Tapi knapa bangsa ini tidak sadar ya?
Banyak prestasi spektakuler Indonesia yg diketahui luar, tapi bangsa sendiri? tidak peduli...
Juara hukum international, juara peneliti muda internasional, robot internasional, juara software international, yang saingannya negara maju termasuk USA.. kmaren baru raih emas olimpiade biologi, n ini lebih spektakuler. .. Indonesia buat roket sendiri!
Roket RX-420 & CN-235 Militer: Getarkan Australia, Singapura, Malaysia
Oleh Cardiyan HIS
Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang sebenarnya. Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.
Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.
Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.
Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member "Asian Satellite Club" bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.
Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.
CN 235 Versi Militer
Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah..
Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.
Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa: “Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu
berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.
tantodikdik.multiply.com
Senin, 14 September 2009
Rabu, 19 Agustus 2009
Anak Harus Paham, Ada Agama Selain Islam
Bismillahirrahamanirrahim
Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka akanmengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Ada seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasikan kepada murid dengan satu ungkapan: “hari libur nasional”. Apa pun liburnya! Sungguh, sebuah usaha yang serius!
Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non- Muslim. Begitu tahu anak itu bukan Muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.
Tetapi ini belum seberapa. Ada peristiwa lain yang lebih memilukan. Suatu hari salah seorang muridnya mengalami peristiwa “mencengangkan”. Ia berjumpa seorang non-Muslim, yang akhlaknya sangat baik. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga menimbulkan kesan mendalam bahwa ada agama selain Islam dan agama itu baik karena orangnya sangat baik.
Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Semangat saja tidak cukup. Mendidik tanpa semangat memang membuat ucapan-ucapan kita kering tanpa makna. Tetapi keinginan besar menjaga akidah anak tanpa memahami bagaimana seharusnya melakukan tarbiyah, justru bisa membahayakan. Alih-alih menumbuhkan kecintaan pada agama, justru membuat anak terperangah ketika mendapati pengalaman yang berbeda. Beruntung kalau anak mengkomunikasikan, kita bisa meluruskan segera. Kalau tidak? Kekeliruan berpikir itu bisa terbawa ke masa-masa berikutnya, hingga ia dewasa. Na’udzubillahi min dzaalik.
Hanya Islam yang Allah Ridhai
Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak bangga dengan agamanya, sehingga ia akan belajar meyakini dengan sungguh-sungguh? Tunjukkan kepadanya kesempurnaan agama ini. Yakinkan kepada mereka bahwa inilah agama yang paling benar melalui pembuktian yang cerdas. Sesudah melakukan pembuktian, kita ajarkan kepada mereka untuk percaya pada yang ghaib dan menggerakkan jiwa mereka untuk berbuat baik. Hanya dengan meyakini bahwa agamanya yang benar, mereka akan belajar bertoleransi secara tepat terhadap pemeluk agama lain. Tentang ini, silakan baca kembali kolom parenting bertajuk Ajarkan Jihad Sejak Dini di majalah Suara Hidayatullah kita ini.
Dalam urusan akidah, ajarkan dengan penuh percaya diri firman Allah Ta’ala: “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. ” (Al-Maa’idah [5]: 3).
Melalui penjelasan yang terang dan mantap, anak mengetahui bahwa agama di dunia ini banyak jumlahnya, tapi hanya satu yang Allah Ta’ala ridhai. Baik orangtua maupun guru perlu menunjukkan kepada anak sejarah agama-agama sehingga anak bisa memahami mengapa hanya Islam yang layak diyakini dan tidak ada keraguan di dalamnya. Jika anak tidak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka dapat mengalami kebingungan mengapa hanya Islam yang Allah ridhai.
Pada gilirannya, ini bisa menggiring anak-anak secara perlahan menganggap semua agama benar. Apalagi jika orangtua atau guru salah menerjemahkan. Beberapa kali saya mendengar penjelasan yang mengatakan Islam sebagai agama yang paling diridhai Allah. Maksudnya baik, ingin menunjukkan bahwa Islam yang paling sempurna, tetapi berbahaya bagi persepsi dan pemahaman anak. Jika Islam yang paling diridhai Allah, maka ada agama lain yang diridhai dengan tingkat keridhaan yang berbeda-beda. Ini efek yang bisa muncul pada persepsi anak.
Kita perlu memperlihatkan pluralitas pada anak bahwa memang banyak agama di dunia ini, sehingga kita bisa menunjukkan betapa sempurnanya Islam. Mereka menerima pluralitas (kemajemukan) agama dan bersikap secara tepat, sebagaimana tuntunan Rasulullah. Tetapi bukan pluralisme yang memandang semua agama sama.
Berislam dengan Bangga
Setelah anak meyakini bahwa Islam agama yang sempurna dan satu-satunya yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla, kita perlu menguatkan mereka dengan beberapa hal.
Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi Muslim di dada mereka. Sejak awal kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang Muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar terhadap agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim dengan penuh percaya diri, “Isyhadu bi anna muslimun.” Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim!
Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitasnya sebagai Muslim, baik yang bersifat fisik, mental dan cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam; bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, tetapi untuk menemukan apa yang sudah ada pada generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah Saw dan sekarang nyaris tak kita temukan pada sosok kaum Muslimin di zaman ini.
Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala’ wal bara’ sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi hanya karena berpapasan dengan orang-orang kafir yang sedang berjalan dari arah lain. Bukan berarti arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita, sehingga tidak menyingkir karena gemetar. Sikap ini sangat perlu kita tumbuhkan agar kelak mereka sanggup bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Ta’ala pada Surat Al-Maa’idah ayat 54. “… bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.”
