Ini bukan dakwah, jika apa yang kita sebut kerja dakwah membuat kita lupa tilawah satu juz per hari, beralasan terlalu letih dengan semua aktivitas. Sedang kau tahu kekuatanmu bergerak berasal dari tilawahmu.
Ini bukan dakwah, jika apa yang kita selalu teriakkan -dengan lantang itu- membuat kita selalu terburu-buru lakukan shalat rawatib, bahkan tidak mengerjakannya dengan alasan rawatib hanya sebuah amalan sunnah. Padahal shalat rawatib bisa menutupi banyak ketidakkhusyukan, “diskusi-diskusi” di kepalamu pada saat melakukan shalat-shalat fardlumu. Menyempurnakannya. Kau tahu tapi kau remehkannya.
Ini bukan dakwah, jika apa yang selalu kita serukan -bersama ikhwah- membuat kita selalu saja terlewat mengerjakan qiyamul lail, mencari alasan bahwa kita telah telalu lelah “melayani umat” di siang hari. Umar Bin Khattab mengucapkan, “Jika kuisi malamku dengan tidur sungguh aku telah menyia-nyiakan jiwaku, jika kuisi siangku dengan tidur, sungguh aku telah menyianyiakan rakyatku“. Qiyamul lail adalah kekuatan Shalahuddin Al Ayyubi untuk menaklukkan semua musuhnya. Qiyamul lail adalah kekuatanmu, wahai para pengemban dakwah.
Sungguh ini sama sekali bukan dakwah! Jika dakwah membuatmu berani menunda shalat fardlu tanpa alasan syar’i, tanpa alasan yang jelas. Mengatasnamakan amal, padahal kita tahu bahwa kita seharusnya mengamalkan dalil bukan mendalilkan amal.
Ah…
Sedang kita mengharapkan pertolongan Allah swt. hadir untuk memberi kemudahan kepada kita untuk menempuh perjalanan dakwah yang panjang ini. Sedang kita mengharapkan dukungan Allah swt. hadir untuk menguatkan kita untuk meneruskan tongkat estafet dakwah yang sudah diperjuangkan para pendahulu. Sedang kita mengharapkan pertolongan dari Allah swt. untuk mendorong kita untuk terus maju menegakkan kalimatullah di muka bumi.
Akankah kemudahan, dukungan dan pertolongan itu akan datang dengan kualitas kita yang makin lama makin merosot?
Namun kita lupa bahwa kerja-kerja kita tidak boleh membuat kita jauh dari Allah swt., bahkan seharusnya kita makin dekat kepadaNYA. Makin taat kepadaNYA, makin semangat melakukan ibadah. Bukan malah menurun, bukan malah mengurangi jatah ibadah bahkan sama sekali tidak melakukannya. Ibadah itu kekuatan kita. Dakwah ini tidak hanya perlukan gerak kita, tapi butuh ruh dalam setiap gerakan kita.
Abdullah Azzam mengatakan,
“Amal Islami bukanlah aktivitas yang cukup dikerjakan di saat anda memiliki waktu luang dan bisa Anda tinggalkan saat sibuk. Tidak! Amal Islami terlalu agung dan mulia jika mesti diperlakukan begitu.”
Wallahu a’lam bish shawab….
copas from :http://jsattaubah.multiply.com/
Selasa, 04 Agustus 2009
Jumat, 24 Juli 2009
Saudaraku, Tetaplah Bertahan Sebagai Kader Da'wah ISLAM
Bismillahirrohmanirrohiim.
Alhamdulillah, dapat taujih dari seorang kontak di MP. beliau dapat dari salah satu Ustadnya yang beliau ketikan. Taujihnya mengkokohkan.
Semoga kita istiqomah dalam da'wah ISLAM.
Oh iya, saya gubah seperlunya tanpa meninggalkan esensi pesannya.
Selamat membaca:
***
Saudaraku! Kalian adalah orang yang dipilih Allah untuk terus bersama dakwah ISLAM ini, dikala satu persatu aktivis ISLAM berguguran meninggalkan kalian dengan seabrek amanah, tapi kalian masih setia menapakkan kaki. Berjuang menepis segala rintangan, menghantam gelombang yang datang. Tegar dalam badai, kudapati pada kalian wahai aktivis kader ISLAM di PK Sejahtera.
Saudaraku! Kalian dipilih oleh Allah untuk terus berjuang lewat jalur siyasi dan bidang lainnya. Banyak suara sumbang yang merobek gendang telingamu, menghentak dan menghempaskan perasaanmu. Saya tahu banyak air mata aktivis ISLAm di PKS yang bercucuran karena hinaan dan celaan yang begitu menyakitkan. Bahkan celaan itu dari mereka yang mengerti agama.
Tapi sekali lagi kudapati dari kalian sebuah kesabaran yang begitu terang. Biarkan mereka mencela, biarkan mereka menghina, biarkan mereka mengejek, biarkan mereka menghantam dengan fitnah, biarkan mereka! Kalian tetap bekerja lillahi ta’ala! Kalian tetap bergerak bersama alunan dakwah ISLAM yang begitu indah walau kadang menghentak. Tetaplah menyemai cinta bersama dakwah ISLAM.
