh si ikhwan itu, masa buat ulah lagi ”
S : ” Haaa?? ”
T : ” Iya, dia tuh bla....bla...bla.... bikin pusing aja ”
S : masih ternganga
T : ” Yang kemaren aja belum selesai, sampai enek melihat mukanya ”
T : ” Ceritanya gini ..... bla...bla....bla ”
S : ga sempat ngomong, takjub dengar sang bunda cerita dengan cepat


Saat menghadiri kajian, ketika belum terlalu ramai orang
T : ” Ta’aruf kemaren gimana? Jadi? ” (dengan gaya berbisik tapi cukup kuat untuk di dengar 2- 3 orang di sebelahnya)
T2 : ” Insya Allah jadi..... ” (wajah bersemu merah menahan malu)


Suatu tempat, selesai rapat, masih terdapat beberapa orang peserta rapat
T : ” Masalah warisan kemaren itu gimana? Sudah selesai? ”
S : (kaget, tak menyangka akan di tanya seperti itu ) ” Insya Allah sudah, kami bertanya pada ustad yang kami kenal sejak lama ”
T : ” Dulu, sewaktu bapak saya meninggal, saya dan adek-adek ga minta warisan. Menimbang perasaan ibu supaya ga sedih. Kasihan kan beliau, bapak baru meninggal kok anak-anaknya dah ribut minta warisan ”
S : wajah memerah menahan marah



Sekretariat, saat sedang menyiapkan peralatan,
S : ” Afwan Ukh, ana dengar cerita tentang anti lagi ”
T : ” Nggak kok ukh, Cuma isu. Bukan ana ”
S : ” Gitu ya.... ceritanya cepat menyebar ya..... ana dah tau cerita anti yang dulu-dulu ”
T : ” Itu lah....padahal ana gak ada cerita-cerita. Tapi kok justru berkembang. Heran deh, siapa sih yang menyebarkan ”

Cerita seperti ini sebenarnya masih banyak, tapi cukuplah 7 saja, nanti seperti naskah sandiwara ^_^
Cerita-cerita di atas memang tidak persis sama dengan yang asli, tapi memang benar-benar terjadi. Maksud hati ingin diam-diam, malah heboh sekampung. Tujuan curhat supaya dapat solusi atau sekedar melepaskan sesak yang menghimpit, bukan untuk jadi hot gossip.
Ternyata susah ya menjaga rahasia. Tak terkecuali pada orang-orang yang katanya lebih paham Islam dari orang awam. Justru ceritanya cepat sekali menyebar karena ruang lingkupnya yang kecil.
Oke lah jika beritanya tentang seorang akhwat yang kena musibah, bisa segera memberikan bantuan. Tapi berita semisal akhwat A yang dilamar (ini yang paling sering saya dengar) atau ikhwan B yang ditolak lamarannya, apa untungnya sih menyebarkan berita seperti ini? Yang ada justru orang yang digosipkan sakit hati mendengarnya, atau yang mendengar jadi sakit hati kok bukan dia yang dilamar.
Jaman saya masih sekolah dulu, seorang kakak di kost pernah bilang alasan kenapa berita sejenis ini di rahasiakan. Untuk menjaga harga diri orang yang bersangkutan. Sebab jika dari awal sudah disebarkan, ternyata bukan jodohnya, malunya bisa tak tertanggungkan. Akhirnya terjadilah pembunuhan karakter.
Padahal seorang muslim yang baik adalah orang yang orang lain aman dari lidahnya. Jika begini apa pantas menyebut diri lebih baik dari orang lain?
Bukankah telah ada aturan yang jelas dalam Al-Qur’an dan sunnah? Jika mendengar berita, daripada menduga-duga lebih baik bertanya langsung pada orangnya. Selesai. Tanpa prasangka yang tidak-tidak atau bahkan orang lain kena getahnya.
Jangan lupakan juga adab bertanya. Jika sifatnya pribadi, bersabarlah dulu, tanyakan setelah hanya tinggal berdua, atau ditemani orang yang bisa menjaga rahasia. Bertanya padanya di tengah keramaian, selain memancing amarah karena malu, juga memberikan kesan pada yang lain bahwa yang bertanya bukanlah orang yang bijak dan bisa di-black list-kan sebagai tempat curhat.
Waduh.....jadi panjang banget ya? Bukan ingin ghibah, hanya sekedar mengungkapkan unuek-unek yang sejak lama bercokol. Sebagai korban isu yang didasarkan azas praduga bersalah, tanpa investigasi terlebih dahulu (paham? Saya juga tidak ^_^), saya merasa hal ini perlu dituliskan. Agar kelak tidak terulang lagi, agar tidak ada saling curiga siapa yang dilamar oleh sang ikhwan idola ^_^ (yang ini gak penting banget ). Juga sebagai pengingat bahwa umat islam itu seperti satu tubuh, tatkala gigi yang sakit kepala juga jadi pusing (nyambung ga?)
Sekaligus peringatan kepada diri sendiri, para sahabat dan bunda yang selalu jadi tempat curhat, jika pada orang-orang yang dianggap amanah saja bisa terjadi seperti ini, kepada siapa lagi harus percaya? Sebab di luar sana pasti lebih banyak orang yang belum mampu hanya berkeluh kesah pada Allah.

