Rabu, 18 Februari 2009

ZULHAMLI ALHAMIDI YANG BELIAU KENAL

ZULHAMLI ALHAMIDI YANG SAYA KENAL

Sudah belasan tahun saya mengenal sosok dan pribadi Zulhamli Alhamidi tanpa pernah menemukan kesalahannya sedikitpun kecuali satu kali ini saja. Saya prihatin dan bertanya-tanya apakah manusia memang tidak boleh khilaf suatu saat? Tulisan ini saya niatkan dalam rangka memenuhi salah satu hak-hak ukhuwwah beliau sebagai saudara saya sesama muslim.

Uda Zul, begitu panggilan akrabnya di kalangan anak-anak Rohis sejak jadi aktivis da’wah di kampus UNJA. Saya pun sekampus dengan beliau, cuma saya FE 93 sedangkan beliau Fapet 94. Tapi sejak sama-sama ngantor di Fraksi PKS, saya ikut memanggilnya Uda Zul karena memang usia beliau lebih tua 1 tahun dari saya. Saya juga satu majelis ta’lim dengan istri beliau, Mbak Lisa.

Da Zulhamli adalah anggota dewan paling miskin di DPRD Kota Jambi menurut ekspos LHKPN versi BPK tahun 2004 dengan asset pribadi ‘hanya’ Rp.3,5 juta saja (diikuti 3 rekan F-PKS lainnya yang sama-sama termasuk paling miskin, selain mas Hizbullah). Berita itu juga bikin polemik di koran lokal saat itu, karena Uda Zul memang sangat sederhana. Selain masih tinggal numpang di rumah mertua walau sudah punya 2 anak, Da Zul juga punya motor ‘butut’ yang selalu menemaninya ke manapun. Bahkan motor tua milik Da Zul sempat menginspirasi saya untuk bikin puisi (maaf file-nya belum ketemu). Dan motor tuanya itu sempat patah jadi dua saat suatu malam beliau ditabrak oleh pemuda yang sedang ngebut di dalam gang dalam perjalanan beliau menuju tempat Mabit ikhwan.

Ada dua momen yang paling berkesan tentang Da Zul dalam interaksinya dengan saya. Pertama, saat suatu hari saya datang ke Fraksi pagi-pagi dalam keadaan sangat lapar dan lemah karena tidak makan malam dan belum pula sarapan padahal saya sedang hamil. Dalam keadaan pusing dan gemetar karena benar-benar tak sanggup berdiri dan melangkah kuatir mendadak pingsan, Uda Zul tiba-tiba muncul di Fraksi. Saya sempat sungkan dan malu ingin meminta tolong Uda Zul memesan makanan ke kantin, tetapi pandangan mata saya sudah mulai agak gelap. Akhirnya dengan suara agak pelan, terucap juga permintaan tolong itu ke Da Zul. Saya pikir kalau saya akhirnya pingsan, bukankah Da Zul juga yang repot? Saya sangat merasa kurang sopan menyuruh seorang bapak dua anak, apalagi dengan level kaderisasi lebih tinggi dari saya, melakukan hal sepele seperti beli sesuatu ke kantin. Tapi alhamdulillah Da Zul benar-benar membantu saya pagi itu.

Yang kedua, saat polemik Pansus Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Penerapan PP.41/2007 di mana saya dipercaya menjadi Ketua Pansus di DPRD Kota Jambi. Posisi saya sangat sulit waktu itu, dilematis. Kesediaan Da Zul menjadi juru bicara Pansus, membacakan hasil kesimpulan Pansus di Rapat Paripurna walaupun berbeda pendapat dengan sikap akhir (stemmotivering) Fraksi PKS, sangat saya hargai. Pansus maunya ada penghematan anggaran melalui perampingan dinas sehingga sepakat dengan 9 Dinas saja dari Formasi 13 Dinas yang ada. Tetapi PKS pada menit-menit terakhir setelah masa lobi yang cukup alot, justru fix di formasi 14 Dinas mengikuti Golkar sebagai rekan koalisi Pilwako saat itu. Saya dan Da Zul sebetulnya utusan Fraksi yang tidak terlalu sepakat dengan hasil kesimpulan Pansus, tetapi toh khalayak juga taulah sikap pribadi kami tentu berafiliasi ke sikap akhir Fraksi PKS.