Berislam dengan Ihsan
Jika percaya diri sudah tumbuh, kita ajarkan kepada mereka sikap ihsan. Kita tunjukkan kepada anak-anak itu bagaimana seorang Mukmin dapat dilihat dari kemuliaan akhlak dan lembutnya sikap. Ada saat untuk tegas, ada saat untuk menyejukkan. Bukan untuk menyenangkan hati orang-orang kafir karena hati yang lemah dan diri yang tak berdaya, tetapi karena memuliakan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Bukankah Rasulullah berdiri menghormat ketika jenazah orang kafir diantar ke tanah pekuburan? Bukankah Shalahuddin Al-Ayyubi, salah seorang panglima yang disegani dalam sejarah Islam, memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik dan penuh kasih sayang ketika musuh sudah tidak berdaya?
Dorongan untuk Berdakwah
Agar anak-anak itu memiliki percaya diri yang lebih kuat sebagai seorang Muslim, kita perlu tanamkan dorongan untuk menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebenaran. Ini sangat penting untuk menjaga anak dari kebingungan terhadap masalah keimanan dan syariat. Tidak jarang anak mempertanyakan, bahkan mengenai sesama Muslim yang tidak melaksanakan sebagai syariat Islam. Misalnya mengapa ada yang tidak pakai jilbab.
Melalui dorongan agar mereka menjadi penyampai kebenaran, insya Allah kebingungan itu hilang dan berubah menjadi kemantapan serta percaya diri yang tinggi. Pada diri mereka ada semacam perasaan bahwa ada tugas untuk mengingatkan dan menyelamatkan. Ini sangat berpengaruh terhadap citra dirinya kelak, dan pada gilirannya mempengaruhi konsep diri, penerimaan diri, percaya diri dan orientasi hidup. *Wallahu a’lam bish-shawab. [Sahid/www.hidayatullah.com]
Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka akanmengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Ada seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasikan kepada murid dengan satu ungkapan: “hari libur nasional”. Apa pun liburnya! Sungguh, sebuah usaha yang serius!
Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non- Muslim. Begitu tahu anak itu bukan Muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.
Tetapi ini belum seberapa. Ada peristiwa lain yang lebih memilukan. Suatu hari salah seorang muridnya mengalami peristiwa “mencengangkan”. Ia berjumpa seorang non-Muslim, yang akhlaknya sangat baik. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga menimbulkan kesan mendalam bahwa ada agama selain Islam dan agama itu baik karena orangnya sangat baik.
Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Semangat saja tidak cukup. Mendidik tanpa semangat memang membuat ucapan-ucapan kita kering tanpa makna. Tetapi keinginan besar menjaga akidah anak tanpa memahami bagaimana seharusnya melakukan tarbiyah, justru bisa membahayakan. Alih-alih menumbuhkan kecintaan pada agama, justru membuat anak terperangah ketika mendapati pengalaman yang berbeda. Beruntung kalau anak mengkomunikasikan, kita bisa meluruskan segera. Kalau tidak? Kekeliruan berpikir itu bisa terbawa ke masa-masa berikutnya, hingga ia dewasa. Na’udzubillahi min dzaalik.
Hanya Islam yang Allah Ridhai
Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak bangga dengan agamanya, sehingga ia akan belajar meyakini dengan sungguh-sungguh? Tunjukkan kepadanya kesempurnaan agama ini. Yakinkan kepada mereka bahwa inilah agama yang paling benar melalui pembuktian yang cerdas. Sesudah melakukan pembuktian, kita ajarkan kepada mereka untuk percaya pada yang ghaib dan menggerakkan jiwa mereka untuk berbuat baik. Hanya dengan meyakini bahwa agamanya yang benar, mereka akan belajar bertoleransi secara tepat terhadap pemeluk agama lain. Tentang ini, silakan baca kembali kolom parenting bertajuk Ajarkan Jihad Sejak Dini di majalah Suara Hidayatullah kita ini.
Dalam urusan akidah, ajarkan dengan penuh percaya diri firman Allah Ta’ala: “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. ” (Al-Maa’idah [5]: 3).
Melalui penjelasan yang terang dan mantap, anak mengetahui bahwa agama di dunia ini banyak jumlahnya, tapi hanya satu yang Allah Ta’ala ridhai. Baik orangtua maupun guru perlu menunjukkan kepada anak sejarah agama-agama sehingga anak bisa memahami mengapa hanya Islam yang layak diyakini dan tidak ada keraguan di dalamnya. Jika anak tidak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka dapat mengalami kebingungan mengapa hanya Islam yang Allah ridhai.
Pada gilirannya, ini bisa menggiring anak-anak secara perlahan menganggap semua agama benar. Apalagi jika orangtua atau guru salah menerjemahkan. Beberapa kali saya mendengar penjelasan yang mengatakan Islam sebagai agama yang paling diridhai Allah. Maksudnya baik, ingin menunjukkan bahwa Islam yang paling sempurna, tetapi berbahaya bagi persepsi dan pemahaman anak. Jika Islam yang paling diridhai Allah, maka ada agama lain yang diridhai dengan tingkat keridhaan yang berbeda-beda. Ini efek yang bisa muncul pada persepsi anak.
Kita perlu memperlihatkan pluralitas pada anak bahwa memang banyak agama di dunia ini, sehingga kita bisa menunjukkan betapa sempurnanya Islam. Mereka menerima pluralitas (kemajemukan) agama dan bersikap secara tepat, sebagaimana tuntunan Rasulullah. Tetapi bukan pluralisme yang memandang semua agama sama.
Berislam dengan Bangga
Setelah anak meyakini bahwa Islam agama yang sempurna dan satu-satunya yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla, kita perlu menguatkan mereka dengan beberapa hal.
Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi Muslim di dada mereka. Sejak awal kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang Muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar terhadap agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim dengan penuh percaya diri, “Isyhadu bi anna muslimun.” Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim!
Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitasnya sebagai Muslim, baik yang bersifat fisik, mental dan cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam; bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, tetapi untuk menemukan apa yang sudah ada pada generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah Saw dan sekarang nyaris tak kita temukan pada sosok kaum Muslimin di zaman ini.
Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala’ wal bara’ sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi hanya karena berpapasan dengan orang-orang kafir yang sedang berjalan dari arah lain. Bukan berarti arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita, sehingga tidak menyingkir karena gemetar. Sikap ini sangat perlu kita tumbuhkan agar kelak mereka sanggup bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Ta’ala pada Surat Al-Maa’idah ayat 54. “… bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.”
Berislam dengan Ihsan
Jika percaya diri sudah tumbuh, kita ajarkan kepada mereka sikap ihsan. Kita tunjukkan kepada anak-anak itu bagaimana seorang Mukmin dapat dilihat dari kemuliaan akhlak dan lembutnya sikap. Ada saat untuk tegas, ada saat untuk menyejukkan. Bukan untuk menyenangkan hati orang-orang kafir karena hati yang lemah dan diri yang tak berdaya, tetapi karena memuliakan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Bukankah Rasulullah berdiri menghormat ketika jenazah orang kafir diantar ke tanah pekuburan? Bukankah Shalahuddin Al-Ayyubi, salah seorang panglima yang disegani dalam sejarah Islam, memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik dan penuh kasih sayang ketika musuh sudah tidak berdaya?
Dorongan untuk Berdakwah
Agar anak-anak itu memiliki percaya diri yang lebih kuat sebagai seorang Muslim, kita perlu tanamkan dorongan untuk menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebenaran. Ini sangat penting untuk menjaga anak dari kebingungan terhadap masalah keimanan dan syariat. Tidak jarang anak mempertanyakan, bahkan mengenai sesama Muslim yang tidak melaksanakan sebagai syariat Islam. Misalnya mengapa ada yang tidak pakai jilbab.
Melalui dorongan agar mereka menjadi penyampai kebenaran, insya Allah kebingungan itu hilang dan berubah menjadi kemantapan serta percaya diri yang tinggi. Pada diri mereka ada semacam perasaan bahwa ada tugas untuk mengingatkan dan menyelamatkan. Ini sangat berpengaruh terhadap citra dirinya kelak, dan pada gilirannya mempengaruhi konsep diri, penerimaan diri, percaya diri dan orientasi hidup. *Wallahu a’lam bish-shawab. [Sahid/www.hidayatullah.com]
Kiat-Kiat Bisinis Ala Afwan Riyadi
Bismillahirrahmanirrahim
Ada juga (sedikit) keuntungan mengikuti facebook, bisa mendapatkan ilmu yang mungkin belum diekspos di media atau blog lainnya. Kiat-kiat ini saya kumpulkan dari status-status yang beliau tulis di facebook. Menurut yang bersangkutan, masih ada kiat-kiat lainnya, tapi tunggu punya tunggu belum muncul juga, ya udah saya publishkan yang sudah ada saja, sebelum keburu lupa. Oya...saya copas sudah dengan izin beliau, silakan dibaca dan dicermati, siapa tau berhasil untuk anda, sebab kiat-kiat ini berdasarkan pengalaman pribadi beliau ^_^
Kiat Bisnis (1) :
Apakah modal bisnis yang paling berharga? --> Nama baik Anda.
Dengan kredibiltas Anda yang baik, maka tak sedikit orang berani berinvestasi dalam bisnis Anda; serta tak sedikit pula yang dengan senang hati menjadi pelanggan Anda.jadi, tidak ada namanya bisnis modal dengkul.. yang ada, bisnis modal nama. (coba Anda sodorkan dengkul anda ke orang-orang yang akan anda ajak berbisnis.... )
Nah, cukup dengan nama baik anda selama ini, bisnis anda bisa dimulai kapan saja tanpa uang anda keluar sepeser-pun.. dan dengan nama baik anda pula, biaya pemasaran akan jauh berkurang.
So, perbaiki nama baik anda. Sekarang juga!
Kiat Bisnis (2) :
Jika produk Anda murah; maka cari pembeli SEBANYAK mungkin.
Jika produk Anda mahal; maka cari pembeli SECEPAT mungkin.
ex : bisnis tabloid dengan 10.000 pelanggan amatlah minim. menjual 1 rumah selama 2 bulan belum laku juga, sangatlah membebani.
Maka dalam bisnis produk2 berharga murah (consumer goods misalnya), banyaknya pelanggan adalah kunci. karena semakin banyak pelanggan, maka semakin banyak produksi. semakin banyak produksi, maka ongkos produksi bisa dipangkas jauh.
Sedangkan dalam bisnis produk2 berharga mahal (property, mobil, dll) kecepatan menjual adalah hal utama; karena produk2 tersebut punya beban biaya rutin (perawatan, pajak dll) serta penurunan kualitas barang yang tinggi pula, berbanding lurus dengan lamanya dia "menginap" di gudang.
Kiat Bisnis (3) :
Jika sumber daya terbatas, lebih baik mancing di kolam kecil daripada di lautan luas.
Di lautan lepas, banyak sekali ikan. Dari yang kecil sampai yang besar, dan jumlahnya tak terkira. Memang saat kita memancing disana, ada kemungkinan untuk mendapat ikan yang banyak. Tapi siapkah kita dengan badai, gelombang besar, atau ikan besar yang sangat merepotkan saat "nyangkut" di kail kita?
Saat memulai bisnis, saat motto kita : yang penting laku; maka memancing di kolam kecil -- dimana kemungkinan mendapat ikan sangatlah besar -- jauh lebih safe & menguntungkan.
Kiat Bisnis (4) -- ini yang jarang dibahas nih -- :
Prive is Suicide!!!
Prive (arti bebasnya tuh mengambil laba sebelum waktunya); niatnya adalah mengambil laba yang (mungkin) ada di masa depan.
