Senin, 19 Januari 2009

KETIKA ALLAH BERKATA TIDAK

(Sebuah Renungan)
* Ya Allah ambillah kesombonganku dariku.
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
* Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
* Ya Allah beri aku kesabaran.
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
* Ya Allah beri aku kebahagiaan.
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri."
* Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan.
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."
* Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
* Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku.
Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti !"
RENUNGAN
Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.
Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali -- orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.
Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat dan selalu kekurangan
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil).
Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "RASA MALAS BERSUJUD" dan "demam DUNIA"....dan teruslah berdoa.
Jika engkau berduka karena dosa, ingatlah pada tobat.
Jika engkau mencari harta, ingatlah pada pertanggungjawaban amal di akhirat.
Jika engkau menghadapai hidangan, ingatlah pada orang yang kelaparan.
Jika sebuah cobaan menimpamu, mintalah pertolongan kepadaKu dengan membaca Laa haula walla quwwata illaa billahil'aliyyil'adziim.
Jika engkau sakit, sembuhkanlah dengan sedekah.
Jika engkau tertimpa bencana, katakanlah innalillahi wa innailaihi raji'un."


Sabtu, 17 Januari 2009

Maaf, Kami Beda

assalaamu’alaikum wr. wb.



Maaf, kami bukan partai murahan seperti itu. Sebelum jadi partai pun kami sudah aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan, apalagi untuk Palestina. Jauh sebelum itu, para qiyadah kami sudah menggadai nyawa demi Palestina. Bagi kami, Al-Quds bukan di seberang lautan, melainkan sejarak uluran tangan. Memang hanya sedikit yang bisa kami lakukan, namun Allah Maha Teliti perhitungan-Nya.



Maaf, seandainya yang kami lakukan tempo hari itu dianggap kampanye. Jika kampanye adalah berkumpul, hura-hura, bersorak-sorai, sambil mengenakan atribut partai, maka kami bukanlah partai yang menggantungkan diri pada hal tersebut. Kami hanyalah sekelompok hamba Allah yang sederhana dan mudah dikenali. Jangankan dengan atribut partai, tanpa atribut pun biasanya orang mudah mengenali kami.



Kata Al-Qur’an, tidak ada shibghah yang lebih kental daripada shibghah Allah. Sudah pernahkah Anda mendengar kata ini? Jika kaus putih Anda berwarna merah setelah dicelup dalam cairan pewarna merah, itulah shibghah. Iman memang letaknya di dalam hati, namun tak mungkin sepenuhnya disembunyikan. Adakalanya hati ini bangkit ‘izzah-nya dan meluap-luap sampai orang-orang bisa melihatnya dari sorot mata, gurat senyum, dan tangan yang terkepal.



Maaf, kami memang tak pernah mementingkan atribut. Atribut apa pun yang dipakai, orang bilang kami ini begitu mudah dikenali. Kami hanya berdoa, itulah shibghah Allah; yang lebih kentara warnanya daripada warna-warni lainnya.



Kami sadar bahwa kami hidup di tengah-tengah peradaban yang begitu mementingkan atribut. Dengan atribut pun media massa masih tidak adil terhadap umat Islam; seolah-olah umat ini tak pernah memeras keringat demi negara. Masih ada saja yang bilang, “Buat apa mengurusi Palestina, sementara negeri sendiri ditelantarkan?” Sebagian diantara kami berkesimpulan bahwa inilah yang terjadi jika atribut ditanggalkan. Orang tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) bahwa kami pun ikut menyumbang negeri ini dengan darah, keringat, dan air mata. Oleh karena itu, kami pun tak berani meremehkan atribut.



Maaf, pikiran kami tak pernah sampai ke tempat yang Anda-Anda bicarakan. Beberapa hari sebelum aksi itu, SMS bertebaran. Salah satu SMS yang kami terima berbunyi : “Kerahkan semua tenaga demi Palestina! Sumbangkan waktu, tenaga, suara dan hartamu untuk jihad! Ikutilah aksi demonstrasi mendukung Palestina, dari Bundaran HI sampai Kedubes Amerika pada 02/01/09! Kenakan atribut partai, tunjukkan bahwa kader PKS bulat suaranya mendukung saudara-saudara kita di Palestina!” Sebagian SMS yang lain nadanya lebih formil, namun kurang lebih seperti itu. Tak sekalipun terdengar seruan untuk mendulang suara dari melayangnya nyawa para syuhada di Palestina. Tak ada secuil pun usaha untuk menarik simpati masyarakat kepada PKS. Semua orang tahu siapa kami, dan semua orang tahu bagaimana sikap kami terhadap Palestina. Kami tidak pernah merasa perlu melakukan kampanye dengan cara begini.