Beliau sosok yang pendiam, hanya bicara jika perlu saja. Dia orang yang sensitif, mudah tergugah hati. Da Zul pernah pingsan dalam suatu muhasabah sewaktu ada Dauroh Aleg PKS di Bengkulu. Da Zul juga pernah tiba-tiba menangis saat pidato membacakan Pandangan Umum Fraksi PKS saat santer menolak rehab gedung DPRD yang bakal menghabiskan dana APBD belasan miliar rupiah. Dan sehari setelah musibah dirinya dirazia di panti pijat itu, Da Zul juga 2 kali pingsan sebelum akhirnya datang ke DPW PKS Jambi untuk menghadapi konfrensi pers, lalu menyatakan mundur dari DPRD Kota Jambi sekaligus mundur dari pencalegannya di Dapil Jambi Timur-Pelayangan.

Jabatan terakhir Da Zul di DPRD Kota Jambi selain beliau adalah Wakil Ketua Fraksi PKS, beliau akhir Desember 2008 kemarin baru menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Ketua Komisi B. Di struktur partai, beliau adalah salah seorang Ketua Bidang di DPW. Beliau juga aktif di berbagai kegiatan di DPD dan DPC.

Saya tidak melihat ada gaya hidup yang berubah signifikan setelah Da Zul menjadi Aleg. Hingga saat ini beliau dan keluarganya masih ngontrak rumah sederhana di Talang Banjar (karena ada tuntutan Aleg PKS harus tinggal di Dapilnya). Di rumahnya pun tidak ada barang mewah. Selain motor tuanya itu, hanya tampak satu lemari penuh buku, televisi di ruang keluarga, room set anak-anak dan seperangkat kompor gas di dapur si ummi. Tidak ada sofa di sana, boro-boro koleksi keramik mewah!! Tamu yang datang terpaksa duduk lesehan di atas karpet sederhana. Kalaupun Da Zul sesekali bawa mobil Carry edisi lama, itu sebetulnya mobil milik mertuanya, kadang-kadang dipakai untuk menjemput anak-anaknya: Ainun, Ahmad dan si kecil Aziz.

Uda Zul memang sangat gemar olahraga Badminton seperti bapak-bapak anggota dewan yang lain. Kantor kami memang punya gedung olahraga sendiri, sehingga keluarga besar DPRD Kota bisa leluasa memanfaatkan waktu luang di situ. Di kantor, teman-teman Fraksi lain mengakui Da Zul cukup lihay main bulu tangkis ini. Mungkin saking semangat, badan Uda Zul sering pegal-pegal, saya yakin bapak-bapak sparing partner dia juga begitu jika terlalu menguras energi. Diakui oleh rekan-rekan sejawat, kalau pegal mereka kadang mampir rame-rame ke Panti Pijat Sehat Bersih yang lokasinya cukup dekat dari kantor dan memang punya izin operasional resmi dari Pemerintah Kota. Bahkan sesekali bapak-bapak itu bawa istri mereka sekedar pijat refleksi karena memang pengunjung laki-laki dan perempuan dibedakan tempat dan petugas yang melayaninya, harus sama-sama laki-laki atau sama-sama perempuan (Itulah yang saya heran mengapa pada kasus Da Zul koq justru petugasnya lain jenis? Menurut wartawan yang ikut Razia tetapi tidak ikut menjelek-jelekkan Aleg PKS di media, ada kemungkinan razia itu direkayasa. Tapi maaf saya tidak ingin buka di sini karena kuatir pencemaran nama baik pihak tertentu).

Yach… siapa sangka hobby berolahraga ini justru menjadi sandungan di belakang hari. Mungkin Allah ingin mengingatkan bahwa ada tupoksi Aleg yang lebih penting daripada sekedar riyadhoh. Wallohu a’lam.

Yang pasti, kinerja dan keikhlasan Uda Zul dalam beramal jauh lebih baik dibandingkan saya. Apa yang telah terjadi atas Da Zul adalah pertanda Allah masih sayang sama beliau, Allah mungkin sedang mempersiapkan rencana yang lebih baik untuk beliau dan keluarganya.