Padahal sesungguhnya, dana yang diambil adalah budget operasional, atau dana taktis yang wajib tersedia sewaktu-waktu. Saat dana tersebut diambil, bisa menyebabkan operasional akan macet (karena gak ada dananya); atau bleeding saat terjadi sesuatu diluar rencana. akhirnya perputaran bisnis akan sangat-sangat-sangat terganggu.
so, be patient, or you will die!!!
Kiat Bisnis (5) :
Cash is the King
Banyak perusahaan yang terlihat bagus dalam catatannya, namun amburadul cash flow-nya. Hal ini biasanya karena terlalu memanjakan konsumen dengan pembayaran via kredit. Akibatnya, seringkali saat kewajiban2 harus dibayarkan, dana belum terkumpul.
Untuk itu perlu dibuat berbagai fasilitas dimana konsumen akan sangat tergiur untuk membayar via cash.Di satu sisi, usahakan sedemikian mungkin, pembayaran2 dilakukan secara kredit atau bertahap; sehingga tidak mengganggu cash flow anda.
Kiat Bisnis (6) :
Jangan pilih2 cari teman.
Teman yang kaya bisa membuat hidup jadi mudah. Teman yang miskin bisa membuat hidup jadi berkah.Teman yang kaya raya; bisa diajak investasi, bisa dihutangi, kalau ada proyek bisa ngajak2 kita; minimal sekali-kali kita ditraktir makan.
Teman yang miskin; bisa jadi lahan sedekah, kadang2 kita dihutangi, bahkan kadang harus ikut menanggung beban keluarganya. Jika kita membantu kesulitan saudara kita, bukankah Allah nanti kelak akan membantu ... Baca Selengkapnyakesulitan hidup kita sendiri?
Minimal, berteman dengan si miskin akan membuat kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Rasa cukup inilah kunci untuk membuka pintu keberkahan.
* Afwan Riyadi, salah satu personel tim Nasyid Izzatul Islam (IZZIS)
Ada juga (sedikit) keuntungan mengikuti facebook, bisa mendapatkan ilmu yang mungkin belum diekspos di media atau blog lainnya. Kiat-kiat ini saya kumpulkan dari status-status yang beliau tulis di facebook. Menurut yang bersangkutan, masih ada kiat-kiat lainnya, tapi tunggu punya tunggu belum muncul juga, ya udah saya publishkan yang sudah ada saja, sebelum keburu lupa. Oya...saya copas sudah dengan izin beliau, silakan dibaca dan dicermati, siapa tau berhasil untuk anda, sebab kiat-kiat ini berdasarkan pengalaman pribadi beliau ^_^
Kiat Bisnis (1) :
Apakah modal bisnis yang paling berharga? --> Nama baik Anda.
Dengan kredibiltas Anda yang baik, maka tak sedikit orang berani berinvestasi dalam bisnis Anda; serta tak sedikit pula yang dengan senang hati menjadi pelanggan Anda.jadi, tidak ada namanya bisnis modal dengkul.. yang ada, bisnis modal nama. (coba Anda sodorkan dengkul anda ke orang-orang yang akan anda ajak berbisnis.... )
Nah, cukup dengan nama baik anda selama ini, bisnis anda bisa dimulai kapan saja tanpa uang anda keluar sepeser-pun.. dan dengan nama baik anda pula, biaya pemasaran akan jauh berkurang.
So, perbaiki nama baik anda. Sekarang juga!
Kiat Bisnis (2) :
Jika produk Anda murah; maka cari pembeli SEBANYAK mungkin.
Jika produk Anda mahal; maka cari pembeli SECEPAT mungkin.
ex : bisnis tabloid dengan 10.000 pelanggan amatlah minim. menjual 1 rumah selama 2 bulan belum laku juga, sangatlah membebani.
Maka dalam bisnis produk2 berharga murah (consumer goods misalnya), banyaknya pelanggan adalah kunci. karena semakin banyak pelanggan, maka semakin banyak produksi. semakin banyak produksi, maka ongkos produksi bisa dipangkas jauh.
Sedangkan dalam bisnis produk2 berharga mahal (property, mobil, dll) kecepatan menjual adalah hal utama; karena produk2 tersebut punya beban biaya rutin (perawatan, pajak dll) serta penurunan kualitas barang yang tinggi pula, berbanding lurus dengan lamanya dia "menginap" di gudang.
Kiat Bisnis (3) :
Jika sumber daya terbatas, lebih baik mancing di kolam kecil daripada di lautan luas.
Di lautan lepas, banyak sekali ikan. Dari yang kecil sampai yang besar, dan jumlahnya tak terkira. Memang saat kita memancing disana, ada kemungkinan untuk mendapat ikan yang banyak. Tapi siapkah kita dengan badai, gelombang besar, atau ikan besar yang sangat merepotkan saat "nyangkut" di kail kita?
Saat memulai bisnis, saat motto kita : yang penting laku; maka memancing di kolam kecil -- dimana kemungkinan mendapat ikan sangatlah besar -- jauh lebih safe & menguntungkan.
Kiat Bisnis (4) -- ini yang jarang dibahas nih -- :
Prive is Suicide!!!
Prive (arti bebasnya tuh mengambil laba sebelum waktunya); niatnya adalah mengambil laba yang (mungkin) ada di masa depan.
Padahal sesungguhnya, dana yang diambil adalah budget operasional, atau dana taktis yang wajib tersedia sewaktu-waktu. Saat dana tersebut diambil, bisa menyebabkan operasional akan macet (karena gak ada dananya); atau bleeding saat terjadi sesuatu diluar rencana. akhirnya perputaran bisnis akan sangat-sangat-sangat terganggu.
so, be patient, or you will die!!!
Kiat Bisnis (5) :
Cash is the King
Banyak perusahaan yang terlihat bagus dalam catatannya, namun amburadul cash flow-nya. Hal ini biasanya karena terlalu memanjakan konsumen dengan pembayaran via kredit. Akibatnya, seringkali saat kewajiban2 harus dibayarkan, dana belum terkumpul.