Maaf, jika definisi “partai politik” dalam benak Anda berbeda dengan kami. Hemat kami, parpol hanyalah satu dari sekian banyak sarana yang dapat digunakan, mulai dari memberantas korupsi, menyusun regulasi, mendukung agenda pengentasan kemiskinan, sampai advokasi terhadap perjuangan rakyat Palestina. Partai kami tidak banyak duit, sehingga kami tidak bisa mendulang suara dengan cepat lewat jalur money politic. Kami tidak menjanjikan uang atau nasi bungkus kepada kader-kader kami untuk berkumpul di sekitar Bundaran HI. Mereka datang jauh-jauh dari Depok, Bogor, bahkan Cimahi dan Majalengka, murni dengan biaya sendiri. Mereka rogoh kantung sendiri untuk datang dan menunjukkan pada saudara-saudaranya di Palestina bahwa di negeri ini masih banyak yang peduli dengan nasib mereka. Mereka bahkan diinstruksikan untuk membawa bekal sendiri, meskipun alhamdulillaah sebagian besar berhasil mengkoordinir konsumsi bersama.



Inilah ikatan yang lebih kuat daripada kewarganegaraan, ikatan perjanjian, ataupun pertalian darah. Aqidah-lah yang membuat mereka mengesampingkan semua agenda pada hari itu demi membela saudara-saudaranya yang mati dibunuh dan hidup ditindas. Aqidah-lah yang membuat jarak sebentang samudera bagaikan hanya sejarak uluran tangan saja. Mereka adalah saudara-saudara kami. Orang tua mereka adalah orang tua kami, dan anak-anak mereka adalah anak-anak kami. Betapa pedih hati ini memikirkan penderitaan mereka, dan betapa menderita hati kami karena begitu sedikitnya bantuan yang bisa kami berikan.



Maaf, barangkali pikiran kami memang demikian terlena dengan korban yang terus berjatuhan di Palestina. Ketika diminta berkumpul, kami pun menjawab panggilan itu. Menggunakan atribut partai adalah refleks, karena memang kami adalah kader partai. Banyak juga kader yang tidak punya atribut partai dan datang seadanya. Tapi tak mengapa, karena memang kami tidak mementingkan atribut. Itu hanya refleks semata, sekedar untuk menunjukkan identitas. Memang pikiran kami terfokus penuh kepada Palestina, sehingga lupa pada aturan Pemilu. Pasalnya, partai kami ini memang tidak hanya sibuk menjelang Pemilu. Bagi kami, Pemilu hanyalah satu dari sekian banyak hal dalam agenda partai. Kampanye kami tidak mesti dengan bendera dan pengerahan massa, melainkan yang utama adalah dengan pemikiran dan prestasi. Semua orang tahu siapa kami.



Maaf, saat itu kami memang tak pernah kepikiran tentang Pemilu. Bukan sekali ini saja kami mengerahkan sekian ribu kader untuk mendukung Palestina. Jika 7% pemilih pada tahun 2004 yang lalu memilih PKS, maka kami ingin semua orang tahu bahwa yang 7% itu semuanya mendukung Palestina. Itulah manfaat atribut bagi kami, lainnya tidak. Palestina menyita banyak sekali ruang pikiran kami, sehingga perebutan suara di Pemilu esok hari terlupakan begitu saja. Maaf jika hal ini barangkali sulit dipercaya, namun demikianlah adanya. Anda tahu siapa kami.



Maaf, kebanyakan diantara kami memang tak bisa memberikan rumah bertingkat, mobil mewah, atau sekolah keluar negeri bagi anak-anak dan istri kami. Namun kami berusaha sebisanya untuk menjaga kehangatan keluarga. Kami ikat keluarga kami, bukan hanya dengan ikatan keluarga, melainkan juga dengan aqidah. Ayah, istri, dan anak-anak, semuanya turut mendukung dakwah. Karena mendukung Palestina adalah tuntutan aqidah, maka kami tak sempat lagi memikirkan Pemilu dan segenap aturannya. Mungkin jika Anda melepaskan sejenak kacamata politik konvensional yang selalu Anda kenakan itu, Anda akan paham apa yang kami jelaskan ini.