Rabu, 06 Mei 2009

Dari kawan

“Ketika bayangan wajahnya sering hadir di pelupuk mata
Ketika derap langkahya menggetarkan jiwa
Ketika kesempatan bersanding sudah tiada lagi asa
Lupakan dirinya!, cari yang lebih sempurna”

Sepenggal bait dari buku “Kujemput Jodohku” karya Fadillah Al-Ikhwan

Jumat, 01 Mei 2009

Pesona Yang Memagnet Hati

Untuk mata ini, aku bersyukur…
Begitu telah banyak hal indah nan mempesona ku pandang. Terlebih aku bersyukur karena Engkau telah menjaga dari pandangan terlarang dan haram.

Untuk telinga ini, aku bersyukur…
Begitu telah banyak hal merdu ku dengar. Terlebih aku bersyukur karena Engkau telah menjaganya dari pendengaran sia – sia tak bermakna.

Untuk mulut ini, aku bersyukur…
Begitu telah banyak suara terucap dengan sempurna. Terlebih aku bersyukur karena Engkau telah menjaganya dari ucapan kotor menyakitkan.

Untuk tangan ini, kaki ini… dan setiap jengkal yang ada pada diriku, aku bersyukur….
Betapa Engkau duhai Rabbi, telah mewujudkan penciptaan diri ini dengan begitu indah dalam harmonisasi sempurna. Terlebih aku bersyukur, karena Engkau selalu ingatkan semua yang kini ada dan termiliki hanyalah amanah, hingga kusadar dalam tiap laku pasti harus dipertanggungjawabkan.

Untuk jiwa ini… semoga Engkau selalu menjaganya dalam bongkahan kotornya hati dari kumparan egois logika pikiran. Karena disana t’lah Kau ciptakan nafsu yang begitu luar biasa bergumul hebat dengan naluri.

Allah… untuk yang kesekian kalinya aku terpesona lagi dengan takdirMu. Engkau telah mengatur segalanya dengan begitu rapi. Untuk sekedar kembali menikmati seniMu meletupkan emosi hati. Menunjukkan yang benar itu benar, yang salah tetaplah salah.

Mahaindah Engkau dalam pesona yang memagnet kuat hati, untuk sekedar kembali melabuhkan emosi yang sering membuncahkan keangkuhan jiwa./rf

***

Batam, 26 April 2009
Setelah sesaat tersadarkan akan sebuah emosi hati, saatnya melepaskan dari jiwa ^_^

http://rifarida.multiply.com

Kamis, 02 April 2009

Untuk Seorang Laki-laki Terpilih...Maafkanlah..

Untuk seorang laki-laki terpilih, maafkanlah diri ini jika selama ini ku masih kurang dekat denganmu. Bukan ingin kumengabaikanmu..padahal diri ini sangat tahu bahwa engkaulah laki-laki terpilih itu. Betapa malu diri ini tak selalu ingat namamu...ya namamu yang suci..yang seharusnya mampu mengetarkan hati ini..

Untuk seorang laki-laki terpilih...maafkanlah diri ini...seharusnya aku tahu bagaimana cerita perjuanganmu dalam dakwah..ya seharusnya diri ini tahu karena tentunya perjuanganmu untuk dakwah ini sangat berat. Walaupun sering batu terjal yang engkau jumpai dalam dakwah ini tak pernah sedikit pun engkau mengeluh..semua dihadapi dengan senyum dan senyum...Betapa Mulianya Allah yang telah menciptakanmu sedemikian rupa..
Untuk seorang laki-laki terpilih..maafkanlah diri ini karena sekarang baru kusadari cintaku padamu begitu besar...ya sangat besar..cinta ini mampu membawaku dalam kesyahduan do’a-do’a yang senantiasa kulantunkan pada Sang Pencipta..benar skali kata pujangga, rasa cinta yang mendalam dapat membawa perubahan yang mendalam pada diri seseorang..dan izinkanlah diri ini tuk mulai belajar berbenah diri dengan mencintaimu...