Untuk itu perlu dibuat berbagai fasilitas dimana konsumen akan sangat tergiur untuk membayar via cash.Di satu sisi, usahakan sedemikian mungkin, pembayaran2 dilakukan secara kredit atau bertahap; sehingga tidak mengganggu cash flow anda.
Kiat Bisnis (6) :
Jangan pilih2 cari teman.
Teman yang kaya bisa membuat hidup jadi mudah. Teman yang miskin bisa membuat hidup jadi berkah.Teman yang kaya raya; bisa diajak investasi, bisa dihutangi, kalau ada proyek bisa ngajak2 kita; minimal sekali-kali kita ditraktir makan.
Teman yang miskin; bisa jadi lahan sedekah, kadang2 kita dihutangi, bahkan kadang harus ikut menanggung beban keluarganya. Jika kita membantu kesulitan saudara kita, bukankah Allah nanti kelak akan membantu ... Baca Selengkapnyakesulitan hidup kita sendiri?
Minimal, berteman dengan si miskin akan membuat kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Rasa cukup inilah kunci untuk membuka pintu keberkahan.
* Afwan Riyadi, salah satu personel tim Nasyid Izzatul Islam (IZZIS)
Selasa, 04 Agustus 2009
Ibu Rumah Tangga = Ribet?????
Ibu Rumah Tangga, dulu ketika mendengar istilah ini yang terbayang adalah sekelompok ibu-ibu yang tak punya kerjaan, hobinya kumpul-kumpul dan menggosip. Pokoknya kerjaan yang nggak banget deh. Hehehe...sadis amat ya ^_^ pengaruh masa kecil yang lumayan jelek nih, punya tetangga yang hobi kumpul tiap sore, kalo anaknya berantem, emaknya juga ikutan ribut. Anaknya sudah tertawa bersama lagi, emaknya masih bawa parang (serius...ini beneran terjadi ).
Seiring berjalannya waktu, persepsi saya tentang ibu rumah tangga berubah. Melalui kajian-kajian dan seminar-seminar yang saya ikuti, saya memahami bahwa ibu rumah tangga adalah suatu pekerjaan yang teramat mulia. Sebab ibulah sekolah pertama sang anak untuk menjalani kehidupannya kelak. Dan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga perlu ilmu dan wawasan yang luas. Sama halnya seperti pekerjaan lain.
Namun kini menjadi sebuah dilema bagi saya. Benarkah menjadi seorang ibu rumah tangga berarti tidak bisa melakukan hal-hal lain karena sudah ribet dengan urusan suami dan anak? Apakah menjadi seorang ibu rumah tangga berarti sudah tidak dapat diganggu lagi untuk urusan dakwah ataupun sosial? Ibu rumah tangga, yang notabene seorang istri, tidak dapat pergi keluar rumah tanpa sang suami yang mengantar? Sudah tidak bisa lagi menjadi seorang pembicara karena tidak sempat lagi mempelajari materinya?
Sedih dan kesal, ketika mendengar seorang teman yang tidak bisa hadir dalam suatu agenda dakwah karena sang suami tidak bisa mengantarkan. Kecewa, saat sahabat lain menolak menjadi petugas bedah buku dengan alasan ribet mengurus anak. Sakit hati saat hampir semua teman seangkatan ’menghilang’ tatkala telah menikah.
Ukhuwah pun terasa sekedarnya saja. Saya akui, iman saya lah yang lemah. Sebagaimana tulisan Salim. A. Fillah, bukan ukhuwah yang hilang, tetapi iman lah yang sedang menurun. Tetapi, tidak boleh kah saya merasa merasa kesepian?
Betapa kagumnya saya pada seorang ibu (ummahat) berprofesi guru, yang tak hanya mengurus 8 orang anaknya tetapi juga mengasuh beberapa majelis ta’lim. Ummahat lain (sedang hamil anak ke-11) saat menemani suami reses, masih sempat mengkoordinir pengurus di suatu organisasi perempuan. Acungan jempol untuk seorang ummahat muda (dengan dua anak, yang masih menyusui) begitu gesit dan lincah menjadi panitia suatu acara, sementara ummahat muda lainnya hanya menjadi tamu. Juga kepada ummahat-ummahat lain, meskipun anaknya masih kecil-kecil, yang tidak menolak tugas-tugas yang dibebankan padanya.
Dalam pemahaman saya, beginilah sosok ibu rumah tangga seharusnya. Tidak hanya mengurus suami dan anak saja, tetapi juga amanah-amanah dakwah. Lantas mengapa para aktivis dakwah tersebut lebih banyak menghilang ketika telah menikah? Saya mendapatkan jawabannya dari seorang ummahat yang masih aktif dalam setiap agenda dakwah, walaupun beliau telah mempunyai dua orang anak dan terikat pada instansi pemerintah. BISA ATAU TIDAK BISA AKTIF ITU TERGANTUNG PADA HATI. Benar juga, saat ini tugas-tugas yang diberikan pada saya serasa beban, karena hati yang merasa berat dan level iman yang rendah. Saya berharap, ketika kelak telah menikah saya tak lantas menghilang. Dakwah akan tetap berlangsung ada ataupun tidak ada kita, namun sungguh rugi jika kita tidak terlibat di dalamnya.
teruntuk shabatku dan saudara seperjuanganku, barakallahu laka wa baraka'alaika wa jama'a bainakuma fii khoiir
semoga pernikahan kalian adalah 1+1 sama dengan 4 bukan 1+1 sama dengan 0
Seiring berjalannya waktu, persepsi saya tentang ibu rumah tangga berubah. Melalui kajian-kajian dan seminar-seminar yang saya ikuti, saya memahami bahwa ibu rumah tangga adalah suatu pekerjaan yang teramat mulia. Sebab ibulah sekolah pertama sang anak untuk menjalani kehidupannya kelak. Dan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga perlu ilmu dan wawasan yang luas. Sama halnya seperti pekerjaan lain.