Maafkan pula jika reaksi kami berbeda dengan persangkaan orang banyak. Anda punya kekuatan hukum dan politik untuk menjebloskan para qiyadah kami ke penjara, tapi Anda takkan punya kuasa untuk memadamkan api dakwah. Anda semestinya belajar dari Mesir, Turki, atau Palestina; negeri-negeri di mana dakwah tidak pernah (dan takkan) punah. Kami bukan partai picisan yang hilang akal jika qiyadah kami dipenjara atau dibunuh sekalipun, dan qiyadah kami bukanlah aktifis kemarin sore yang terkencing-kencing ketakutan diancam dengan terali besi. Buya Hamka, Sayyid Quthb, Ahmad Yassin dan banyak mujahid lain telah mengikuti jejak Nabi Yusuf as. yang tak berhenti berkembang dari balik jeruji. Jika Allah menghendaki para ulama untuk masuk penjara, itu artinya mereka dipanggil untuk menyendiri bersama-Nya. Insya Allah ketika sudah lulus dari ‘madrasah penjara’, mereka telah berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih perkasa dan jauh lebih menyeramkan di mata musuh-musuh Allah.



Maaf, kami memang beda. Tapi kami meminta maaf bukan karena berbeda, melainkan karena belum berhasil membuat Anda mengerti. Semua orang tahu siapa kami. Anda pun pasti tahu. Adakalanya kami berbuat kesalahan, lupa dan lalai, namun hal itu tentunya tak sampai membuat orang lupa siapa kami ini sebenarnya. Kami takkan berhenti memperjuangkan apa yang selama ini kami perjuangkan, dan melawan apa yang selama ini kami lawan. Namun kami janji, lain kali akan lebih waspada terhadap tipu daya.



wassalaamu’alaikum wr. wb.

akmal.multiply.com

Jumat, 02 Januari 2009

Replacement

Replacement menurut kamus adalah penggantian. Ini berarti ada yang digantikan dan yang menggantikan. Untuk PNS yang telah pensiun akan digantikan dengan yang baru diangkat. Dalam pabrik, shift pagi akan digantikan dengan shift siang, yang kemudian digantikan pula oleh shift malam. Malam bergantian dengan pagi. Sunrise bergantian dengan sunset. Demikian seterusnya, sehingga terjadi perputaran yang seimbang. Subhanallah, hanya itu yang bisa terucap pada Yang Maha Kuasa.

Replacement terjadi secara sunatullah. Itulah yang terbaca pada Al-MAidah : 54.

Mungkin inilah yang sedang terjadi. Mereka yang tadinya sangat bersemangat menebarkan dakwah, tiba-tiba mundur untuk kemudian lenyap tanpa bekas, hanya karena seberkas kecewa. Lainnya, fenomena menghilang setelah menikah justru menimbulkan rasa 'takwa', takut walimah. Khawatir jika menikah nanti tak lagi dapat beraktivitas di lingkungan sosial, karena suami yang tidak sefikroh dan tidak memahami. Ataupun sesama aktivis, tetapi tekanan dari pihak lain menyebabkan keduanya 'mandul' lalu juga menghilang dari peredaran. Alasan lain berdakwah dalam keluarga sendiri lebih urgent lalu terlupa pada dakwah sosial, yang sama urgentnya.

Apapun alasannya, ketidakterlibatan mereka akan Allah gantikan dengan kelompok lain yang lebih baik lagi. Ada atau tidak ada mereka dakwah akan terus berjalan, meski pendukungnya hanya sedikit. Namun sungguh rugi jika tidak turut serta dalam barisan ini.

Meskipun sunatullah, ada perasaan tidak rela jika membayangkan akan digantikan. Bukan karena serakah, sungguh bukan itu. Namun jika saya tergantikan itu berarti saya tidak lagi berada dalam barisan dakwah ini. Tidak lagi berjalan di koridorNya. Sebuah kerugian yang tiada tara.

Do'a saya, tetap bersama barisan pengganti itu. Bersama suatu kaum yang Allah mencintainya dan merekapun mencintaiNYa, yang lembut pada mukmin, yang keras terhadap kafir, dan tidak takut celaan.

Do'a saya, tetap bersama mereka hingga tergantikan oleh keterbatasan usia.




* moga mereka yang mundur hanya rehat sejenak mengumpulkan tenaga untuk kemudian maju sebagai singa Allah.




Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
(Al- Maidah : 54)

Kamis, 01 Januari 2009

Mati

Ssssttttt.......
Dengar, dengarlah.

Dia diam

Lihatlah,
Dia tak bergerak..

MAtikah?????

O jiwaku

Rabu, 31 Desember 2008

Dua Doa Untuk Palestina

assalaamu’alaikum wr. wb.


Menarik dan kadang-kadang memilukan, milis-milis kini penuh dengan berita tentang Palestina. Berita aktual tentang keadaan Palestina, terutama Jalur Gaza, bisa diakses dimana-mana. Yang seru justru perdebatan mengenai cara menyikapi kondisi di negeri itu. Entah bagaimana, umat Islam pun terbelah dalam menentukan sikap.