Aku tahu hati kalian meringis menahan rasa sakit yang begitu menyiksa. Air mata kalian pun tumpah. Siapa yang tidak sakit digelar dan difitnah sebagai ahli bid’ah. Bahkan dipertanyakan keyakinannya. Siapa yang tidak sakit ketika dihina saudara sendiri dan dipandang bahwa kita telah termakan dunia. Sabar saudaraku! Perjuangan memang butuh pengorbanan. Tentunya kalian pernah mendengar kisah Rasulullah di Thaif, saat dilempari batu oleh kaumnya. Rasulullah berdarah, namun beliau tetap sabar. Rasa kasih sayang beliau lebih besar daripada amarahnya. Subhanallah!
Apa yang kita rasakan saat ini tidaklah sebanding dengan apa yang dirasakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Bahkan mereka jauh melangit daripada kita. Mereka memang sudah pantas mereguk air telaga Al kautsar, sedang kita mencium wangi syurga saja belum pantas.
Mereka mencelamu dan mencari semua kesalahanmu sampai ke akar-akarnya, tanpa tahu kesalahan sendiri, tanpa memperbaiki diri sendiri. Kalian teruslah bergerak, Karena bergerak itu ibadah, karena bergerak itu berpahala, bergerak itu sehat, bergerak itu ada seninya, bergerak itu adalah kader ISLAM di PKS.
Mereka berteriak menghinamu seolah hanya diri merekalah yang benar. Mereka berteriak menyalahkanmu seolah kebenaran hanya miliknya. Mereka merobek gendang telingamu seolah syurga hanya miliknya.
Tetaplah bertahan sebagai kader dakwah ISLAM, wahai saudaraku...
Disinilah...di jalan inilah... insya Allah kita akan bertemu kafilah2 kader dakwah ISLAM yg telah mendapati janji-NYA dan tengah merasakan kenikmatan yg hakiki...
Taujih ustadz Fathur...menjelang maghrib
Sumber: http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/159/
Alhamdulillah, dapat taujih dari seorang kontak di MP. beliau dapat dari salah satu Ustadnya yang beliau ketikan. Taujihnya mengkokohkan.
Semoga kita istiqomah dalam da'wah ISLAM.
Oh iya, saya gubah seperlunya tanpa meninggalkan esensi pesannya.
Selamat membaca:
***
Saudaraku! Kalian adalah orang yang dipilih Allah untuk terus bersama dakwah ISLAM ini, dikala satu persatu aktivis ISLAM berguguran meninggalkan kalian dengan seabrek amanah, tapi kalian masih setia menapakkan kaki. Berjuang menepis segala rintangan, menghantam gelombang yang datang. Tegar dalam badai, kudapati pada kalian wahai aktivis kader ISLAM di PK Sejahtera.
Saudaraku! Kalian dipilih oleh Allah untuk terus berjuang lewat jalur siyasi dan bidang lainnya. Banyak suara sumbang yang merobek gendang telingamu, menghentak dan menghempaskan perasaanmu. Saya tahu banyak air mata aktivis ISLAm di PKS yang bercucuran karena hinaan dan celaan yang begitu menyakitkan. Bahkan celaan itu dari mereka yang mengerti agama.
Tapi sekali lagi kudapati dari kalian sebuah kesabaran yang begitu terang. Biarkan mereka mencela, biarkan mereka menghina, biarkan mereka mengejek, biarkan mereka menghantam dengan fitnah, biarkan mereka! Kalian tetap bekerja lillahi ta’ala! Kalian tetap bergerak bersama alunan dakwah ISLAM yang begitu indah walau kadang menghentak. Tetaplah menyemai cinta bersama dakwah ISLAM.
Aku tahu hati kalian meringis menahan rasa sakit yang begitu menyiksa. Air mata kalian pun tumpah. Siapa yang tidak sakit digelar dan difitnah sebagai ahli bid’ah. Bahkan dipertanyakan keyakinannya. Siapa yang tidak sakit ketika dihina saudara sendiri dan dipandang bahwa kita telah termakan dunia. Sabar saudaraku! Perjuangan memang butuh pengorbanan. Tentunya kalian pernah mendengar kisah Rasulullah di Thaif, saat dilempari batu oleh kaumnya. Rasulullah berdarah, namun beliau tetap sabar. Rasa kasih sayang beliau lebih besar daripada amarahnya. Subhanallah!
Apa yang kita rasakan saat ini tidaklah sebanding dengan apa yang dirasakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Bahkan mereka jauh melangit daripada kita. Mereka memang sudah pantas mereguk air telaga Al kautsar, sedang kita mencium wangi syurga saja belum pantas.
Mereka mencelamu dan mencari semua kesalahanmu sampai ke akar-akarnya, tanpa tahu kesalahan sendiri, tanpa memperbaiki diri sendiri. Kalian teruslah bergerak, Karena bergerak itu ibadah, karena bergerak itu berpahala, bergerak itu sehat, bergerak itu ada seninya, bergerak itu adalah kader ISLAM di PKS.