Namun kini menjadi sebuah dilema bagi saya. Benarkah menjadi seorang ibu rumah tangga berarti tidak bisa melakukan hal-hal lain karena sudah ribet dengan urusan suami dan anak? Apakah menjadi seorang ibu rumah tangga berarti sudah tidak dapat diganggu lagi untuk urusan dakwah ataupun sosial? Ibu rumah tangga, yang notabene seorang istri, tidak dapat pergi keluar rumah tanpa sang suami yang mengantar? Sudah tidak bisa lagi menjadi seorang pembicara karena tidak sempat lagi mempelajari materinya?
Sedih dan kesal, ketika mendengar seorang teman yang tidak bisa hadir dalam suatu agenda dakwah karena sang suami tidak bisa mengantarkan. Kecewa, saat sahabat lain menolak menjadi petugas bedah buku dengan alasan ribet mengurus anak. Sakit hati saat hampir semua teman seangkatan ’menghilang’ tatkala telah menikah.
Ukhuwah pun terasa sekedarnya saja. Saya akui, iman saya lah yang lemah. Sebagaimana tulisan Salim. A. Fillah, bukan ukhuwah yang hilang, tetapi iman lah yang sedang menurun. Tetapi, tidak boleh kah saya merasa merasa kesepian?
Betapa kagumnya saya pada seorang ibu (ummahat) berprofesi guru, yang tak hanya mengurus 8 orang anaknya tetapi juga mengasuh beberapa majelis ta’lim. Ummahat lain (sedang hamil anak ke-11) saat menemani suami reses, masih sempat mengkoordinir pengurus di suatu organisasi perempuan. Acungan jempol untuk seorang ummahat muda (dengan dua anak, yang masih menyusui) begitu gesit dan lincah menjadi panitia suatu acara, sementara ummahat muda lainnya hanya menjadi tamu. Juga kepada ummahat-ummahat lain, meskipun anaknya masih kecil-kecil, yang tidak menolak tugas-tugas yang dibebankan padanya.
Dalam pemahaman saya, beginilah sosok ibu rumah tangga seharusnya. Tidak hanya mengurus suami dan anak saja, tetapi juga amanah-amanah dakwah. Lantas mengapa para aktivis dakwah tersebut lebih banyak menghilang ketika telah menikah? Saya mendapatkan jawabannya dari seorang ummahat yang masih aktif dalam setiap agenda dakwah, walaupun beliau telah mempunyai dua orang anak dan terikat pada instansi pemerintah. BISA ATAU TIDAK BISA AKTIF ITU TERGANTUNG PADA HATI. Benar juga, saat ini tugas-tugas yang diberikan pada saya serasa beban, karena hati yang merasa berat dan level iman yang rendah. Saya berharap, ketika kelak telah menikah saya tak lantas menghilang. Dakwah akan tetap berlangsung ada ataupun tidak ada kita, namun sungguh rugi jika kita tidak terlibat di dalamnya.
teruntuk shabatku dan saudara seperjuanganku, barakallahu laka wa baraka'alaika wa jama'a bainakuma fii khoiir
semoga pernikahan kalian adalah 1+1 sama dengan 4 bukan 1+1 sama dengan 0
Ini Bukan Dakwah !!!
Ini bukan dakwah, jika apa yang kita sebut kerja dakwah membuat kita lupa tilawah satu juz per hari, beralasan terlalu letih dengan semua aktivitas. Sedang kau tahu kekuatanmu bergerak berasal dari tilawahmu.
Ini bukan dakwah, jika apa yang kita selalu teriakkan -dengan lantang itu- membuat kita selalu terburu-buru lakukan shalat rawatib, bahkan tidak mengerjakannya dengan alasan rawatib hanya sebuah amalan sunnah. Padahal shalat rawatib bisa menutupi banyak ketidakkhusyukan, “diskusi-diskusi” di kepalamu pada saat melakukan shalat-shalat fardlumu. Menyempurnakannya. Kau tahu tapi kau remehkannya.
Ini bukan dakwah, jika apa yang selalu kita serukan -bersama ikhwah- membuat kita selalu saja terlewat mengerjakan qiyamul lail, mencari alasan bahwa kita telah telalu lelah “melayani umat” di siang hari. Umar Bin Khattab mengucapkan, “Jika kuisi malamku dengan tidur sungguh aku telah menyia-nyiakan jiwaku, jika kuisi siangku dengan tidur, sungguh aku telah menyianyiakan rakyatku“. Qiyamul lail adalah kekuatan Shalahuddin Al Ayyubi untuk menaklukkan semua musuhnya. Qiyamul lail adalah kekuatanmu, wahai para pengemban dakwah.
Sungguh ini sama sekali bukan dakwah! Jika dakwah membuatmu berani menunda shalat fardlu tanpa alasan syar’i, tanpa alasan yang jelas. Mengatasnamakan amal, padahal kita tahu bahwa kita seharusnya mengamalkan dalil bukan mendalilkan amal.
Ah…
Sedang kita mengharapkan pertolongan Allah swt. hadir untuk memberi kemudahan kepada kita untuk menempuh perjalanan dakwah yang panjang ini. Sedang kita mengharapkan dukungan Allah swt. hadir untuk menguatkan kita untuk meneruskan tongkat estafet dakwah yang sudah diperjuangkan para pendahulu. Sedang kita mengharapkan pertolongan dari Allah swt. untuk mendorong kita untuk terus maju menegakkan kalimatullah di muka bumi.
Akankah kemudahan, dukungan dan pertolongan itu akan datang dengan kualitas kita yang makin lama makin merosot?