Mayoritas umat Islam tentu mengutuk keras kebiadaban pasukan Zionis belakangan ini. Tapi ada sebagian kecil orang yang malu-malu menentukan sikap (barangkali karena takut disebut sebagai manusia tak berperasaan). Mereka juga menyayangkan kelakuan (baca : kebinatangan) kaum Zionis, namun dengan berbagai embel-embel. Gus Dur, misalnya, sebagaimana Presiden Palestina sendiri, berpendapat bahwa HAMAS perlu mencari garis perjuangan yang tidak menggunakan cara-cara kekerasan, agar tidak dijadikan alasan oleh pihak Zionis untuk mengadakan serangan balasan. Sebagian pihak yang lain mengaku prihatin dengan keadaan di Palestina, namun menganggap bahwa keinginan umat Islam Indonesia untuk aktif membela Palestina adalah sangat tidak realistis, karena kondisi umat di tanah air pun masih awut-awutan.


Gus Dur bersama rekannya, Mahmud Abbas, agaknya tidak mengerti bahwa serangan kaum Zionis tidak ada urusannya dengan ‘balas-membalas’. Berbagai perjanjian dibuat, dan yang melanggarnya selalu sama. Kalau pun harus ada yang membalas, maka rakyat Palestina-lah yang paling berhak melakukannya, apalagi jika kita mempertimbangkan sebagian besar tanah mereka dirampas secara semena-mena oleh warga pendatang.



Gus Dur, Mahmud Abbas, dan semua orang yang tidak merasa risih bersikap mesra dengan Zionisme Internasional perlu berkenalan dengan sosok Rachel Corrie. Rachel Corrie adalah mahasiswi dari sebuah universitas di Olympia, Washington. Ia lahir pada tahun 1979, dan pada usia yang masih sangat muda telah menjadi aktifis perdamaian. Pada tahun 2003, ia mati digilas buldoser oleh tentara Zionis.


Bagi yang punya daya imajinasi cukup canggih, silakan renungkan sendiri apa yang dialami oleh gadis ini. Ia terlibat aktif dalam aksi-aksi perdamaian di Palestina. Suatu hari, ia menghalangi buldoser Zionis yang hendak menggusur sebuah rumah milik warga Palestina. Apakah pengemudi buldoser itu merasa ragu karena dihadang oleh seorang aktifis warga negara sekutunya, yaitu AS? Ternyata tidak! Buldoser itu maju dan menggilas Rachel tanpa ampun, kemudian mundur kembali seolah sengaja hendak menggilasnya dua kali. Bisa ditebak, dada dan tengkoraknya remuk, begitu juga tulang-tulang di bagian lain di tubuhnya. Rachel Corrie masih sanggup bertahan beberapa lama dan dibawa ke rumah sakit, namun akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di sana. Itulah yang diperbuat oleh kaum Zionis kepada warga negara sekutunya. Jangan tanya apa yang akan mereka lakukan pada musuh-musuhnya!


Mereka yang berpikiran “lebih baik mengurusi negara sendiri yang belum mapan sebelum mengurusi negara lain” kedengarannya memiliki ide yang sangat realistis, namun sebenarnya sangat lemah. Dalam bukunya yang beredar di Indonesia dengan judul Fikih Prioritas, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi mengatakan bahwa mengumpulkan dana untuk Palestina sifatnya sangat urgent, karena nyawa mereka benar-benar terancam. Sesungguhnya, pergi berhaji tidaklah urgent, karena ibadah itu bisa ditunda di tahun-tahun berikutnya. Kalau saja semua orang berpikiran demikian, dan mengumpulkan tabungan hajinya untuk mengusir penjajah Zionis, barangkali Palestina sudah merdeka sejak bertahun-tahun yang lalu.



Prinsip “mapan dulu, baru membantu orang lain” juga pada prakteknya tidak realistis. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk membantu orang lain kalau sudah mapan. Mapan atau belum mapan, ada bagian dari harta kita yang merupakan hak orang yang lebih membutuhkannya. Lagipula, sifat murah hati adalah sifat yang harus dilatih terus-menerus. Biasanya, orang yang sudah mapan akan cenderung lupa diri dan lupa membantu orang yang kesusahan. Orang yang membiasakan diri menjadi dermawan ketika susah pun bisa lupa daratan ketika sudah sukses, apalagi mereka yang tidak membiasakan diri.