Untuk laki-laki terpilih...maafkanlah diri ini...sangat ingin rasanya diri ini berjumpa denganmu walaupun hanya dalam mimpi...sangat ingin..begitu sesak rasanya dada ini ketika kuutarakan kepada Allah bahwa ingin sekali kuberjumpa denganmu...walau hanya dalam mimpi..insya Allah itu akan mengobati rasa rindu yang senantiasa berbunga dalam diri ini...ya rasa rindu yang tentu saja akan semakin memperbesar rasa cintaku padamu..

Untuk laki-laki terpilih..maafkanlah diri ini...terkadang diri ini merasa sangat tak pantas untuk engkau cintai..tapi ku tetap ingin selalu berada dalam barisam ummatmu..yang senantiasa berjuang demi kejayaan islam di bumi Allah ini..mungkin selama ini hari-hariku tak selalu dipenuhi oleh shalawat dan salam kepadamu..kini kusadari...betapa meruginya diri ini..akan kuperbaiki hubunganku denganmu yang mungkin selama ini belum begitu dekat...

Untuk laki-laki terpilih...ya hanya engkau yang terpilih..Nabi Muhammad SAW

yennirahayu

Senandung pemenangan pemilu PKS



jika politik adalah sesuatu yang abu-abu
yang menjadi senjata para penguasa
yang menjadi sindikat pengejar harta dunia
maka aku bukanlah itu
Namun jika politik adalah pembelaan & perjuangan
yang membangunkan keberanian retorika
dan lantang meneriakkan keadilan
maka aku adalah politikus itu

Jika demokrasi adalah belenggu penjajahan
diramaikan oleh tangan-tangan gila jabatan
disetir untuk mengubur kepribadian anak bangsa
maka itu bukan tempatnya
Namun jika demokrasi adalah sebuah peluru pembebas
yang pengusungnya adalah teladan sejati
dan ideologinya menembus keangkuhan parlemen
maka itu adalah kendaraannya..

forward this message

Selasa, 31 Maret 2009

Kepada Mereka...





Bismillah...

Ketika kau memandang ini, ingatlah di balik semuanya
Bendera, baliho, spanduk, pamflet dan semua alat peraga yang ada

Ada kantuk yang tertahan di balik kibarannya, Saudara
Ada kelelahan tertunda tatkala iring pagi terterpa sinar mentari
Tuk mereka, tengah malam bukan lagi saat-saat beristirahat melepas letih dan rasa penat
Hatta sampai pagi kembali tuk berlanjut sholat shubuh dan ma'tsurot pagi
Tahajjud mereka dalam terpa dingin malam, sungguh doakan puncak kekhusyukan
Merekalah para penghuni malam di akhir-akhir ini
Ketika yang lain terlelap, mereka memetik satu per satu pahalaNya di balik lem-lem tangan
Ketika yang lain nyenyak dalam mimpinya, ikatan kawat tali serta tambang menjadi dzikir-dzikirnya
Bambu yang kau angkat dengan sisa terbaik tenagamu, adalah senjata-senjata penggentar
Lelahkah sahabat?
Ya kau lelah di balik wajah sayu dan letih itu
Namun kalian selalu mengingat, bahwa kalian tengah mengharapkan yang tak bisa diharapkan mereka
Kalian mengharapkan pertemuan abadi di balik semua ini
Di balik bambu-bambu penyangga baliho
Di sela spanduk dan temali yang kau bentangkan di sepanjang jalan ini
Ketika pagi menjelang
Tatkala mentari menyapa ragawi bumi
Bendera tlah rapi berjajar kini
Bendera tlah terpasang menjulang
Spanduk mengajak tlah ada di sepanjang jalan
Baliho
Pamflet
serta pernik lain yang tlah menyapa bumi pagi

Tahukah kau?
Ada apa di balik semua yang kau lihat di pagi cerah ini?
Mereka tak perlu kau hargai
Karena Alloh tlah memberinya harga tinggi
Tapi alangkah merugi, jika kita tak ikut memberi arti

*****


ganbatte, my brothers
pahala kalian tak hanya tetes
namun mengalir deras di setiap lirikan dan tatapan mereka pada hasil karyamu

http://tantodikdik.multiply.com

Jumat, 13 Maret 2009

Jalan2 with Ustadzah Ninik.. SERU!!!