Namun kita lupa bahwa kerja-kerja kita tidak boleh membuat kita jauh dari Allah swt., bahkan seharusnya kita makin dekat kepadaNYA. Makin taat kepadaNYA, makin semangat melakukan ibadah. Bukan malah menurun, bukan malah mengurangi jatah ibadah bahkan sama sekali tidak melakukannya. Ibadah itu kekuatan kita. Dakwah ini tidak hanya perlukan gerak kita, tapi butuh ruh dalam setiap gerakan kita.
Abdullah Azzam mengatakan,
“Amal Islami bukanlah aktivitas yang cukup dikerjakan di saat anda memiliki waktu luang dan bisa Anda tinggalkan saat sibuk. Tidak! Amal Islami terlalu agung dan mulia jika mesti diperlakukan begitu.”
Wallahu a’lam bish shawab….
copas from :http://jsattaubah.multiply.com/
Ini bukan dakwah, jika apa yang kita selalu teriakkan -dengan lantang itu- membuat kita selalu terburu-buru lakukan shalat rawatib, bahkan tidak mengerjakannya dengan alasan rawatib hanya sebuah amalan sunnah. Padahal shalat rawatib bisa menutupi banyak ketidakkhusyukan, “diskusi-diskusi” di kepalamu pada saat melakukan shalat-shalat fardlumu. Menyempurnakannya. Kau tahu tapi kau remehkannya.
Ini bukan dakwah, jika apa yang selalu kita serukan -bersama ikhwah- membuat kita selalu saja terlewat mengerjakan qiyamul lail, mencari alasan bahwa kita telah telalu lelah “melayani umat” di siang hari. Umar Bin Khattab mengucapkan, “Jika kuisi malamku dengan tidur sungguh aku telah menyia-nyiakan jiwaku, jika kuisi siangku dengan tidur, sungguh aku telah menyianyiakan rakyatku“. Qiyamul lail adalah kekuatan Shalahuddin Al Ayyubi untuk menaklukkan semua musuhnya. Qiyamul lail adalah kekuatanmu, wahai para pengemban dakwah.
Sungguh ini sama sekali bukan dakwah! Jika dakwah membuatmu berani menunda shalat fardlu tanpa alasan syar’i, tanpa alasan yang jelas. Mengatasnamakan amal, padahal kita tahu bahwa kita seharusnya mengamalkan dalil bukan mendalilkan amal.
Ah…
Sedang kita mengharapkan pertolongan Allah swt. hadir untuk memberi kemudahan kepada kita untuk menempuh perjalanan dakwah yang panjang ini. Sedang kita mengharapkan dukungan Allah swt. hadir untuk menguatkan kita untuk meneruskan tongkat estafet dakwah yang sudah diperjuangkan para pendahulu. Sedang kita mengharapkan pertolongan dari Allah swt. untuk mendorong kita untuk terus maju menegakkan kalimatullah di muka bumi.
Akankah kemudahan, dukungan dan pertolongan itu akan datang dengan kualitas kita yang makin lama makin merosot?
Namun kita lupa bahwa kerja-kerja kita tidak boleh membuat kita jauh dari Allah swt., bahkan seharusnya kita makin dekat kepadaNYA. Makin taat kepadaNYA, makin semangat melakukan ibadah. Bukan malah menurun, bukan malah mengurangi jatah ibadah bahkan sama sekali tidak melakukannya. Ibadah itu kekuatan kita. Dakwah ini tidak hanya perlukan gerak kita, tapi butuh ruh dalam setiap gerakan kita.
Abdullah Azzam mengatakan,
“Amal Islami bukanlah aktivitas yang cukup dikerjakan di saat anda memiliki waktu luang dan bisa Anda tinggalkan saat sibuk. Tidak! Amal Islami terlalu agung dan mulia jika mesti diperlakukan begitu.”
Wallahu a’lam bish shawab….
copas from :http://jsattaubah.multiply.com/
Jumat, 24 Juli 2009
Saudaraku, Tetaplah Bertahan Sebagai Kader Da'wah ISLAM
Bismillahirrohmanirrohiim.
Alhamdulillah, dapat taujih dari seorang kontak di MP. beliau dapat dari salah satu Ustadnya yang beliau ketikan. Taujihnya mengkokohkan.
Semoga kita istiqomah dalam da'wah ISLAM.
Oh iya, saya gubah seperlunya tanpa meninggalkan esensi pesannya.
Selamat membaca:
***
Saudaraku! Kalian adalah orang yang dipilih Allah untuk terus bersama dakwah ISLAM ini, dikala satu persatu aktivis ISLAM berguguran meninggalkan kalian dengan seabrek amanah, tapi kalian masih setia menapakkan kaki. Berjuang menepis segala rintangan, menghantam gelombang yang datang. Tegar dalam badai, kudapati pada kalian wahai aktivis kader ISLAM di PK Sejahtera.
Saudaraku! Kalian dipilih oleh Allah untuk terus berjuang lewat jalur siyasi dan bidang lainnya. Banyak suara sumbang yang merobek gendang telingamu, menghentak dan menghempaskan perasaanmu. Saya tahu banyak air mata aktivis ISLAm di PKS yang bercucuran karena hinaan dan celaan yang begitu menyakitkan. Bahkan celaan itu dari mereka yang mengerti agama.
Tapi sekali lagi kudapati dari kalian sebuah kesabaran yang begitu terang. Biarkan mereka mencela, biarkan mereka menghina, biarkan mereka mengejek, biarkan mereka menghantam dengan fitnah, biarkan mereka! Kalian tetap bekerja lillahi ta’ala! Kalian tetap bergerak bersama alunan dakwah ISLAM yang begitu indah walau kadang menghentak. Tetaplah menyemai cinta bersama dakwah ISLAM.