Tetapi terus terang kami di Fraksi belum siap kehilangan… Seseorang yang pergi begitu saja karena media lokal, nasional, cetak, elektronik, bahkan internet secara sistematis telah terlanjur membunuh karirnya tanpa ampun sampai beliau sangat malu dan tak punya muka lagi untuk sekedar datang ke kantor. Padahal tidak ada Perda dan aturan KUHP / KUHAP yang beliau langgar saat peristiwa di Panti Pijat itu. Beliau sedang pijat tradisional di tempat resmi dan petugas resmi, tidak ada asumsi razia yang dia langgar tapi Satpol PP dan Poltabes – dengan alasan mengamankan Pejabat Daerah – telah menggiring publik menuduh dia berbuat mesum dengan pemijat. Astaghfirullah… Kasihan Uda Zul. Sebagai kader Partai Da’wah, Dewan Syari’ah PKS lebih berhak menilai sejauh mana kesalahan beliau. Dan inisiatif pengunduran diri dari DPRD maupun dari pencalegannya di Pemilu 2009 adalah sebuah inisiatif yang patut dihormati. Bahkan itu sebetulnya masih terlalu berlebihan.

Kali terakhir saya bertemu dengan Uda Zul di DPRD – subhanalloh saya rasanya mau nangis lagi… - kami berlima duduk bersama di Fraksi PKS di Lantai 2, ngumpul saja karena Jum’at pagi itu tidak ada agenda rapat. Bang Dede sedang ngonsep Pandangan Umum RPJP di laptop, Mas Hiz baca koran, saya baca majalah Ghoib buat persiapan ngisi Rohis sejam lagi, sedangkan Bang Zay seingat saya baca printout PP.8/2008. Lalu Uda Zul? Dia serius memperhatikan HP-nya menyetel tilawah Qur’an (kalo gak salah, surat Al.Anfaal, taujih robbani yang paling mengena jelang Pemilu 2009). Murottal itu distel Da Zul agak keras sehingga saya yakin terdengar dari lantai bawah ruang Fraksi. Dan kami berlima cukup lama saling diam menyimak ayat-ayat Allah di sela kegiatan masing-masing, sampai menjelang jam 11 siang saya pamit duluan mau ke SMA 5….

Ah, Da Zul!! Ketika saya menjenguk ke rumahnya pasca pemberitaan itu untuk bertemu dengan istrinya (Mbak Lisa), hanya sekilas saya lihat Da Zul membukakan pintu untuk kami. Selebihnya, beliau lebih memilih masuk ke dalam. Hanya ada Mbak Lisa dan anak-anak yang menyambut kami dengan sejuta kesabaran di antara suara tertahan dan sesak di dadanya. Sementara mereka tegar, kami yang memandangi malah menangis. Sama seperti Da Zul, saya juga sudah belasan tahun mengenal Mbak Lisa sejak di Kampus, kami seangkatan 93. Selain dikenal sangat sabar dan pendiam, istri Da Zul juga seorang pekerja keras. Beliau guru SD Islam Terpadu Nurul Ilmi. Bayangkan bagaimana Mbak Lisa harus menghadapi ratusan wali murid yang bertanya-tanya tentang kejadian itu. Sementara anak-anak bertanya, “Ummi… Mengapa Abi tidak ngantor?”

Kasus razia panti pijat itu pahit banget yak!! Tidak terbayang kalau dalam sisa masa jabatan yang tinggal sekitar 5 bulan ini mendadak harus menghadapi drama voting di ruang Paripurna, sementara suara PKS kurang 1 orang… Walaupun saat ini isu pemecatan Kepala Satpol PP akibat salah ringkus di razia itu sudah disepakati oleh semua Fraksi di DPRD Kota Jambi (di sini total ada 40 kursi), kecuali Fraksi PKS memilih abstain untuk menjaga objektivitas. Saya masih tidak habis pikir, bukankah istri Kepala Satpol PP itu juga seorang akhwat PKS? Ah, otak saya masih bebal membaca situasi politis terselubung di balik penangkapan berdalih pengamanan Pejabat itu. Tapi semua respon dan dukungan dari internal DPRD Kota Jambi tidak akan mengembalikan kehidupan Da Zul seperti sedia kala. Mungkin butuh bertahun-tahun untuk pulih, entahlah.