Seminggu yang lalu saya diajak ustadzah Ninik untuk menemani beliau mengisi di majlis ta’lim. Saya di’todong’ untuk menemani beliau pada saat saya sedang bantu-bantu guru saya aqiqah anaknya. Kami harus segera pergi saat itu juga karena acara dimulai jam 3 dan jarak perjalanan yang kami tempuh ’normal’nya memakan waktu 5 jam. Saya cuma dikasih waktu setengah jam untuk pulang ke rumah, izin pada ibu dan ambil bawaan seadanya. Biasanya untuk menginap semalam saja di rumah teman, bawaan saya bisa satu ransel (maklum…perempuan banyak peralatannya J ). Tapi kali ini rekor banget deh.... bawaan saya cuma tas tangan yang isinya buku, al-qur’an, mukena dan sikat gigi!! Maka perjalanan lintas kabupaten kami pun di mulai.
Saya katakan ’normal’nya karena biasanya Tembilahan – Rengat saya tempuh dalam waktu 4 jam dan Rengat-Belilas (tujuan kami) 1 jam. Perjalanan kali ini luar biasa, jam 11 berangkat, sampai di tujuan jam 3 lebih dikit, praktis cuma 4 jam!! Padahal medan yang kami tempuh tidak mulus. 63 jembatan sepanjang Tembilahan-Rengat, jalan berlubang plus bergelombang sepanjang Rengat-Belilas dan harus saingan dengan truk gede. Luar biasa memang, sepanjang perjalanan Allah kasih saya pelajaran. Bagi saya 60-80 km/jam biasa saja, ternyata kalo di bonceng ngeri banget. Sport jantung abiss!! Kira-kira begitulah perasaan teman-teman yang pernah boncengan dengan saya (biasa jadi ’tukang ojek’, kali ini jadi penumpang). Pantas aja beberapa teman langsung pasang wajah aneh kalo kebagian saya sebagai ojeknya.
Acaranya hanya berlangsung setengah jam, tapi mengena di hati, karena ustadzah Ninik emang jagonya meng’obok-obok’ hati. Materi pribadi muslimah kaffah, dirasakan jamaah sangat singkat, sehingga mereka langsung booking lagi untuk agenda bulan depan.
Sewaktu ummi Ninik ceramah, hujan lebat disertai angin kencang dan sesekali guruh dan kilat. Melihat keadaan demikian saya berdo’a : jika memang perjalanan kami tidak baik diteruskan, Allah turunkanlah hujan yang sangat besar sehingga tidak mungkin untuk keluar. Rupanya do’a saya kalah dengan do’anya ummi Ninik J beliau sangat ingin menepati janjinya mengisi kajian rutin berikutnya. Menjelang acara berakhir, hujan berubah menjadi rintik-rintik, langit pun terang padahal sebelumnya gelap seperti subuh. Saya bengong....rupanya beginilah kalau orang alim yang berdo’a (makanya tri, banyak ibadah biar do’anya diijabah , jangan main mulu...J )
Jam 4 kami langsung pamitan, karena ummi Ninik ceramah lagi di Harapan Jaya. Artinya kami balik lagi ke arah Tembilahan. Lagi-lagi Allah menunjukkan Kuasa-Nya. Tepat waktu Magrib kami sudah sampai di Bayas Jaya, logikanya seharusnya belum karena jaraknya memakan waktu 3 jam apalagi jalanan licin penuh lumpur dan sempat mampir ke soto medan. Setelah sholat, bersama 1 orang anggota tambahan kami menuju Harapan Jaya. Sebenarnya saya sudah pernah beberapa kali ke sana, juga sudah biasa menyeberang sungai ketika pulang kampung, tapi di malam hari?? Belum pernah!! Pertama : karena tidak diizinkan ortu, kedua : mata saya minus tiga setengah, kalau malam apalagi hujan jarak pandang Cuma beberapa meter walaupun berkacamata. Ternyata ummi Ninik pun sama ’buta’nya dengan saya. Jadilah saya sepanjang perjalanan beristighfar, bertasbih, bertakbir, apa saja yang bisa saya lakukan untuk menenangkan hati yang berkebat-kebit. Terutama ketika di atas pompong (bagi yang tidak tau pompong bayangkan sampan yang dikasi mesin, cuma muat paling banyak 5 motor, di kampung saya lebih baik bisa muat 15 motor). Tanpa lampu, hanya cahaya bulan yang redup, ditambah mitos istana Raja Bujang di tengah sungai, ntah sepias apa wajah saya ketika itu.
Tapi ’penderitaan’ terbayar di Harapan Jaya. Kami dijamu habis-habisan oleh tuan rumah. Inilah momen yang paling menyenangkan kalo ke daerah, walaupun ga ada listrik tapi servisnya oke banget J serasa orang penting hehehe.....
Pagi, sudah siap untuk kembali ke Tembilahan. Agak kaget lihat motor yang ’berbaju’ pasir kering. Sampe ke tempat duduknya berpasir. Bahkan jas hujan saya pun yang aslinya abu-abu jadi ada gradasi kuning. Lumpur pasir kuning kalo kering lebih susah dibersihkan daripada lumpur tanah liat.
Ujian untuk kami rupanya masih berlanjut. Hanya beberapa meter dari penyeberangan motor yang saya kendarai (gantian, giliran saya yang bawa) berhenti mendadak. Ternyata rantainya putus. Alhamdulillah tuan rumah kami bisa bantu menyeberangkan dan bawa ke bengkel, sementara kami melanjutkan perjalanan dengan mobil tambang.
Selesaikah perjalanan kami? Untuk saya ya, ummi Ninik tidak. Beliau masih terus ke Pelangiran, beberapa jam dari Tembilahan dengan kondisi jalan mirip di Harapan Jaya, pas-pasan untuk 2 motor, dengan teman yang lain. Saya tidak ikut karena malamnya ada pernikahan teman di mana saya jadi panitianya.