Aku tahu hati kalian meringis menahan rasa sakit yang begitu menyiksa. Air mata kalian pun tumpah. Siapa yang tidak sakit digelar dan difitnah sebagai ahli bid’ah. Bahkan dipertanyakan keyakinannya. Siapa yang tidak sakit ketika dihina saudara sendiri dan dipandang bahwa kita telah termakan dunia. Sabar saudaraku! Perjuangan memang butuh pengorbanan. Tentunya kalian pernah mendengar kisah Rasulullah di Thaif, saat dilempari batu oleh kaumnya. Rasulullah berdarah, namun beliau tetap sabar. Rasa kasih sayang beliau lebih besar daripada amarahnya. Subhanallah!
Apa yang kita rasakan saat ini tidaklah sebanding dengan apa yang dirasakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Bahkan mereka jauh melangit daripada kita. Mereka memang sudah pantas mereguk air telaga Al kautsar, sedang kita mencium wangi syurga saja belum pantas.
Mereka mencelamu dan mencari semua kesalahanmu sampai ke akar-akarnya, tanpa tahu kesalahan sendiri, tanpa memperbaiki diri sendiri. Kalian teruslah bergerak, Karena bergerak itu ibadah, karena bergerak itu berpahala, bergerak itu sehat, bergerak itu ada seninya, bergerak itu adalah kader ISLAM di PKS.
Mereka berteriak menghinamu seolah hanya diri merekalah yang benar. Mereka berteriak menyalahkanmu seolah kebenaran hanya miliknya. Mereka merobek gendang telingamu seolah syurga hanya miliknya.
Tetaplah bertahan sebagai kader dakwah ISLAM, wahai saudaraku...
Disinilah...di jalan inilah... insya Allah kita akan bertemu kafilah2 kader dakwah ISLAM yg telah mendapati janji-NYA dan tengah merasakan kenikmatan yg hakiki...
Taujih ustadz Fathur...menjelang maghrib
Sumber: http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/159/
Alhamdulillah, dapat taujih dari seorang kontak di MP. beliau dapat dari salah satu Ustadnya yang beliau ketikan. Taujihnya mengkokohkan.
Semoga kita istiqomah dalam da'wah ISLAM.
Oh iya, saya gubah seperlunya tanpa meninggalkan esensi pesannya.
Selamat membaca:
***
Saudaraku! Kalian adalah orang yang dipilih Allah untuk terus bersama dakwah ISLAM ini, dikala satu persatu aktivis ISLAM berguguran meninggalkan kalian dengan seabrek amanah, tapi kalian masih setia menapakkan kaki. Berjuang menepis segala rintangan, menghantam gelombang yang datang. Tegar dalam badai, kudapati pada kalian wahai aktivis kader ISLAM di PK Sejahtera.
Saudaraku! Kalian dipilih oleh Allah untuk terus berjuang lewat jalur siyasi dan bidang lainnya. Banyak suara sumbang yang merobek gendang telingamu, menghentak dan menghempaskan perasaanmu. Saya tahu banyak air mata aktivis ISLAm di PKS yang bercucuran karena hinaan dan celaan yang begitu menyakitkan. Bahkan celaan itu dari mereka yang mengerti agama.
Tapi sekali lagi kudapati dari kalian sebuah kesabaran yang begitu terang. Biarkan mereka mencela, biarkan mereka menghina, biarkan mereka mengejek, biarkan mereka menghantam dengan fitnah, biarkan mereka! Kalian tetap bekerja lillahi ta’ala! Kalian tetap bergerak bersama alunan dakwah ISLAM yang begitu indah walau kadang menghentak. Tetaplah menyemai cinta bersama dakwah ISLAM.
Aku tahu hati kalian meringis menahan rasa sakit yang begitu menyiksa. Air mata kalian pun tumpah. Siapa yang tidak sakit digelar dan difitnah sebagai ahli bid’ah. Bahkan dipertanyakan keyakinannya. Siapa yang tidak sakit ketika dihina saudara sendiri dan dipandang bahwa kita telah termakan dunia. Sabar saudaraku! Perjuangan memang butuh pengorbanan. Tentunya kalian pernah mendengar kisah Rasulullah di Thaif, saat dilempari batu oleh kaumnya. Rasulullah berdarah, namun beliau tetap sabar. Rasa kasih sayang beliau lebih besar daripada amarahnya. Subhanallah!
Apa yang kita rasakan saat ini tidaklah sebanding dengan apa yang dirasakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Bahkan mereka jauh melangit daripada kita. Mereka memang sudah pantas mereguk air telaga Al kautsar, sedang kita mencium wangi syurga saja belum pantas.
Mereka mencelamu dan mencari semua kesalahanmu sampai ke akar-akarnya, tanpa tahu kesalahan sendiri, tanpa memperbaiki diri sendiri. Kalian teruslah bergerak, Karena bergerak itu ibadah, karena bergerak itu berpahala, bergerak itu sehat, bergerak itu ada seninya, bergerak itu adalah kader ISLAM di PKS.
Mereka berteriak menghinamu seolah hanya diri merekalah yang benar. Mereka berteriak menyalahkanmu seolah kebenaran hanya miliknya. Mereka merobek gendang telingamu seolah syurga hanya miliknya.
Tetaplah bertahan sebagai kader dakwah ISLAM, wahai saudaraku...
Disinilah...di jalan inilah... insya Allah kita akan bertemu kafilah2 kader dakwah ISLAM yg telah mendapati janji-NYA dan tengah merasakan kenikmatan yg hakiki...
Taujih ustadz Fathur...menjelang maghrib
Sumber: http://mujitrisno.multiply.com/journal/item/159/
Minggu, 14 Juni 2009
Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro
RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan itu?
Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.
Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.
Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.
Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.
Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.
Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."
Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.
Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.
Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.
Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.
Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.
Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.
Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.
Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.
Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. ***
Oleh Anis Matta*
Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.
Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.
Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.
Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.
Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.
Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."
Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.
Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.
Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.
Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.
Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.
Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.
Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.
Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.
Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. ***
Oleh Anis Matta*
Langganan:
Postingan (Atom)