Mereka berteriak menghinamu seolah hanya diri merekalah yang benar. Mereka berteriak menyalahkanmu seolah kebenaran hanya miliknya. Mereka merobek gendang telingamu seolah syurga hanya miliknya.
Tetaplah bertahan sebagai kader dakwah ISLAM, wahai saudaraku...
Disinilah...di jalan inilah... insya Allah kita akan bertemu kafilah2 kader dakwah ISLAM yg telah mendapati janji-NYA dan tengah merasakan kenikmatan yg hakiki...
Taujih ustadz Fathur...menjelang maghrib
Sumber: http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/159/
Minggu, 14 Juni 2009
Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro
RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan itu?
Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.
Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.
Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.
Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.
Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.
Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."
Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.
Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.
Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.
Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.
Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.
Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.
Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.
Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.
Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. ***
Oleh Anis Matta*
Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.
Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.
Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.
Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.
Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.
Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."
Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.
Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.
Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.
Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.
Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.
Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.
Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.
Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.
Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. ***
Oleh Anis Matta*
Sabtu, 13 Juni 2009
Entahlah...................
Entah sejak kapan antiklimaks itu terjadi. Hanya tanya yang selalu hadir, mengapa terjadi ? Lalu, mengapa tak jua diobati?
Entahlah...
Benih yang ditanam tak tumbuh tunas
Sampai kapan ia bertahan, ataukah kering lantas mati
Entahlah....
Aku lelah,
Lelah bertanya mengapa diri tak jua kembali
Lelah hingga mati rasa jiwa ini
Aku kalah
Huff.....belum dimulai sudah menyerah. Sudah terlihat dengan jelas seperti apa diri ini. Terjawab sudah pertanyaan yang pernah memenuhi benak. Maka pantas saja hidup biasa-biasa saja, karena memang hanya begitulah beban yang sanggup diterima.
Bukankah Ia hanya membebani sebatas yang kuasa ditahan?
Entahlah...
Benih yang ditanam tak tumbuh tunas
Sampai kapan ia bertahan, ataukah kering lantas mati
Entahlah....
Aku lelah,
Lelah bertanya mengapa diri tak jua kembali
Lelah hingga mati rasa jiwa ini
Aku kalah
Huff.....belum dimulai sudah menyerah. Sudah terlihat dengan jelas seperti apa diri ini. Terjawab sudah pertanyaan yang pernah memenuhi benak. Maka pantas saja hidup biasa-biasa saja, karena memang hanya begitulah beban yang sanggup diterima.
Bukankah Ia hanya membebani sebatas yang kuasa ditahan?
Rabu, 03 Juni 2009
Percaya Siapa?
Berita yang beredar :
Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Majalah Tempo, 7 Juni 2009 : “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik? Soal selembar kain saja kok dirisaukan?”
Astaghfirullah! Bagaimana jika pertanyaan itu dilanjutkan : “Apa kalau capresnya shalat, puasa, zakat, dan berhaji lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?” Sama dengan shalat, puasa, zakat dan berhaji, jilbab itu perintah Qur’an. Demi koalisi dengan SBY-Boediono, Tifatul tega mereduksi perintah Qur’an jadi “soal selembar kain”. Astaghfirullah!
Klarifikasi dari Ust Tifatul (via sms kepada seorang ustadz yang meminta klarifikasi):
Antum percaya Tempo atau ana? Antum baca deh artikel yang menyerang PKS di Tempo. Dia tanya, “Apakah PKS menekan SBY agar Bu Ani pakai jilbab?”, saya bilang “bukan!”. Dia tanya, “Apakah Bu Ani berjilbab lantaran alasan politik?”, saya jawab “Nggak tahu, tanya langsung ke orangnya!” “Anda ini rewel banget,” kata saya, “urusan selembar kain diatas kepala wanita, die gak pake kerudung ente ributin, dah pake kerudung diributin juga!”. Itu bahasa saya ke Tempo, yang saya tahu wataknya tidak Islami. Nah, percaya siapa?
Percaya pada siapa? Kalau saya tetap percaya qiyadah, terserah kalau mau dikatakan taqlid.
Penjelasan lengkapnya baca di sini
Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Majalah Tempo, 7 Juni 2009 : “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik? Soal selembar kain saja kok dirisaukan?”
Astaghfirullah! Bagaimana jika pertanyaan itu dilanjutkan : “Apa kalau capresnya shalat, puasa, zakat, dan berhaji lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?” Sama dengan shalat, puasa, zakat dan berhaji, jilbab itu perintah Qur’an. Demi koalisi dengan SBY-Boediono, Tifatul tega mereduksi perintah Qur’an jadi “soal selembar kain”. Astaghfirullah!
Klarifikasi dari Ust Tifatul (via sms kepada seorang ustadz yang meminta klarifikasi):
Antum percaya Tempo atau ana? Antum baca deh artikel yang menyerang PKS di Tempo. Dia tanya, “Apakah PKS menekan SBY agar Bu Ani pakai jilbab?”, saya bilang “bukan!”. Dia tanya, “Apakah Bu Ani berjilbab lantaran alasan politik?”, saya jawab “Nggak tahu, tanya langsung ke orangnya!” “Anda ini rewel banget,” kata saya, “urusan selembar kain diatas kepala wanita, die gak pake kerudung ente ributin, dah pake kerudung diributin juga!”. Itu bahasa saya ke Tempo, yang saya tahu wataknya tidak Islami. Nah, percaya siapa?