Hmmm..... tanggal 19 nanti ntah bagaimana lagi serunya perjalanan kami, insya Allah ke kampung halaman saya.

Rabu, 18 Februari 2009

ZULHAMLI ALHAMIDI YANG BELIAU KENAL

ZULHAMLI ALHAMIDI YANG SAYA KENAL

Sudah belasan tahun saya mengenal sosok dan pribadi Zulhamli Alhamidi tanpa pernah menemukan kesalahannya sedikitpun kecuali satu kali ini saja. Saya prihatin dan bertanya-tanya apakah manusia memang tidak boleh khilaf suatu saat? Tulisan ini saya niatkan dalam rangka memenuhi salah satu hak-hak ukhuwwah beliau sebagai saudara saya sesama muslim.

Uda Zul, begitu panggilan akrabnya di kalangan anak-anak Rohis sejak jadi aktivis da’wah di kampus UNJA. Saya pun sekampus dengan beliau, cuma saya FE 93 sedangkan beliau Fapet 94. Tapi sejak sama-sama ngantor di Fraksi PKS, saya ikut memanggilnya Uda Zul karena memang usia beliau lebih tua 1 tahun dari saya. Saya juga satu majelis ta’lim dengan istri beliau, Mbak Lisa.

Da Zulhamli adalah anggota dewan paling miskin di DPRD Kota Jambi menurut ekspos LHKPN versi BPK tahun 2004 dengan asset pribadi ‘hanya’ Rp.3,5 juta saja (diikuti 3 rekan F-PKS lainnya yang sama-sama termasuk paling miskin, selain mas Hizbullah). Berita itu juga bikin polemik di koran lokal saat itu, karena Uda Zul memang sangat sederhana. Selain masih tinggal numpang di rumah mertua walau sudah punya 2 anak, Da Zul juga punya motor ‘butut’ yang selalu menemaninya ke manapun. Bahkan motor tua milik Da Zul sempat menginspirasi saya untuk bikin puisi (maaf file-nya belum ketemu). Dan motor tuanya itu sempat patah jadi dua saat suatu malam beliau ditabrak oleh pemuda yang sedang ngebut di dalam gang dalam perjalanan beliau menuju tempat Mabit ikhwan.

Ada dua momen yang paling berkesan tentang Da Zul dalam interaksinya dengan saya. Pertama, saat suatu hari saya datang ke Fraksi pagi-pagi dalam keadaan sangat lapar dan lemah karena tidak makan malam dan belum pula sarapan padahal saya sedang hamil. Dalam keadaan pusing dan gemetar karena benar-benar tak sanggup berdiri dan melangkah kuatir mendadak pingsan, Uda Zul tiba-tiba muncul di Fraksi. Saya sempat sungkan dan malu ingin meminta tolong Uda Zul memesan makanan ke kantin, tetapi pandangan mata saya sudah mulai agak gelap. Akhirnya dengan suara agak pelan, terucap juga permintaan tolong itu ke Da Zul. Saya pikir kalau saya akhirnya pingsan, bukankah Da Zul juga yang repot? Saya sangat merasa kurang sopan menyuruh seorang bapak dua anak, apalagi dengan level kaderisasi lebih tinggi dari saya, melakukan hal sepele seperti beli sesuatu ke kantin. Tapi alhamdulillah Da Zul benar-benar membantu saya pagi itu.