Saya ingin katakan bahwa mungkin Uda Zul bersalah secara syari'ah (baca: berdosa) dan kasus ini sudah diambil alih DPP. Tetapi tidak layak kita ikut-ikutan memojokkan beliau. Dalam hearing Komisi A sepekan setelah kejadian itu, saya katakan kepada perwakilan Poltabes, Satpol PP, dan rombongan wartawan PWI yang hadir, "Al insaan makaanul khotho' wa khoiru khothoo-ihaa at tawwabiin." (Manusia adalah tempat berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat).

Sebagai sesama muslim, beliau adalah saudara kita yang punya hak-hak ukhuwwah dan harus kita tunaikan. Cukuplah beban vonis sosial yang ditanggungnya. Ingatlah istri dan anak-anak serta keluarga besar beliau ikut menanggung apa yang dirasakan Uda Zul. Sementara apa yang sudah kita lakukan hari-hari ini? Apakah memang kita merasa lebih baik akhlaqnya dibanding beliau? (Terutama untuk saya pribadi dan 1112 Aleg PKS se-Indonesia, kiranya lebih berhati-hati terhadap potensi jebakan dari lawan-lawan politik)

Wallohu a'lam.


http://pur76.multiply.com/journal/item/37/ZULHAMLI_ALHAMIDI_YANG_SAYA_KENAL

Rabu, 04 Februari 2009

Duhai Allah...

Duhai Allah....
Pemilik segala alam raya
kepadaMu bermuara do'a
kepadaMu bermuara cinta

duhai Allah...
hanya kepadaMu daku mengadu
kuberdo'a hanya kepadaMu
ya Allah jangan tinggalkan daku

duhai Allah Yang Kuasa
cahayaMu mulia alangkah indahnya
terangi hati yang lama resah
tentramkan jiwa yang gelisah

duhai Allah
rinduku biru hanyalah milikMu
dekatkanlah daku denganMu
ya Allah jangan tinggalkan daku

duhai Allah Yang Kuasa
cintaMu mulia alangkah indahnya
sirami hati yang lelah resah
teduhi jiwa yang gelisah


Allah....meski hanya setitik izinkan aku mencintaiMu

Maka nikmat-Ku yang mana lagi engkau dustakan?

Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukazzibaan.....
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah engkau dustakan?


Sungguh...nikmat manakah yang engkau dustakan?

Senin, 19 Januari 2009

KETIKA ALLAH BERKATA TIDAK

(Sebuah Renungan)
* Ya Allah ambillah kesombonganku dariku.
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
* Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
* Ya Allah beri aku kesabaran.
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
* Ya Allah beri aku kebahagiaan.
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri."
* Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan.
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."
* Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
* Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku.
Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti !"
RENUNGAN
Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.
Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali -- orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.
Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat dan selalu kekurangan
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil).
Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "RASA MALAS BERSUJUD" dan "demam DUNIA"....dan teruslah berdoa.
Jika engkau berduka karena dosa, ingatlah pada tobat.
Jika engkau mencari harta, ingatlah pada pertanggungjawaban amal di akhirat.
Jika engkau menghadapai hidangan, ingatlah pada orang yang kelaparan.
Jika sebuah cobaan menimpamu, mintalah pertolongan kepadaKu dengan membaca Laa haula walla quwwata illaa billahil'aliyyil'adziim.
Jika engkau sakit, sembuhkanlah dengan sedekah.
Jika engkau tertimpa bencana, katakanlah innalillahi wa innailaihi raji'un."


KETIKA ALLAH BERKATA TIDAK

(Sebuah Renungan)
* Ya Allah ambillah kesombonganku dariku.
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
* Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
* Ya Allah beri aku kesabaran.
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
* Ya Allah beri aku kebahagiaan.
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri."
* Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan.
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."
* Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
* Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku.
Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti !"
RENUNGAN
Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.
Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali -- orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah.
Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.
Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat dan selalu kekurangan
Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil).
Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "RASA MALAS BERSUJUD" dan "demam DUNIA"....dan teruslah berdoa.
Jika engkau berduka karena dosa, ingatlah pada tobat.
Jika engkau mencari harta, ingatlah pada pertanggungjawaban amal di akhirat.
Jika engkau menghadapai hidangan, ingatlah pada orang yang kelaparan.
Jika sebuah cobaan menimpamu, mintalah pertolongan kepadaKu dengan membaca Laa haula walla quwwata illaa billahil'aliyyil'adziim.
Jika engkau sakit, sembuhkanlah dengan sedekah.
Jika engkau tertimpa bencana, katakanlah innalillahi wa innailaihi raji'un."