Percaya pada siapa? Kalau saya tetap percaya qiyadah, terserah kalau mau dikatakan taqlid.
Penjelasan lengkapnya baca di sini
Senin, 25 Mei 2009
Selasa, 12 Mei 2009
Serikat Untuk KUASA KESHALIHAN
Ada satu kaidah yang senantiasa ditekankan ‘Umar ibn Al Khaththab bagi kemashlahatan sebuah ummat; kekuatan yang berpadu dengan keshalihan dan kelemahan yang menjadi ciri kebathilan. Begitulah seharusnya, karena syari’at ini tidak utopis untuk kemudian mencitakan ‘Negara Malaikat’. Sampai kapan juga, dalam tiap manusia dan masyarakat, potensi negatif akan tetap ada. Yang ditegaskan ‘Umar adalah konsep realistisnya; potensi keshalihan itu menjadi kinesi besar kemajuan dengan percepatan tertentu, sedangkan sang kebathilan dimasukkan ke zona lembam dalam diam.
Da’wah kini ditantang untuk membuktikan ideologi dan metodologinya dalam amal nyata pengelolaan hajat hidup masyarakat. Dulu, kita boleh mencukupkan diri dengan tertanamnya keyakinan Islam sebagai solusi dan tersebarnya fikrah keshalihan. Kini, masyarakat bertanya, “Di manakah bukti keunggulan sistem Islam dalam mengatur urusan kami?”
Lalu apakah kita bisa membuktikannya jika tak memasuki inner-circle pengelolaan publik itu? Oh, bahkan Yusuf pun takkan bisa membuktikan bahwa dia yang seorang muslim itu amanah dan kompeten jika tak memegang kuasa perbendaharaan negara. Dalam konteks wilayah pengelolaan publik seperti sebuah kota, maka sebuah jama’ah da’wah memerlukan diri untuk tak hanya memperjuangkan Furqan, tapi juga mengelola Sulthan. Itulah energi pembangkit untuk menjamakkan keshalihan dan membekuk kebathilan sebagaimana dimaksud ’Umar; kekuasaan. Maka benarlah ‘Utsman ibn ‘Affan sang penulis wahyu, “Dengan kekuasaan lah, Allah menegakkan apa-apa yang tak bisa ditegakkan hanya dengan Al Quran.”
Bagaimana keshalihan bisa menyatu dengan kekuasaan? Idealnya, tentu mutlak. Kekuasaan adalah milik dakwah, oleh dakwah, dan untuk dakwah. Tetapi Rasulullah mencontohkan pada kita bahwa berserikat adalah jalan yang setapak demi setapak kita upayakan, hingga dakwah itu men-shibghah perserikatan, dan perserikatan itu men-shibghah alam semesta dengan nilai keshalihan. Dari Sirah Nabawi, kita berkaca tentang prinsip-prinsipnya.
1.Dakwah Adalah Dakwah
Ada satu pesan yang menjadi manifesto paling sederhana da’wah kita, “Perbaiki dirimu, dan ajak yang selainmu!” Dalam terjemah yang lebih luas di ranah pengelolaan publik, kalimat “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka!” itu tentu bermakna melibatkan semua pihak yang peduli pada perbaikan kondisi. Pun ketika untuk menuju kekuasaan, sebuah da’wah harus bekerjasama dengan pihak lain, itupun dalam konteks dakwah. Minimal dalam dua sisi. Pertama, mendakwahi pihak yang diajak bekerjasama hingga mereka ter-shibghah dengan nilai-nilai Ilahiyah. Dan kedua, bersama dengan rekan seperjuangan yang terdakwahi itu memperbesar peluang menangnya keshalihan di panggung kuasa pengelolaan publik.
Terra Incognita. Ke sanalah dakwah menuju. Ke tempat di mana selama ini bicara keshalihan adalah tabu. Adalah Shafwan ibn ’Umayyah yang musyrik, mulanya meminjamkan ratusan baju besi kepada Nabi dengan sistem sewa. Pasca-perang, ketika dilihatnya akhlaq sang Nabi dalam memenuhi perjanjian, ia menyatakan keislamannya, tentu disertai ketulusan untuk menjihadkan semua hartanya dalam dakwah. Dan kini, tanpa sewa.
2.Mendahulukan Tercegahnya Kerusakan
Dar'ul mafasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih. Ini kaidah yang indah dalam menentukan suatu keputusan. ”Menolak kerusakan itu, didahulukan daripada terraihnya kebaikan-kebaikan.” Kaidah ini sesungguhnya tercermin dari keseluruhan teks piagam Madinah yang kita kutip sebagian kecilnya berikut ini:
”..Sesungguhnya orang Yahudi wajib mengeluarkan dana bersama kaum muslimin selama mereka diperangi oleh musuh. Orang Yahudi Bani Auf merupakan satu bangsa bersama kaum muslimin. Bagi Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Budak-budak dan jiwa mereka terlindungi, kecuali bagi orang yang berbuat dan melakukan tindak kejahatan..”
Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam memasuki Madinah sebagai seorang pendatang, tetapi telah memiliki pengikut yang banyak. Nilai tawar itulah yang kemudian beliau pakai untuk menyusun pakta kerjasama yang kuat antara beliau dengan semua kelompok berpengaruh di Madinah. Mereka terikat oleh kepentingan yang sama untuk menjadikan Madinah sebagai tempat tinggal bersama, yang tetap kondusif dan aman dari gangguan musuh. Substansi ini lebih bersifat mencegah kerusakan.
Sebenarnya, selain dalam ”What” dan ”How”, kaidah ini dipakai oleh jama’ah dakwah untuk merumuskan kerjasama mereka dengan siapapun. ”Who”-nya juga. Sesungguhnya dalam konteks Islam dan dakwah, mencegah kemunkaran dan kerusakan itu didahulukan daripada meraih kebaikan-kebaikan. Seperti apa pemimpin yang akan dipilih? Jika ada dua pilihan, di mana yang satu berkompeten dalam menebar kebaikan namun tak mampu bersikap terhadap kemunkaran, sementara satu pihak lagi adalah orang yang mampu mencegah kerusakan meski kemampuannya menebar kebaikan belum teruji, mana yang dipilih? Jawabannya sama, ”Dar'ul mafasid muqaddamun ’alaa jalbil mashaalih.”
Pilihlah pencegah kemunkaran! Karena sesungguhnya, kemashlahatan sejati di sisi Allah hanya dapat diraih dalam kondisi kemunkaran dan kerusakan minimal. Di situlah barakah Allah dikaruniakan, bukan pada orang yang menebar pembangunan dan kebaikan-kebaikan namun tak mempedulikan kemunkaran. Barakah Allah turun, pada ketaqwaan: takut yang sangat pada Allah untuk mendurhakaiNya.
”Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raaf 96)
3.Ikatan Kontrak yang Kuat
Sulitnya sebuah jama’ah dakwah bekerjasama dengan selain mereka, kadang berlatar asumsi bahwa tidak ada kata ’pengkhianatan’ dalam kamus pihak-pihak itu. Akan jadi lucu, jika kemudian pengkhianatan terjadi, hanya kita yang bisa berteriak, ”Kami dikhianati!” Lalu mereka bertanya, ”Apanya? Ini tidak diatur dalam butir-butir kontrak meski kemudian menguntungkan kami dan merugikan kalian?”
Nah, Rasulullah memberikan teladan bahwa sebuah kontrak tak boleh memberi celah bagi pihak yang diajak bekerjasama untuk menelikung. Tugas kita, menutup semua celah itu, bukan dengan sekedar percaya pada komitmen awal. Bahkan kalau perlu, siapkan kekuatan pemaksa agar mereka selalu mentaati kontraknya. Subhaanallaah, perhatikan bunyi surat teguran beliau ketika Yahudi Bani Nadhir diintimidasi Quraisy agar berkhianat pada Sang Nabi. Syaikh Munir Al Ghadban mengutipnya dalam Manhaj Al Haraki,
”Telah sampai kepadaku berita tentang ancaman Quraisy kepada kalian. Ternyata rencana jahat mereka terhadap kalian tidak lebih hebat daripada rencana jahat kalian terhadap diri kalian sendiri. Kalian bahkan ingin memerangi anak-anak dan saudara-saudara kalian sendiri, yakni penduduk Madinah!”
4.Ketegasan dalam Pengkhianatan
Lelaki tampan itu tampak pucat. Dari atas kudanya ia terus menggumamkan doa, “Ya Allah berikan kesempatan padaku untuk menyelesaikan urusan dengan Bani Quraizhah..!” Dan hari itu, lukanya yang terus mengalirkan darah dari nadi yang pecah dibebat kuat-kuat. Ia, Sa’d ibn Mu’adz Radhiyallaahu ‘Anhu, pemimpin Aus, datang sebagai hakim yang diridhai Yahudi Bani Quraizhah untuk menyelesaikan sengketa pengkhianatan mereka kepada Rasulullah dalam Perang Khandaq. Sebenarnya, Rasulullah sendiri berhak untuk memutuskan vonisnya. Hanya saja ada makna lebih dalam di sana: penghormatan, meredam gejolak, dan memuaskan semua pihak.
“Sambutlah Sayyid kalian..!”, begitu Rasulullah berujar ketika melihatnya datang tertatih. Bani Quraizhah menerima Sa’d menjadi hakim, karena suku Aus adalah sekutu mereka di masa Jahiliah. Para pemuka Aus pun berpesan pada Sa’d agar bertindak bijaksana, mengingat Rasulullah telah menyerahkan urusan ini kepadanya agar dia berbuat baik terhadap sekutu-sekutunya.
Tapi apa kata Sa’d sebagai vonis? “Telah tiba saatnya bagi Sa’d untuk tak lagi mempedulikan cercaan para pencela dalam memutuskan hukum karena Allah. Semua laki-laki yang di antara Bani Quraizhah harus dibunuh! Anak-anak dan wanita-wanita mereka dijadikan tawanan! Dan harta mereka disita!”