Bagaimana pun, keinginan menggebu-gebu untuk menolong rakyat Palestina cepat atau lambat akan terbentur pada sebuah pertanyaan : apa yang bisa kita perbuat? Mengirim senjata atau tentara rasanya sulit, karena kiriman itu bisa jadi akan dicegat oleh AS dan sekutu-sekutunya sebelum sampai ke daratan Palestina. Jangankan AS, Mesir pun enggan bermurah hati membuka garis perbatasan. Mengirimkan perbekalan dan obat-obatan sudah dilakukan, itu pun seringkali terhambat oleh sikap negara-negara tetangga (dan tentunya kaum penjajah juga) yang tidak mau membuka jalan. Ujung-ujungnya, banyak yang mengatakan bahwa yang bisa dilakukannya hanya memberi bantuan uang, atau bahkan hanya sekedar doa.


Baiklah, kalau memang hanya bisa menyumbang doa, insya Allah itu pun tak mengapa. Tapi doa yang seperti apakah?



Kondisi Palestina memang memilukan, dan doa yang tersebar pun biasanya menunjukkan rasa pilu dalam hati. Tidak ada yang salah, karena setiap Muslim memang seharusnya merasa pilu melihat saudara seimannya menderita. Dalam suasana pilu itu, kebanyakan orang mendoakan keselamatan umat Islam Palestina, ketabahan hati mereka yang ditinggalkan oleh anggota keluarganya, dan agar amal ibadah para syuhada diterima di sisi-Nya.



Mungkin ada baiknya kita menambahkan dua jenis doa lainnya untuk melengkapi doa semacam yang di atas. Umat Islam Palestina telah membuktikan ketangguhannya. Mereka mampu survive dari salah satu penjajahan paling sadis yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia yang telah berlangsung puluhan tahun. Ketabahan hati sudah pula mereka tunjukkan. Adapun diterimanya amal ibadah para syuhada, itu sudah dijamin oleh Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu kala. Kita tidak perlu mengkhawatirkan para syuhada, karena kondisi mereka jauh lebih baik daripada kita yang belum tentu mendapat gelar syahid.


Yang kurang adalah ketegasan sikap. Banyak diantara kita yang masih mendoakan perdamaian di Palestina, dalam arti munculnya perdamaian antara umat Islam dengan kaum Zionis. Inilah yang terlalu mengada-ada, karena kaum Zionis memang tak pernah menginginkan perdamaian. Bahkan umat Yahudi yang menentang Zionisme pun berpendapat bahwa ideologi Zionisme hanya akan menimbulkan pertumpahan darah yang abadi. Selama masih ada Zionisme, takkan ada perdamaian. Rakyat Palestina pun tidak berharap akan hidup damai dengan pihak penjajah. Mereka ingin kaum Zionis pergi. Karena itu, bukan perdamaian (dalam arti berdamai dengan Zionis) yang harus didoakan, melainkan hancurnya Zionisme Internasional. Konkretnya, slogan “save Palestine” semestinya dilengkapi dengan slogan “destroy Zionism!”, karena Palestina takkan hidup tenang selama Zionisme masih ada. Salah satu diantara mereka harus lenyap dari muka bumi, dan umat Islam semestinya tak bingung menentukan pihak mana yang harus dienyahkan.


Hal kedua yang harus kita ikut sertakan dalam doa kita adalah hal yang tidak kalah pentingnya, yaitu agar Allah SWT membuka hati saudara-saudara kita di Timur Tengah. Dalam sebuah bukunya, M. Natsir pernah mengatakan bahwa kaum Zionis bisa menang karena mereka satu, dan umat Islam kalah karena berbilang. Sungguh ironis jika Palestina harus bersimbah darah hanya karena negara tetangga tak mau membuka perbatasan agar rakyat Palestina bisa menyelamatkan diri, atau negara-negara Islam menutup perbatasan bagi para mujahid yang ingin membantu, atau negara-negara juragan minyak yang kaya raya yang hanya bisa menyampaikan salam keprihatinan, atau excuse murahan seperti “Negeri sendiri belum mapan, buat apa mengurusi negara lain?”, dan alasan-alasan konyol lainnya. Paling tidak, jika memang rakyat Palestina mesti berjuang sendirian, umat Islam lainnya tak perlu menjadi penonton yang banyak berapologi, apalagi menghalang-halangi perjuangan mereka.


wassalaamu’alaikum wr. wb.



http://akmal.multiply.com

Menunggu.......

Bismillah...


Menunggu.....satu kata yang bagi sebagian orang menimbulkan rasa jenuh, bosan, kesal, lelah hingga kadang memunculkan keputus-asaan.
Menunggu antrian,
Menunggu panggilan kerja,
Menunggu jodoh,
Menunggu kelahiran,
Menunggu gajian,
Menunggu kesembuhan,
Menunggu.....
Menunggu.....
dan Menunggu....