Yang kedua, saat polemik Pansus Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Penerapan PP.41/2007 di mana saya dipercaya menjadi Ketua Pansus di DPRD Kota Jambi. Posisi saya sangat sulit waktu itu, dilematis. Kesediaan Da Zul menjadi juru bicara Pansus, membacakan hasil kesimpulan Pansus di Rapat Paripurna walaupun berbeda pendapat dengan sikap akhir (stemmotivering) Fraksi PKS, sangat saya hargai. Pansus maunya ada penghematan anggaran melalui perampingan dinas sehingga sepakat dengan 9 Dinas saja dari Formasi 13 Dinas yang ada. Tetapi PKS pada menit-menit terakhir setelah masa lobi yang cukup alot, justru fix di formasi 14 Dinas mengikuti Golkar sebagai rekan koalisi Pilwako saat itu. Saya dan Da Zul sebetulnya utusan Fraksi yang tidak terlalu sepakat dengan hasil kesimpulan Pansus, tetapi toh khalayak juga taulah sikap pribadi kami tentu berafiliasi ke sikap akhir Fraksi PKS.

Beliau sosok yang pendiam, hanya bicara jika perlu saja. Dia orang yang sensitif, mudah tergugah hati. Da Zul pernah pingsan dalam suatu muhasabah sewaktu ada Dauroh Aleg PKS di Bengkulu. Da Zul juga pernah tiba-tiba menangis saat pidato membacakan Pandangan Umum Fraksi PKS saat santer menolak rehab gedung DPRD yang bakal menghabiskan dana APBD belasan miliar rupiah. Dan sehari setelah musibah dirinya dirazia di panti pijat itu, Da Zul juga 2 kali pingsan sebelum akhirnya datang ke DPW PKS Jambi untuk menghadapi konfrensi pers, lalu menyatakan mundur dari DPRD Kota Jambi sekaligus mundur dari pencalegannya di Dapil Jambi Timur-Pelayangan.

Jabatan terakhir Da Zul di DPRD Kota Jambi selain beliau adalah Wakil Ketua Fraksi PKS, beliau akhir Desember 2008 kemarin baru menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Ketua Komisi B. Di struktur partai, beliau adalah salah seorang Ketua Bidang di DPW. Beliau juga aktif di berbagai kegiatan di DPD dan DPC.

Saya tidak melihat ada gaya hidup yang berubah signifikan setelah Da Zul menjadi Aleg. Hingga saat ini beliau dan keluarganya masih ngontrak rumah sederhana di Talang Banjar (karena ada tuntutan Aleg PKS harus tinggal di Dapilnya). Di rumahnya pun tidak ada barang mewah. Selain motor tuanya itu, hanya tampak satu lemari penuh buku, televisi di ruang keluarga, room set anak-anak dan seperangkat kompor gas di dapur si ummi. Tidak ada sofa di sana, boro-boro koleksi keramik mewah!! Tamu yang datang terpaksa duduk lesehan di atas karpet sederhana. Kalaupun Da Zul sesekali bawa mobil Carry edisi lama, itu sebetulnya mobil milik mertuanya, kadang-kadang dipakai untuk menjemput anak-anaknya: Ainun, Ahmad dan si kecil Aziz.

Uda Zul memang sangat gemar olahraga Badminton seperti bapak-bapak anggota dewan yang lain. Kantor kami memang punya gedung olahraga sendiri, sehingga keluarga besar DPRD Kota bisa leluasa memanfaatkan waktu luang di situ. Di kantor, teman-teman Fraksi lain mengakui Da Zul cukup lihay main bulu tangkis ini. Mungkin saking semangat, badan Uda Zul sering pegal-pegal, saya yakin bapak-bapak sparing partner dia juga begitu jika terlalu menguras energi. Diakui oleh rekan-rekan sejawat, kalau pegal mereka kadang mampir rame-rame ke Panti Pijat Sehat Bersih yang lokasinya cukup dekat dari kantor dan memang punya izin operasional resmi dari Pemerintah Kota. Bahkan sesekali bapak-bapak itu bawa istri mereka sekedar pijat refleksi karena memang pengunjung laki-laki dan perempuan dibedakan tempat dan petugas yang melayaninya, harus sama-sama laki-laki atau sama-sama perempuan (Itulah yang saya heran mengapa pada kasus Da Zul koq justru petugasnya lain jenis? Menurut wartawan yang ikut Razia tetapi tidak ikut menjelek-jelekkan Aleg PKS di media, ada kemungkinan razia itu direkayasa. Tapi maaf saya tidak ingin buka di sini karena kuatir pencemaran nama baik pihak tertentu).

Yach… siapa sangka hobby berolahraga ini justru menjadi sandungan di belakang hari. Mungkin Allah ingin mengingatkan bahwa ada tupoksi Aleg yang lebih penting daripada sekedar riyadhoh. Wallohu a’lam.