“Sungguh”, kata Rasulullah, “Engkau telah memberikan keputusan menurut hukum Allah..” Beberapa hari setelah itu, sang hakim terus terbaring sakit di tenda Rufaidah. Darah terus mengalir dari lukanya hingga seorang shahabiyah berkata, “Bagai sebuah selokan!” Akhirnya ruhnya pergi menemui Allah dalam keadaan ridha lagi diridhai. Kedahsyatan kematiannya pun, sampai-sampai membuat ’Arsy berguncang. ”’Arsy berguncang”, kata Sang Nabi, ”Ketika ruh Sa’d ibn Mu’adz diangkat ke langit!”
5.Mendesain Selalu Keteladanan Baru
Tantangan selalu muncul saat kita memasuki wilayah baru. Bahkan dalam hal yang sangat sederhana. Saat kita sedang membangun kebiasaan bangun malam untuk menghadap Allah dalam tahajjud, rasa-rasanya tantangan kita ada pada daya diri untuk bangun dan melangkah ke tempat wudhu. Tetapi begitu kebiasaan bangun itu tersistemkan dalam tubuh kita, tantangan baru muncul: mengapa shalat kita terasa kering? Dulu, ketika bangun terasa sulit, shalat kita rasa-rasanya lebih khusyu’ daripada kini.
Demikian pula di wilayah baru pengelolaan publik. Kita harus semakin cerdas mendesain
keteladanan baru. Dulu, demonstrasi memperjuangkan kepentingan masyarakat menjadi istimewa. Dulu, anggota dewan yang mengembalikan uang tidak jelas menjadi keteladanan yang sangat istimewa. Dulu anggota dewan yang menolak KunKer tanpa agenda nyata, itu istimewa. Dulu, partai yang memiliki layanan sosial adalah keteladanan istimewa. Dulu, partai yang menerjunkan satgasnya ke lokasi bencana adalah keteladanan istimewa. Kini? Nanti dulu. Masyarakat semakin menganggapnya sebagai hal yang biasa karena tak hanya partai dakwah yang bisa melakukannya. Tentu, kita syukuri hal itu sebagai suatu keberhasilan dakwah, bahwa kini –terlepas apapun motifnya- ada lebih banyak kepedulian.
Selanjutnya, sesudah bersyukur tentu prinsip ’Yakhtaliyatun wa lakin yatamayyazun’. Bagaimana agar identitas dakwah tidak kabur karena kurangnya keteladanan. Nah, seperti ’Umar mencegah para panglimanya memiliki tanah agar mereka tak kehilangan daya ekspansi, jama’ah dakwah perlu terus membangun sistem yang mendukung terciptanya keteladanan baru yang tak usang tak lekang dari para kader dakwah yang mengelola kepentingan publik, yang menggiatkan penguatan struktur, maupun yang bergerilya di ranah sya’biyah.
Selamat berserikat. Seperti kata Dr. Surahman Hidayat, “Tanggungjawab ini kita bagi bersama, tapi kita tetap sebagai pionernya!” Inilah serikat, untuk kuasa keshalihan.
Salim A. Fillah, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim, BAB VI
Da’wah kini ditantang untuk membuktikan ideologi dan metodologinya dalam amal nyata pengelolaan hajat hidup masyarakat. Dulu, kita boleh mencukupkan diri dengan tertanamnya keyakinan Islam sebagai solusi dan tersebarnya fikrah keshalihan. Kini, masyarakat bertanya, “Di manakah bukti keunggulan sistem Islam dalam mengatur urusan kami?”
Lalu apakah kita bisa membuktikannya jika tak memasuki inner-circle pengelolaan publik itu? Oh, bahkan Yusuf pun takkan bisa membuktikan bahwa dia yang seorang muslim itu amanah dan kompeten jika tak memegang kuasa perbendaharaan negara. Dalam konteks wilayah pengelolaan publik seperti sebuah kota, maka sebuah jama’ah da’wah memerlukan diri untuk tak hanya memperjuangkan Furqan, tapi juga mengelola Sulthan. Itulah energi pembangkit untuk menjamakkan keshalihan dan membekuk kebathilan sebagaimana dimaksud ’Umar; kekuasaan. Maka benarlah ‘Utsman ibn ‘Affan sang penulis wahyu, “Dengan kekuasaan lah, Allah menegakkan apa-apa yang tak bisa ditegakkan hanya dengan Al Quran.”
Bagaimana keshalihan bisa menyatu dengan kekuasaan? Idealnya, tentu mutlak. Kekuasaan adalah milik dakwah, oleh dakwah, dan untuk dakwah. Tetapi Rasulullah mencontohkan pada kita bahwa berserikat adalah jalan yang setapak demi setapak kita upayakan, hingga dakwah itu men-shibghah perserikatan, dan perserikatan itu men-shibghah alam semesta dengan nilai keshalihan. Dari Sirah Nabawi, kita berkaca tentang prinsip-prinsipnya.