Kita semua pernah menunggu, dan tak sabar untuk mengakhirinya. Namun ada satu hal yang kita sangat sabar menunggunya, bahkan tak ingin ia berakhir. Hanya segelintir orang yang sangat rindu mengakhirinya. Karena ujung penantian itu adalah isyarat ia akan bertemu dengan yang dicintai dan dikasihinya. Mereka adalah orang-orang mulia yang tak mengharap pujian di dunia atas semua kebaikannya.......


: Menunggu Kematian......



Robbi, jadikanlah hamba termasuk orang yang merindu bertemu dengan-Mu

Sabtu, 27 Desember 2008

Dan Allah pun Jadi Terdakwa

Tidak hanya dalam musibah berskala nasional saja saya selalu mendengar pernyataan seperti itu, tapi di setiap urusan kecil sehari-hari sama saja, pernyataan yang keluar itu itu juga.
Pernah saya menghadiri pesta pernikahan sepupu istri saya di desa. Saya datang tepat jam 10:00 sesuai jam yang tertera pada undangan. Kemudian satu demi satu para undangan berdatangan, sampai jam 12:00 semua undangan sudah hadir, tapi ijab belum dilaksanakan. Ternyata menunggu kiai yang akan memberikan ceramah. Kiai dari Jombang. Setelah datang dengan santainya kiai itu berkata “Panjenengan sedanten kedah sabar, kulo dateng telat meniko inggih sampun kersanipun Gusti Allah”. Coba pikir, dengan ditetapkannya undangan pada jam 10:00 semestinya tamu-tamu sudah bisa pulang sebelum zuhur, dan bisa sholat jama’ah di masjid. Tapi gara-gara kiai kurang ajar itu, terpaksa para tamu tidak bisa melaksanakan sholat zuhur berjama’ah. Apa itu maunya Allah? dia bilang itu maunya (kersanipun) Gusti Allah. Benar-benar kiai kurang ajar.
Kalau ada yang gagal dalam ujian SPMB atau gagal dalam audisi Indonesian Idol atau terkena eliminasi, maka yang diucapkan adalah “Mungkin ini adalah pilihan terbaik yang diberikan Allah kepada saya”.
Ini juga sering dilontarkan oleh selebriti yang belum punya anak “Kami belum diberi oleh yang diatas”.
Ada juga peristiwa yang sering terjadi di negeri kita ini, seorang pedagang kecil yang merasa sudah bekerja keras membanting tulang, pergi pagi pulang petang, ternyata uang yang didapat belum mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya. Istrinya marah-marah, tapi sang suami dengan merasa tawakkal berkata “Rejeki yang diberikan Allah untuk kita hari ini ya segini ini bu, ya kita terima saja”, karena menyebut-nyebut nama Allah akhirnya si istri terpaksa menahan marahnya. Apalagi keesokan harinya si istri mendapat nasihat dari Bu Nyai setelah curhat, begini nasihatnya “Sabar bu, rejeki sudah ada yang ngatur” atau “Diterima saja bu, tiap orang sudah punya jatah rejeki masing-masing”.
Masalah jodoh juga demikian, semua orang beranggapan bahwa pasangan hidup kita itu adalah orang yang sudah dijodohkan oleh Allah kepada kita. Allah yang menentukan kapan kita mendapatkan jodoh, siapa jodoh kita, dimana ketemunya, semua Allah yang menentukan.
Masalah kematian. Pemahaman yang beredar adalah bahwa semua orang sudah ditentukan kapan matinya, berapa usianya, dimana matinya. Sesehat apapun orang itu, pendek kata tidak ada satu faktorpun yang menyebabkan orang itu mati, tapi jika sudah saatnya mati maka orang itu pasti mati.
Memang benar Allah itu Maha Pengatur, tapi bagaimana Allah mengatur? kalau melihat pernyataan-pernyataan diatas jelas terbaca bahwa Allah adalah penentu atas segala hal yang terjadi. Allah dianggap sebagai dalang dan manusia adalah wayang. Itu semua adalah pemahaman sesat. Betapa kita selama ini telah menempatkan Allah sebagai terdakwa atas kegagalan, kecelakaan, kematian, musibah, dll. Secara tidak langsung kita telah menyatakan bahwa jika seseorang menjadi koruptor atau maling, maka itu adalah Allah yang menentukan. Coba kiai Jombang itu, seandainya dia kemalingan maka berarti bisa saja si maling berkata “Mbah kiai kedah sabar, kulo nyolong barang penjenengan meniko inggih sampun kersanipun Gusti Allah”.