Yang pasti, kinerja dan keikhlasan Uda Zul dalam beramal jauh lebih baik dibandingkan saya. Apa yang telah terjadi atas Da Zul adalah pertanda Allah masih sayang sama beliau, Allah mungkin sedang mempersiapkan rencana yang lebih baik untuk beliau dan keluarganya.

Tetapi terus terang kami di Fraksi belum siap kehilangan… Seseorang yang pergi begitu saja karena media lokal, nasional, cetak, elektronik, bahkan internet secara sistematis telah terlanjur membunuh karirnya tanpa ampun sampai beliau sangat malu dan tak punya muka lagi untuk sekedar datang ke kantor. Padahal tidak ada Perda dan aturan KUHP / KUHAP yang beliau langgar saat peristiwa di Panti Pijat itu. Beliau sedang pijat tradisional di tempat resmi dan petugas resmi, tidak ada asumsi razia yang dia langgar tapi Satpol PP dan Poltabes – dengan alasan mengamankan Pejabat Daerah – telah menggiring publik menuduh dia berbuat mesum dengan pemijat. Astaghfirullah… Kasihan Uda Zul. Sebagai kader Partai Da’wah, Dewan Syari’ah PKS lebih berhak menilai sejauh mana kesalahan beliau. Dan inisiatif pengunduran diri dari DPRD maupun dari pencalegannya di Pemilu 2009 adalah sebuah inisiatif yang patut dihormati. Bahkan itu sebetulnya masih terlalu berlebihan.

Kali terakhir saya bertemu dengan Uda Zul di DPRD – subhanalloh saya rasanya mau nangis lagi… - kami berlima duduk bersama di Fraksi PKS di Lantai 2, ngumpul saja karena Jum’at pagi itu tidak ada agenda rapat. Bang Dede sedang ngonsep Pandangan Umum RPJP di laptop, Mas Hiz baca koran, saya baca majalah Ghoib buat persiapan ngisi Rohis sejam lagi, sedangkan Bang Zay seingat saya baca printout PP.8/2008. Lalu Uda Zul? Dia serius memperhatikan HP-nya menyetel tilawah Qur’an (kalo gak salah, surat Al.Anfaal, taujih robbani yang paling mengena jelang Pemilu 2009). Murottal itu distel Da Zul agak keras sehingga saya yakin terdengar dari lantai bawah ruang Fraksi. Dan kami berlima cukup lama saling diam menyimak ayat-ayat Allah di sela kegiatan masing-masing, sampai menjelang jam 11 siang saya pamit duluan mau ke SMA 5….

Ah, Da Zul!! Ketika saya menjenguk ke rumahnya pasca pemberitaan itu untuk bertemu dengan istrinya (Mbak Lisa), hanya sekilas saya lihat Da Zul membukakan pintu untuk kami. Selebihnya, beliau lebih memilih masuk ke dalam. Hanya ada Mbak Lisa dan anak-anak yang menyambut kami dengan sejuta kesabaran di antara suara tertahan dan sesak di dadanya. Sementara mereka tegar, kami yang memandangi malah menangis. Sama seperti Da Zul, saya juga sudah belasan tahun mengenal Mbak Lisa sejak di Kampus, kami seangkatan 93. Selain dikenal sangat sabar dan pendiam, istri Da Zul juga seorang pekerja keras. Beliau guru SD Islam Terpadu Nurul Ilmi. Bayangkan bagaimana Mbak Lisa harus menghadapi ratusan wali murid yang bertanya-tanya tentang kejadian itu. Sementara anak-anak bertanya, “Ummi… Mengapa Abi tidak ngantor?”

Kasus razia panti pijat itu pahit banget yak!! Tidak terbayang kalau dalam sisa masa jabatan yang tinggal sekitar 5 bulan ini mendadak harus menghadapi drama voting di ruang Paripurna, sementara suara PKS kurang 1 orang… Walaupun saat ini isu pemecatan Kepala Satpol PP akibat salah ringkus di razia itu sudah disepakati oleh semua Fraksi di DPRD Kota Jambi (di sini total ada 40 kursi), kecuali Fraksi PKS memilih abstain untuk menjaga objektivitas. Saya masih tidak habis pikir, bukankah istri Kepala Satpol PP itu juga seorang akhwat PKS? Ah, otak saya masih bebal membaca situasi politis terselubung di balik penangkapan berdalih pengamanan Pejabat itu. Tapi semua respon dan dukungan dari internal DPRD Kota Jambi tidak akan mengembalikan kehidupan Da Zul seperti sedia kala. Mungkin butuh bertahun-tahun untuk pulih, entahlah.