1.Dakwah Adalah Dakwah
Ada satu pesan yang menjadi manifesto paling sederhana da’wah kita, “Perbaiki dirimu, dan ajak yang selainmu!” Dalam terjemah yang lebih luas di ranah pengelolaan publik, kalimat “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka!” itu tentu bermakna melibatkan semua pihak yang peduli pada perbaikan kondisi. Pun ketika untuk menuju kekuasaan, sebuah da’wah harus bekerjasama dengan pihak lain, itupun dalam konteks dakwah. Minimal dalam dua sisi. Pertama, mendakwahi pihak yang diajak bekerjasama hingga mereka ter-shibghah dengan nilai-nilai Ilahiyah. Dan kedua, bersama dengan rekan seperjuangan yang terdakwahi itu memperbesar peluang menangnya keshalihan di panggung kuasa pengelolaan publik.
Terra Incognita. Ke sanalah dakwah menuju. Ke tempat di mana selama ini bicara keshalihan adalah tabu. Adalah Shafwan ibn ’Umayyah yang musyrik, mulanya meminjamkan ratusan baju besi kepada Nabi dengan sistem sewa. Pasca-perang, ketika dilihatnya akhlaq sang Nabi dalam memenuhi perjanjian, ia menyatakan keislamannya, tentu disertai ketulusan untuk menjihadkan semua hartanya dalam dakwah. Dan kini, tanpa sewa.
2.Mendahulukan Tercegahnya Kerusakan
Dar'ul mafasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih. Ini kaidah yang indah dalam menentukan suatu keputusan. ”Menolak kerusakan itu, didahulukan daripada terraihnya kebaikan-kebaikan.” Kaidah ini sesungguhnya tercermin dari keseluruhan teks piagam Madinah yang kita kutip sebagian kecilnya berikut ini:
”..Sesungguhnya orang Yahudi wajib mengeluarkan dana bersama kaum muslimin selama mereka diperangi oleh musuh. Orang Yahudi Bani Auf merupakan satu bangsa bersama kaum muslimin. Bagi Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Budak-budak dan jiwa mereka terlindungi, kecuali bagi orang yang berbuat dan melakukan tindak kejahatan..”
Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam memasuki Madinah sebagai seorang pendatang, tetapi telah memiliki pengikut yang banyak. Nilai tawar itulah yang kemudian beliau pakai untuk menyusun pakta kerjasama yang kuat antara beliau dengan semua kelompok berpengaruh di Madinah. Mereka terikat oleh kepentingan yang sama untuk menjadikan Madinah sebagai tempat tinggal bersama, yang tetap kondusif dan aman dari gangguan musuh. Substansi ini lebih bersifat mencegah kerusakan.
Sebenarnya, selain dalam ”What” dan ”How”, kaidah ini dipakai oleh jama’ah dakwah untuk merumuskan kerjasama mereka dengan siapapun. ”Who”-nya juga. Sesungguhnya dalam konteks Islam dan dakwah, mencegah kemunkaran dan kerusakan itu didahulukan daripada meraih kebaikan-kebaikan. Seperti apa pemimpin yang akan dipilih? Jika ada dua pilihan, di mana yang satu berkompeten dalam menebar kebaikan namun tak mampu bersikap terhadap kemunkaran, sementara satu pihak lagi adalah orang yang mampu mencegah kerusakan meski kemampuannya menebar kebaikan belum teruji, mana yang dipilih? Jawabannya sama, ”Dar'ul mafasid muqaddamun ’alaa jalbil mashaalih.”
Pilihlah pencegah kemunkaran! Karena sesungguhnya, kemashlahatan sejati di sisi Allah hanya dapat diraih dalam kondisi kemunkaran dan kerusakan minimal. Di situlah barakah Allah dikaruniakan, bukan pada orang yang menebar pembangunan dan kebaikan-kebaikan namun tak mempedulikan kemunkaran. Barakah Allah turun, pada ketaqwaan: takut yang sangat pada Allah untuk mendurhakaiNya.
”Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raaf 96)
3.Ikatan Kontrak yang Kuat
Sulitnya sebuah jama’ah dakwah bekerjasama dengan selain mereka, kadang berlatar asumsi bahwa tidak ada kata ’pengkhianatan’ dalam kamus pihak-pihak itu. Akan jadi lucu, jika kemudian pengkhianatan terjadi, hanya kita yang bisa berteriak, ”Kami dikhianati!” Lalu mereka bertanya, ”Apanya? Ini tidak diatur dalam butir-butir kontrak meski kemudian menguntungkan kami dan merugikan kalian?”
Nah, Rasulullah memberikan teladan bahwa sebuah kontrak tak boleh memberi celah bagi pihak yang diajak bekerjasama untuk menelikung. Tugas kita, menutup semua celah itu, bukan dengan sekedar percaya pada komitmen awal. Bahkan kalau perlu, siapkan kekuatan pemaksa agar mereka selalu mentaati kontraknya. Subhaanallaah, perhatikan bunyi surat teguran beliau ketika Yahudi Bani Nadhir diintimidasi Quraisy agar berkhianat pada Sang Nabi. Syaikh Munir Al Ghadban mengutipnya dalam Manhaj Al Haraki,
”Telah sampai kepadaku berita tentang ancaman Quraisy kepada kalian. Ternyata rencana jahat mereka terhadap kalian tidak lebih hebat daripada rencana jahat kalian terhadap diri kalian sendiri. Kalian bahkan ingin memerangi anak-anak dan saudara-saudara kalian sendiri, yakni penduduk Madinah!”