Mari kita bertaubat, jangan lagi menempatkan Allah sebagai terdakwa atas musibah atau kegagalan yang kita alami. Gagal atau berhasil itu kita sendiri yang menentukan. Dengan bersikap demikian kita tidak perlu merasa telah menganggap Allah itu tidak berkuasa menentukan gagal atau berhasilnya urusan kita, Allah sangat bisa melakukan apa saja. Seandainya Allah mau…bisa saja seseorang dibuat berhasil meskipun dia tidak becus. Seandainya Allah mau…bisa saja seseorang dibuat gagal meskipun usaha yang dilakukan sudah benar. Tapi itu tidak dilakukan oleh Allah, karena Allah ingin menguji kita. Gagal atau berhasil sepenuhnya ada di tangan kita, gunakan akal kita untuk menimba ilmu sebanyak mungkin agar kita berhasil.
Jadi Maling Atau Ulama Bukan Allah Yang Menentukan Tapi Manusia Sendiri
Kita mulai taubat kita dengan memahami bahwa Allah itu mempunyai aturan sebab-akibat yang berlaku di alam semesta ini. Aturan itu bernama sunnatullah. Kapan aturan itu mulai berlaku? wallahu a’lam, tapi yang jelas sejak mulai berlakunya sampai sekarang, aturan itu tidak berubah. Sunnatullah adalah aturan yang sempurna. Tidak perlu amandemen.
Aturan ini berupa hubungan sebab akibat yang harmonis, seimbang, tidak mungkin keliru dan pasti. Mungkin jumlah rumus sebab-akibat itu jutaan, trilyunan, bilyunan atau mungkin mencapai sebuah angka yang belum terpikirkan oleh manusia, wallahu a’lam. Semuanya tertulis di dalam sebuah kitab disisi Allah. Didalam aturan tersebut jika sebuah sebab terpenuhi maka akibat yang dituliskan pasti terjadi, pasti…tidak mungkin mbleset. Manusia tidak bisa melihat langsung rumus sebab akibat itu. Itu ilmu Allah, rahasia Allah. Jika semua daun dibumi ini dijadikan kertas dan laut dijadikan tinta maka tidak akan cukup untuk menuliskan semua ilmu Allah. Manusia bisa mengetahui sebagian yang sangat kecil dari ilmu Allah itu melalui gejala alam dan bocoran resmi dari Allah yaitu Al-Qur’an.
Gejala-gejala itu sedikit demi sedikit ditemukan oleh manusia dan dimanfaatkan untuk banyak hal. Diantara dari gejala itu adalah jika beberapa benda dijatuhkan dari ketinggian yang sama didalam ruang hampa udara di bumi maka semuanya pasti akan menyentuh dasar ruangan secara bersamaan, meskipun berat benda-benda itu berbeda. Jika sebuah benda padat yang berat jenisnya lebih besar dari 1 kg/m3 diletakkan di air pasti benda itu tenggelam. Jika kita menghina keyakinan seseorang, maka orang itu pasti marah. Jika ada seorang laki-laki dewasa normal berduaan dengan wanita dewasa normal dan dua-duanya menggunakan pakaian yang minim atau menonjolkan kemolekan tubuh, pasti dalam diri keduanya terjadi birahi, dll. Itu adalah beberapa contoh gejala yang berhasil dipelajari oleh manusia. Sudah banyak gejala yang diketahui oleh manusia sampai saat ini.
Jadi itulah Kehendak Allah, sudah diciptakan sejak lama, yang jelas sebelum jagad raya ini diciptakan, karena jagad raya butuh aturan. Kita ini hidup mulai lahir sampai mati ya menjalankan Kehendak Allah itu, aturan Allah. Allah berkehendak jika kita begini maka kita akan jadi orang yang sehat, jika begini maka akan sakit, jika begini maka akan terjadi musibah, jika begini maka orang lain akan mengalami bencana, jika begini maka akan kaya, miskin, jadi maling, terjerumus ke dalam skandal perzinaan, dll. Nah kita sendiri yang memilih, masuk Kehendak Allah yang mana?
Ramalan Allah Pasti Terjadi
Bagaimana dengan “Rejeki, jodoh dan kematian manusia ada di tangan Allah”. Terjemahan dari kalimat itu adalah hari ini, besok dan seterusnya berapa rejeki yang kita dapatkan, itu Allah sudah tahu dan tercatat di dalam sebuah kitab. Siapa jodoh kita, ketemu dimana, tanggal berapa, dll itu Allah juga sudah tahu dan tercatat rapi. Kapan kita mati, dimana, apa penyebabnya, dll sudah tercatat semuanya di dalam sebuah kitab. Dan catatan itu pasti terjadi.