Sabtu, 17 Januari 2009

Maaf, Kami Beda

assalaamu’alaikum wr. wb.



Maaf, kami bukan partai murahan seperti itu. Sebelum jadi partai pun kami sudah aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan, apalagi untuk Palestina. Jauh sebelum itu, para qiyadah kami sudah menggadai nyawa demi Palestina. Bagi kami, Al-Quds bukan di seberang lautan, melainkan sejarak uluran tangan. Memang hanya sedikit yang bisa kami lakukan, namun Allah Maha Teliti perhitungan-Nya.



Maaf, seandainya yang kami lakukan tempo hari itu dianggap kampanye. Jika kampanye adalah berkumpul, hura-hura, bersorak-sorai, sambil mengenakan atribut partai, maka kami bukanlah partai yang menggantungkan diri pada hal tersebut. Kami hanyalah sekelompok hamba Allah yang sederhana dan mudah dikenali. Jangankan dengan atribut partai, tanpa atribut pun biasanya orang mudah mengenali kami.



Kata Al-Qur’an, tidak ada shibghah yang lebih kental daripada shibghah Allah. Sudah pernahkah Anda mendengar kata ini? Jika kaus putih Anda berwarna merah setelah dicelup dalam cairan pewarna merah, itulah shibghah. Iman memang letaknya di dalam hati, namun tak mungkin sepenuhnya disembunyikan. Adakalanya hati ini bangkit ‘izzah-nya dan meluap-luap sampai orang-orang bisa melihatnya dari sorot mata, gurat senyum, dan tangan yang terkepal.



Maaf, kami memang tak pernah mementingkan atribut. Atribut apa pun yang dipakai, orang bilang kami ini begitu mudah dikenali. Kami hanya berdoa, itulah shibghah Allah; yang lebih kentara warnanya daripada warna-warni lainnya.



Kami sadar bahwa kami hidup di tengah-tengah peradaban yang begitu mementingkan atribut. Dengan atribut pun media massa masih tidak adil terhadap umat Islam; seolah-olah umat ini tak pernah memeras keringat demi negara. Masih ada saja yang bilang, “Buat apa mengurusi Palestina, sementara negeri sendiri ditelantarkan?” Sebagian diantara kami berkesimpulan bahwa inilah yang terjadi jika atribut ditanggalkan. Orang tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) bahwa kami pun ikut menyumbang negeri ini dengan darah, keringat, dan air mata. Oleh karena itu, kami pun tak berani meremehkan atribut.



Maaf, pikiran kami tak pernah sampai ke tempat yang Anda-Anda bicarakan. Beberapa hari sebelum aksi itu, SMS bertebaran. Salah satu SMS yang kami terima berbunyi : “Kerahkan semua tenaga demi Palestina! Sumbangkan waktu, tenaga, suara dan hartamu untuk jihad! Ikutilah aksi demonstrasi mendukung Palestina, dari Bundaran HI sampai Kedubes Amerika pada 02/01/09! Kenakan atribut partai, tunjukkan bahwa kader PKS bulat suaranya mendukung saudara-saudara kita di Palestina!” Sebagian SMS yang lain nadanya lebih formil, namun kurang lebih seperti itu. Tak sekalipun terdengar seruan untuk mendulang suara dari melayangnya nyawa para syuhada di Palestina. Tak ada secuil pun usaha untuk menarik simpati masyarakat kepada PKS. Semua orang tahu siapa kami, dan semua orang tahu bagaimana sikap kami terhadap Palestina. Kami tidak pernah merasa perlu melakukan kampanye dengan cara begini.