4.Ketegasan dalam Pengkhianatan
Lelaki tampan itu tampak pucat. Dari atas kudanya ia terus menggumamkan doa, “Ya Allah berikan kesempatan padaku untuk menyelesaikan urusan dengan Bani Quraizhah..!” Dan hari itu, lukanya yang terus mengalirkan darah dari nadi yang pecah dibebat kuat-kuat. Ia, Sa’d ibn Mu’adz Radhiyallaahu ‘Anhu, pemimpin Aus, datang sebagai hakim yang diridhai Yahudi Bani Quraizhah untuk menyelesaikan sengketa pengkhianatan mereka kepada Rasulullah dalam Perang Khandaq. Sebenarnya, Rasulullah sendiri berhak untuk memutuskan vonisnya. Hanya saja ada makna lebih dalam di sana: penghormatan, meredam gejolak, dan memuaskan semua pihak.
“Sambutlah Sayyid kalian..!”, begitu Rasulullah berujar ketika melihatnya datang tertatih. Bani Quraizhah menerima Sa’d menjadi hakim, karena suku Aus adalah sekutu mereka di masa Jahiliah. Para pemuka Aus pun berpesan pada Sa’d agar bertindak bijaksana, mengingat Rasulullah telah menyerahkan urusan ini kepadanya agar dia berbuat baik terhadap sekutu-sekutunya.
Tapi apa kata Sa’d sebagai vonis? “Telah tiba saatnya bagi Sa’d untuk tak lagi mempedulikan cercaan para pencela dalam memutuskan hukum karena Allah. Semua laki-laki yang di antara Bani Quraizhah harus dibunuh! Anak-anak dan wanita-wanita mereka dijadikan tawanan! Dan harta mereka disita!”
“Sungguh”, kata Rasulullah, “Engkau telah memberikan keputusan menurut hukum Allah..” Beberapa hari setelah itu, sang hakim terus terbaring sakit di tenda Rufaidah. Darah terus mengalir dari lukanya hingga seorang shahabiyah berkata, “Bagai sebuah selokan!” Akhirnya ruhnya pergi menemui Allah dalam keadaan ridha lagi diridhai. Kedahsyatan kematiannya pun, sampai-sampai membuat ’Arsy berguncang. ”’Arsy berguncang”, kata Sang Nabi, ”Ketika ruh Sa’d ibn Mu’adz diangkat ke langit!”
5.Mendesain Selalu Keteladanan Baru
Tantangan selalu muncul saat kita memasuki wilayah baru. Bahkan dalam hal yang sangat sederhana. Saat kita sedang membangun kebiasaan bangun malam untuk menghadap Allah dalam tahajjud, rasa-rasanya tantangan kita ada pada daya diri untuk bangun dan melangkah ke tempat wudhu. Tetapi begitu kebiasaan bangun itu tersistemkan dalam tubuh kita, tantangan baru muncul: mengapa shalat kita terasa kering? Dulu, ketika bangun terasa sulit, shalat kita rasa-rasanya lebih khusyu’ daripada kini.
Demikian pula di wilayah baru pengelolaan publik. Kita harus semakin cerdas mendesain
keteladanan baru. Dulu, demonstrasi memperjuangkan kepentingan masyarakat menjadi istimewa. Dulu, anggota dewan yang mengembalikan uang tidak jelas menjadi keteladanan yang sangat istimewa. Dulu anggota dewan yang menolak KunKer tanpa agenda nyata, itu istimewa. Dulu, partai yang memiliki layanan sosial adalah keteladanan istimewa. Dulu, partai yang menerjunkan satgasnya ke lokasi bencana adalah keteladanan istimewa. Kini? Nanti dulu. Masyarakat semakin menganggapnya sebagai hal yang biasa karena tak hanya partai dakwah yang bisa melakukannya. Tentu, kita syukuri hal itu sebagai suatu keberhasilan dakwah, bahwa kini –terlepas apapun motifnya- ada lebih banyak kepedulian.
Selanjutnya, sesudah bersyukur tentu prinsip ’Yakhtaliyatun wa lakin yatamayyazun’. Bagaimana agar identitas dakwah tidak kabur karena kurangnya keteladanan. Nah, seperti ’Umar mencegah para panglimanya memiliki tanah agar mereka tak kehilangan daya ekspansi, jama’ah dakwah perlu terus membangun sistem yang mendukung terciptanya keteladanan baru yang tak usang tak lekang dari para kader dakwah yang mengelola kepentingan publik, yang menggiatkan penguatan struktur, maupun yang bergerilya di ranah sya’biyah.
Selamat berserikat. Seperti kata Dr. Surahman Hidayat, “Tanggungjawab ini kita bagi bersama, tapi kita tetap sebagai pionernya!” Inilah serikat, untuk kuasa keshalihan.
Salim A. Fillah, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim, BAB VI
Langganan:
Postingan (Atom)