Terus bagaimana dengan penjelasan saya diatas? rejeki, jodoh dan kematian itu kita sendiri yang menentukan, kita sendiri yang milih siapa jodoh kita, kita sendiri yang memilih mau kerja keras atau bermalas-malasan, mau mencuri apa berdagang dengan jujur, kita sendiri yang menentukan berapa rejeki kita hari ini, besok dan seterusnya. Kita sendiri yang memilih mau naik kapal laut yang kelebihan muatan, atau naik pesawat yang kadaluwarsa sertifikat cek fisiknya, kita sendiri yang milih pingin mati cepat atau panjang umur.
Gimana nih? semua hal kita yang milih, tapi Allah sudah menetapkan semuanya didalam kitab dan pasti terjadi?
Jawabnya adalah semua yang dicatat didalam kitab itu adalah ramalan Allah atas apa yang akan kita pilih, bukan kemauan Allah atas semua hal yang harus kita pilih. Dan ramalan Allah pasti terjadi. Sebenarnya tidak pantas disebut ramalan, karena kita sudah terlanjur maklum bahwa ramalan itu bisa terjadi bisa tidak. Lebih pantas disebut Ketetapan Allah. Sejak kita lahir Allah sudah bisa meramal (menetapkan) kapan kita mati, siapa jodoh kita, berapa rejeki kita, dll. Kalau seorang dokter mungkin hanya bisa meramal berapa hari lagi pasien gagal ginjalnya akan mati. Maklumlah ilmu dokter itu seberapa? perumpamaannya kalau ilmu Allah itu adalah lautan, maka ilmu semua manusia jika dikumpulkan adalah sebanyak sisa air laut yang menempel di ujung jari setelah dicelupkan. BMG bisa meramal besok hujan apa tidak, para ahli ilmu perbintangan bisa menghitung dengan akurat kapan sebuah komet akan melewati bumi, tanggal, jam, menit sampai koordinatnya. Itu hanya mengandalkan ilmu yang setetes, bagaimana dengan Allah yang ilmunya Maha Luas?
Maka sangat masuk akal jika Allah tahu jodoh kita. Sudah tertulis di kitab Allah, tanggal berapa kita jadian, lamaran, menikah, siapa jodoh kita, dimana, dll. Semua itu sudah tertulis dan pasti terjadi. Dan ini bukan berarti Allah menentukan jodoh kita, semua itu terjadi atas kemauan kita sendiri, usaha kita sendiri, Allah hanya meramal.
Sangat masuk akal jika Allah tahu kematian kita, sudah tertulis di kitab Allah, tanggal dan jam berapa kita mati, apa yang menjadi penyebab kematian kita, dimana, dll. Ini juga tidak berarti Allah itu menentukan “Si Fulan mati tanggal sekian”, sekali lagi Allah hanya meramal. Kita sendiri yang menyebabkan kematian kita. Bunuh diri, ngebut di jalan tanpa haluan, berlayar dengan kapal kelebihan muatan, dll itu adalah jalan menuju kematian, dan ketika aliran darah ke otak terhenti akibat jeratan tali gantungan, jantung bocor karena tertembus pecahan kaca mobil, saluran pernafasan penuh air karena tenggelam, dll, nah saat itulah tubuh sudah tidak layak ditempati oleh roh, dan malaikat Izroil tinggal melaksanakan tugasnya.
Demikian juga dengan rejeki, kita sendiri yang menentukan berapa rupiah yang bisa kita dapatkan pada hari ini, besok dan seterusnya. Bukan Allah. Tapi Allah tahu, dan semua itu sudah tercatat di kitab Allah, dan pasti terjadi.
Kesimpulan dan Saran
Memang semua musibah yang menimpa kita akhir-akhir ini sudah tercatat di kitab Allah. Karena sudah terjadi maka saya mengatakan bahwa Tsunami di Aceh dan Pangandaran, gempa di Bantul, lumpur Porong, jatuhnya Adam Air, matinya Alda Risma…semuanya sudah dicatat oleh Allah sejak lama, bahkan mungkin sejak diciptakannya bumi, wallahu a’lam. Berikutnya apa yang akan terjadi? hanya Allah yang tahu dengan pasti, bagi kita…semua adalah pilihan yang harus kita tentukan, bahkan berdiam diri didalam goa sampai mati adalah juga pilihan. Dan semuanya berujung pada resiko baik atau buruk bagi diri sendiri, orang lain dan alam sekitar.
Saran saya adalah, bacalah Al-Qur’an karena itu adalah bocoran resmi dari Allah. Jika Allah memerintahkan kita berbuat sesuatu, pasti ada kebaikan diujungnya. Jika Allah melarang kita berbuat sesuatu, pasti ada keburukan diujungnya. Pelajarilah tanda-tanda kekuasaan Allah seperti yang sudah dilakukan oleh Newton, Thomas Alfa Edison, Galileo, Plato, Archimides, dll agar kita bisa memanfaatkannya untuk memelihara bumi ini sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Allah kepada kita.


generasighuraba.multiply.com