Maaf, jika definisi “partai politik” dalam benak Anda berbeda dengan kami. Hemat kami, parpol hanyalah satu dari sekian banyak sarana yang dapat digunakan, mulai dari memberantas korupsi, menyusun regulasi, mendukung agenda pengentasan kemiskinan, sampai advokasi terhadap perjuangan rakyat Palestina. Partai kami tidak banyak duit, sehingga kami tidak bisa mendulang suara dengan cepat lewat jalur money politic. Kami tidak menjanjikan uang atau nasi bungkus kepada kader-kader kami untuk berkumpul di sekitar Bundaran HI. Mereka datang jauh-jauh dari Depok, Bogor, bahkan Cimahi dan Majalengka, murni dengan biaya sendiri. Mereka rogoh kantung sendiri untuk datang dan menunjukkan pada saudara-saudaranya di Palestina bahwa di negeri ini masih banyak yang peduli dengan nasib mereka. Mereka bahkan diinstruksikan untuk membawa bekal sendiri, meskipun alhamdulillaah sebagian besar berhasil mengkoordinir konsumsi bersama.



Inilah ikatan yang lebih kuat daripada kewarganegaraan, ikatan perjanjian, ataupun pertalian darah. Aqidah-lah yang membuat mereka mengesampingkan semua agenda pada hari itu demi membela saudara-saudaranya yang mati dibunuh dan hidup ditindas. Aqidah-lah yang membuat jarak sebentang samudera bagaikan hanya sejarak uluran tangan saja. Mereka adalah saudara-saudara kami. Orang tua mereka adalah orang tua kami, dan anak-anak mereka adalah anak-anak kami. Betapa pedih hati ini memikirkan penderitaan mereka, dan betapa menderita hati kami karena begitu sedikitnya bantuan yang bisa kami berikan.



Maaf, barangkali pikiran kami memang demikian terlena dengan korban yang terus berjatuhan di Palestina. Ketika diminta berkumpul, kami pun menjawab panggilan itu. Menggunakan atribut partai adalah refleks, karena memang kami adalah kader partai. Banyak juga kader yang tidak punya atribut partai dan datang seadanya. Tapi tak mengapa, karena memang kami tidak mementingkan atribut. Itu hanya refleks semata, sekedar untuk menunjukkan identitas. Memang pikiran kami terfokus penuh kepada Palestina, sehingga lupa pada aturan Pemilu. Pasalnya, partai kami ini memang tidak hanya sibuk menjelang Pemilu. Bagi kami, Pemilu hanyalah satu dari sekian banyak hal dalam agenda partai. Kampanye kami tidak mesti dengan bendera dan pengerahan massa, melainkan yang utama adalah dengan pemikiran dan prestasi. Semua orang tahu siapa kami.



Maaf, saat itu kami memang tak pernah kepikiran tentang Pemilu. Bukan sekali ini saja kami mengerahkan sekian ribu kader untuk mendukung Palestina. Jika 7% pemilih pada tahun 2004 yang lalu memilih PKS, maka kami ingin semua orang tahu bahwa yang 7% itu semuanya mendukung Palestina. Itulah manfaat atribut bagi kami, lainnya tidak. Palestina menyita banyak sekali ruang pikiran kami, sehingga perebutan suara di Pemilu esok hari terlupakan begitu saja. Maaf jika hal ini barangkali sulit dipercaya, namun demikianlah adanya. Anda tahu siapa kami.



Maaf, kebanyakan diantara kami memang tak bisa memberikan rumah bertingkat, mobil mewah, atau sekolah keluar negeri bagi anak-anak dan istri kami. Namun kami berusaha sebisanya untuk menjaga kehangatan keluarga. Kami ikat keluarga kami, bukan hanya dengan ikatan keluarga, melainkan juga dengan aqidah. Ayah, istri, dan anak-anak, semuanya turut mendukung dakwah. Karena mendukung Palestina adalah tuntutan aqidah, maka kami tak sempat lagi memikirkan Pemilu dan segenap aturannya. Mungkin jika Anda melepaskan sejenak kacamata politik konvensional yang selalu Anda kenakan itu, Anda akan paham apa yang kami jelaskan ini.