Saya ingin katakan bahwa mungkin Uda Zul bersalah secara syari'ah (baca: berdosa) dan kasus ini sudah diambil alih DPP. Tetapi tidak layak kita ikut-ikutan memojokkan beliau. Dalam hearing Komisi A sepekan setelah kejadian itu, saya katakan kepada perwakilan Poltabes, Satpol PP, dan rombongan wartawan PWI yang hadir, "Al insaan makaanul khotho' wa khoiru khothoo-ihaa at tawwabiin." (Manusia adalah tempat berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat).

Sebagai sesama muslim, beliau adalah saudara kita yang punya hak-hak ukhuwwah dan harus kita tunaikan. Cukuplah beban vonis sosial yang ditanggungnya. Ingatlah istri dan anak-anak serta keluarga besar beliau ikut menanggung apa yang dirasakan Uda Zul. Sementara apa yang sudah kita lakukan hari-hari ini? Apakah memang kita merasa lebih baik akhlaqnya dibanding beliau? (Terutama untuk saya pribadi dan 1112 Aleg PKS se-Indonesia, kiranya lebih berhati-hati terhadap potensi jebakan dari lawan-lawan politik)

Wallohu a'lam.


http://pur76.multiply.com/journal/item/37/ZULHAMLI_ALHAMIDI_YANG_SAYA_KENAL

Rabu, 04 Februari 2009

Duhai Allah...

Duhai Allah....
Pemilik segala alam raya
kepadaMu bermuara do'a
kepadaMu bermuara cinta

duhai Allah...
hanya kepadaMu daku mengadu
kuberdo'a hanya kepadaMu
ya Allah jangan tinggalkan daku

duhai Allah Yang Kuasa
cahayaMu mulia alangkah indahnya
terangi hati yang lama resah
tentramkan jiwa yang gelisah

duhai Allah
rinduku biru hanyalah milikMu
dekatkanlah daku denganMu
ya Allah jangan tinggalkan daku

duhai Allah Yang Kuasa
cintaMu mulia alangkah indahnya
sirami hati yang lelah resah
teduhi jiwa yang gelisah


Allah....meski hanya setitik izinkan aku mencintaiMu

Maka nikmat-Ku yang mana lagi engkau dustakan?

Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukazzibaan.....
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah engkau dustakan?


Sungguh...nikmat manakah yang engkau dustakan?

Senin, 19 Januari 2009

KETIKA ALLAH BERKATA TIDAK

(Sebuah Renungan)
* Ya Allah ambillah kesombonganku dariku.
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
* Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
* Ya Allah beri aku kesabaran.
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
* Ya Allah beri aku kebahagiaan.
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri."
* Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan.
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."
* Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
* Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku.
Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti !"
RENUNGAN
Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.
Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali -- orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.
Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat dan selalu kekurangan
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil).
Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "RASA MALAS BERSUJUD" dan "demam DUNIA"....dan teruslah berdoa.
Jika engkau berduka karena dosa, ingatlah pada tobat.
Jika engkau mencari harta, ingatlah pada pertanggungjawaban amal di akhirat.
Jika engkau menghadapai hidangan, ingatlah pada orang yang kelaparan.
Jika sebuah cobaan menimpamu, mintalah pertolongan kepadaKu dengan membaca Laa haula walla quwwata illaa billahil'aliyyil'adziim.
Jika engkau sakit, sembuhkanlah dengan sedekah.
Jika engkau tertimpa bencana, katakanlah innalillahi wa innailaihi raji'un."


KETIKA ALLAH BERKATA TIDAK

(Sebuah Renungan)
* Ya Allah ambillah kesombonganku dariku.
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
* Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
* Ya Allah beri aku kesabaran.
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
* Ya Allah beri aku kebahagiaan.
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri."
* Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan.
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."
* Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
* Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku.
Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti !"
RENUNGAN
Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.
Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali -- orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.
Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat dan selalu kekurangan
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil).
Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "RASA MALAS BERSUJUD" dan "demam DUNIA"....dan teruslah berdoa.
Jika engkau berduka karena dosa, ingatlah pada tobat.
Jika engkau mencari harta, ingatlah pada pertanggungjawaban amal di akhirat.
Jika engkau menghadapai hidangan, ingatlah pada orang yang kelaparan.
Jika sebuah cobaan menimpamu, mintalah pertolongan kepadaKu dengan membaca Laa haula walla quwwata illaa billahil'aliyyil'adziim.
Jika engkau sakit, sembuhkanlah dengan sedekah.
Jika engkau tertimpa bencana, katakanlah innalillahi wa innailaihi raji'un."