Maafkan pula jika reaksi kami berbeda dengan persangkaan orang banyak. Anda punya kekuatan hukum dan politik untuk menjebloskan para qiyadah kami ke penjara, tapi Anda takkan punya kuasa untuk memadamkan api dakwah. Anda semestinya belajar dari Mesir, Turki, atau Palestina; negeri-negeri di mana dakwah tidak pernah (dan takkan) punah. Kami bukan partai picisan yang hilang akal jika qiyadah kami dipenjara atau dibunuh sekalipun, dan qiyadah kami bukanlah aktifis kemarin sore yang terkencing-kencing ketakutan diancam dengan terali besi. Buya Hamka, Sayyid Quthb, Ahmad Yassin dan banyak mujahid lain telah mengikuti jejak Nabi Yusuf as. yang tak berhenti berkembang dari balik jeruji. Jika Allah menghendaki para ulama untuk masuk penjara, itu artinya mereka dipanggil untuk menyendiri bersama-Nya. Insya Allah ketika sudah lulus dari ‘madrasah penjara’, mereka telah berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih perkasa dan jauh lebih menyeramkan di mata musuh-musuh Allah.



Maaf, kami memang beda. Tapi kami meminta maaf bukan karena berbeda, melainkan karena belum berhasil membuat Anda mengerti. Semua orang tahu siapa kami. Anda pun pasti tahu. Adakalanya kami berbuat kesalahan, lupa dan lalai, namun hal itu tentunya tak sampai membuat orang lupa siapa kami ini sebenarnya. Kami takkan berhenti memperjuangkan apa yang selama ini kami perjuangkan, dan melawan apa yang selama ini kami lawan. Namun kami janji, lain kali akan lebih waspada terhadap tipu daya.



wassalaamu’alaikum wr. wb.

akmal.multiply.com

Jumat, 02 Januari 2009

Replacement

Replacement menurut kamus adalah penggantian. Ini berarti ada yang digantikan dan yang menggantikan. Untuk PNS yang telah pensiun akan digantikan dengan yang baru diangkat. Dalam pabrik, shift pagi akan digantikan dengan shift siang, yang kemudian digantikan pula oleh shift malam. Malam bergantian dengan pagi. Sunrise bergantian dengan sunset. Demikian seterusnya, sehingga terjadi perputaran yang seimbang. Subhanallah, hanya itu yang bisa terucap pada Yang Maha Kuasa.

Replacement terjadi secara sunatullah. Itulah yang terbaca pada Al-MAidah : 54.

Mungkin inilah yang sedang terjadi. Mereka yang tadinya sangat bersemangat menebarkan dakwah, tiba-tiba mundur untuk kemudian lenyap tanpa bekas, hanya karena seberkas kecewa. Lainnya, fenomena menghilang setelah menikah justru menimbulkan rasa 'takwa', takut walimah. Khawatir jika menikah nanti tak lagi dapat beraktivitas di lingkungan sosial, karena suami yang tidak sefikroh dan tidak memahami. Ataupun sesama aktivis, tetapi tekanan dari pihak lain menyebabkan keduanya 'mandul' lalu juga menghilang dari peredaran. Alasan lain berdakwah dalam keluarga sendiri lebih urgent lalu terlupa pada dakwah sosial, yang sama urgentnya.

Apapun alasannya, ketidakterlibatan mereka akan Allah gantikan dengan kelompok lain yang lebih baik lagi. Ada atau tidak ada mereka dakwah akan terus berjalan, meski pendukungnya hanya sedikit. Namun sungguh rugi jika tidak turut serta dalam barisan ini.

Meskipun sunatullah, ada perasaan tidak rela jika membayangkan akan digantikan. Bukan karena serakah, sungguh bukan itu. Namun jika saya tergantikan itu berarti saya tidak lagi berada dalam barisan dakwah ini. Tidak lagi berjalan di koridorNya. Sebuah kerugian yang tiada tara.

Do'a saya, tetap bersama barisan pengganti itu. Bersama suatu kaum yang Allah mencintainya dan merekapun mencintaiNYa, yang lembut pada mukmin, yang keras terhadap kafir, dan tidak takut celaan.

Do'a saya, tetap bersama mereka hingga tergantikan oleh keterbatasan usia.




* moga mereka yang mundur hanya rehat sejenak mengumpulkan tenaga untuk kemudian maju sebagai singa Allah.




Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
(Al- Maidah : 54)